Maroko hampir pasti lolos ke 32 besar Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Skotlandia 1-0 dalam laga kedua Grup C di Stadion Boston, Massachusetts, Amerika Serikat, Sabtu (20/6/2026) pagi WIB. Skuad ”Singa Atlas” bermain cepat di awal laga yang berbuah gol dalam detik ke-70 melalui sepakan kaki kanan Ismael Saibari. Kemenangan ini membuka lebar jalan Maroko melangkah lebih jauh, sedangkan peluang Skotlandia lolos grup sangat tipis. Di laga lain Grup C, Brasil menang telak 3-0 atas Haiti.
Maroko kini mengumpulkan empat poin, sama dengan Brasil yang berada di puncak Grup C berkat unggul selisih gol. Adapun Skotlandia di posisi ketiga dengan tiga poin dengan selisih gol nol. Posisi terbawah ditempati Haiti dengan poin nol dengan selisih gol minus empat sehingga dipastikan pulang awal.
Maroko dalam posisi sangat solid karena laga terakhir mereka bertemu dengan tim terlemah di Grup C, Haiti, yang kembali ke panggung Piala Dunia setelah 52 tahun. Haiti belum mencetak gol dan sudah kemasukan tiga gol saat kalah 0-1 dari Skotlandia dan 0-3 dari Brasil. Di atas kertas, Maroko dengan generasi emas mereka akan mampu meraih tiga poin dari Haiti.
Sebaliknya, Skotlandia akan bertemu dengan Brasil yang memiliki para pemain agresif di lini serang. Brasil menemukan bentuk permainannya saat melibas Haiti 3-0, meningkat dibandingkan saat bermain 1-1 melawan Maroko. Namun, peluang Skotlandia untuk lolos ke babak 32 besar belum tertutup karena mereka bisa melaju dari jalur peringkat ketiga terbaik. Oleh karena itu, Scott McTominay dan kawan-kawan akan berjuang mati-matian meraih poin maksimal dari Brasil di laga terakhir pada Kamis (25/6/2026) pagi WIB.
Pelatih Skotlandia Steve Clarke menegaskan, skuadnya perlu segera memfokuskan diri pada laga penentuan melawan Brasil. Mereka sudah bermain solid melawan Maroko, tetapi penyelesaian akhir masih kurang efisien. Konsentrasi sejak awal laga juga krusial karena gol Saibari terjadi hanya dengan tiga sentuhan.
Serangan bermula dari umpan lambung pemain sayap Brahim Diaz. Bola dikontrol dengan sekali sentuhan oleh Saibari sambil berlari, kemudian disambut sepakan sisi luar kaki kanan untuk mencetak gol pada detik ke-70. Ini menjadi gol tercepat di Piala Dunia 2026 sejauh ini. Saibari juga menjadi pemain kedua dari Afrika yang mencetak gol dalam dua laga awal penampilannya di Piala Dunia setelah bintang Mesir, Mohamed Salah, saat melawan Rusia dan Arab Saudi pada 2018.
”Kami mengendalikan seluruh pertandingan dan, dari segi efisiensi, saya melihat ini sebenarnya lebih baik daripada laga pertama (melawan Brasil),” ujar Pelatih Maroko Mohamed Ouahbi.
”Saya melihat ini sebagai kemajuan dibandingkan pertandingan pertama. Jadi pada akhirnya, kami senang dengan hasil ini. Kami menginginkan tiga poin dan kami mendapatkan itu. Itu adalah tujuan utama,” tegas Ouahbi.
”Saya percaya kami mengendalikan permainan. Namun, ketika Anda tidak mencetak gol kedua, jelas, kami harus bertahan karena Skotlandia memiliki pendekatan yang sangat intens dengan umpan-umpan panjang. Saya sangat senang dengan performa tim,” tegas Ouahbi.
Maroko memiliki sejumlah peluang untuk mencetak gol lainnya di babak pertama, tetapi penyelesaian akhir mereka kurang efisien. Pergerakan pemain juga sering kurang sinkron, sehingga umpan dan posisi pemain sering meleset, sehingga peluang gol pun terbuang. Kekurangan itu akan diperbaiki untuk mencetak banyak gol saat melawan Haiti.
”Targetnya adalah untuk memenangi pertandingan dan mudah-mudahan menjadi nomor satu di grup. Jadi, saya akan menurunkan tim terbaik yang mungkin berdasarkan kesiapan fisik para pemain,” ujar Ouahbi.
Dalam laga melawan Skotlandia ini, Saibari menegaskan posisinya sangat krusial bagi tim dan akan sulit digantikan. Demikian juga dengan Diaz yang konsisten menjadi pencetak umpan-umpan kunci. Pemain tengah berusia 18 tahun, Ayyoub Bouaddi, yang baru menjalani dua laga internasional, juga tampil sangat tenang dalam tekanan para pemain Skotlandia. Dia mampu melepaskan umpan-umpan sekali sentuhan dengan akurat.
Bagi Skotlandia yang mampu bermain mengalir dan lebih agresif, terutama pada babak kedua, masih memiliki pekerjaan besar dalam penyelesaian akhir. Oleh karena itu, Pelatih Steve Clarke akan segera mengumpulkan para pemain untuk mematangkan taktik mengalahkan Brasil.
”Pertama-tama, Anda harus membiarkan para pemain sedikit menderita selama 48 jam ke depan karena itulah yang akan mereka lakukan. Mereka tidak suka kalah melawan siapa pun. Jadi, kami akan beristirahat, memulihkan diri, dan siap untuk bermain lagi. Pertandingan tidak akan menjadi lebih mudah,” ujar Clarke.
”Sejujurnya, saya pikir kami bangkit di babak pertama. Mungkin kami perlu 10 menit untuk masuk ke dalam permainan karena jelas kami mengalami kemunduran seperti itu. Sangat sulit untuk merespons. Tim yang lebih lemah mungkin akan runtuh, saya pikir, melawan lawan dengan kualitas seperti itu, tetapi kami bertahan,” tegas Clarke.
”Kami kembali ke permainan. Kami mulai mengoper bola sedikit lebih baik, dan saya pikir di babak kedua, setelah istirahat minum, kami bermain bagus. Kami memiliki momentum yang bagus menjelang jeda, dan kami membawa itu ke babak kedua, dan kami bermain dengan sangat baik,” lanjut Clarke.
”Bangga dengan para pemain, tetapi jelas kami semua sangat kecewa dan sedih karena tidak mendapatkan hasil yang kami inginkan sehingga kami dapat melanjutkan di turnamen ini selama mungkin,” lanjut Clarke.
Dalam laga ini, Skotlandia memiliki peluang gol dari penalti saat gelandang John McGinn dan Scott McTominay terjatuh dalam insiden terpisah. Namun, Clarke hanya melihat salah satunya dengan jelas.
”Kasus McGinn itu 50-50. Beberapa orang akan memberikan (penalti) dan saya pikir jika wasit menyerahkannya ke VAR, itu tidak akan membatalkannya. Jadi, saya hanya bisa berbicara tentang yang satu itu. Namun, dengar, tidak ada yang bisa kita lakukan tentang itu,” tegas Clarke.
Gelandang serang Skotlandia, Lewis Ferguson, mengakui laga melawan Maroko sangat sulit. Tim sudah bermain bagus, tetapi di level Piala Dunia sangat sulit mencetak gol.
”Ini menunjukkan betapa sulitnya memenangi pertandingan di Piala Dunia. Saya melihat banyak hal negatif tentang kemenangan kami melawan Haiti di pertandingan pertama, dan jujur saja, itu membingungkan saya karena sangat sulit, setiap tim berada di level teratas. Senang dengan responsnya, tetapi kecewa dengan hasilnya. Saya pikir, Anda tahu, penampilan kami mungkin pantas mendapatkan satu poin,” ujar Ferguson kepada ITV.
Setali tiga uang, kesulitan mencetak gol membuat frustrasi, apalagi setelah kecolongan gol di awal laga.
”Ini membuat frustrasi. Awal pertandingan tidak persis seperti yang kami rencanakan. Namun, kami membatasi mereka di babak kedua dan mulai memainkan sepak bola kami. Hanya saja, itu bukan takdir kami,” ujar pemain tengah Skotlandia, Ryan Christie, kepada BBC Radio Scotland.
Kini, tantangan berat menanti Skotlandia di laga terakhir Grup C melawan Brasil di Miami pada 25 Juni. Jika kalah, peluang lolos grup dari jalur delapan peringkat tiga terbaik akan sangat sulit.
Sumber: Kompas.id

