Trump Ancam Hentikan Pasokan Minyak Kuba

Setelah menguasai Venezuela, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini mengancam Kuba untuk segera berunding dengan AS sebelum terlambat. Hal itu disampaikan Trump, Minggu (11/1/2026), kepada Kuba yang mengandalkan pasokan minyak dari Venezuela dan dikenai sanksi AS sejak tahun 2000.

Kuba adalah sekutu Venezuela selama berpuluh tahun. Bahkan pengawal elite kepresidenan Venezuela didatangkan dari Kuba. Kuba mengimpor 35.000 barel minyak setiap hari dari Venezuela.

”Tidak ada lagi kiriman minyak ke Kuba. Nol!” ujar Trump dalam akun Truth Social. Trump melanjutkan, Kuba harus segera berunding. Akan tetapi, Trump tidak memberikan penjelasan apa yang akan dijanjikan dalam perundingan.

Lontaran kontroversial Trump berlanjut sepekan setelah pasukan AS menyerbu Venezuela dan menculik Presiden Nicolas Maduro. Hal itu dikecam sebagai pelanggaran terhadap Piagam PBB dan hukum internasional. Serangan AS tersebut mengakibatkan sedikitnya 100 orang tewas, termasuk militer Venezuela, Kuba, dan warga sipil.

Pekan lalu, Trump mengatakan, Kuba akan segera jatuh, merujuk pada kondisi ekonomi Kuba yang buruk akibat sanksi AS. Dia meyakini pemerintahan Kuba segera tumbang jika tidak mendapat pasokan minyak bersubsidi dari Venezuela.

Berikutnya, dalam cuitan di akun media sosialnya, Trump menyebutkan Menlu AS Marco Rubio bisa menjadi Presiden Kuba. Trump menutup komentar tersebut dengan ”Usulan yang terdengar baik bukan?”

Dalam rangkaian pesan selanjutnya, Trump mengatakan, Kuba selama bertahun-tahun menggantungkan hidup pada minyak dan uang Venezuela. Sebagai imbalan, Kuba antara lain menyediakan pasukan untuk mengawal dua pemimpin diktator Venezuela, Hugo Chavez dan Nicolas Maduro.

”Itu tidak akan berlanjut” ujar Trump. Menurut Trump, Venezuela kini berada di bawah perlindungan AS dengan militer terkuat di dunia.

Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel mengatakan, rakyat Kuba siap melindungi tanah air hingga titik darah terakhir. ”Kuba adalah negara merdeka dan berdaulat. Tidak ada yang bisa mendikte kita,” kata Diaz-Canel dalam akun X.

”Pihak yang mengamuk menuding bangsa kami karena pilihan mandiri politik Kuba,” kata Diaz-Canel. Dia menentang tindakan dan pembatasan yang dilakukan AS terhadap Kuba sebagai sebuah negara berdaulat.

Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez juga menegaskan, Kuba sesuai aturan internasional berhak mengimpor migas dari negara mana pun. ”Impor minyak itu bisa kita lakukan bebas tanpa tekanan atau tindakan sepihak dari Amerika Serikat,” kata Menlu Kuba.

Dia mengatakan, tidak seperti AS, Kuba tidak pernah memeras ataupun menyerang negara lain dengan kekuatan militer.

Sejumlah anggota Kongres AS, Minggu, mendukung lontaran Trump di media sosial. Salah satunya Mario Diaz-Balart, anggota Kongres dari Negara Bagian Florida.

”Kita menyaksikan berakhirnya rezim Kuba. Tirani di Kuba tidak akan selamat dalam periode kedua pemerintahan Presiden Trump. Kuba akan bebas merdeka dari penderitaan, tragedi, dan derita,” kata Diaz-Balart.

Sebelum konfrontasi Trump-Maduro, masyarakat Kuba sudah mengalami aneka kesulitan ekonomi dengan antrean panjang di pom bensin dan supermarket karena krisis ekonomi terburuk yang dialami saat ini.

Pemerintahan komunis Kuba mengatakan, sanksi AS menimbulkan kerugian sebesar 7,5 miliar dolar AS dalam kurun waktu Maret 2024-Februari 2025.

Sesaat setelah kembali menjabat, Januari 2025, Trump kembali menetapkan Kuba sebagai negara sponsor terorisme. Status sponsor terorisme itu pernah dicabut pada akhir jabatan Presiden AS Joe Biden.

Karena berbagai sanksi ekonomi, Kuba berusaha membangun kemandirian di berbagai sektor. Saat pandemi Covid-19, Kuba membuat vaksin covid sendiri dan layanan medis Kuba dikenal sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Para dokter Kuba juga dikirim ke berbagai penjuru dunia dalam berbagai misi kemanusiaan. 

Sumber: kompas.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *