Cuaca Ekstrem, KSOP Makassar Tunda Pelayaran Kapal Kecil, Nelayan Paotere Terpaksa Tak Melaut

Cuaca ekstrem yang melanda sepekan terakhir membuat Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Utama Makassar mengeluarkan imbauan penundaan aktivitas pelayaran.

Maklumat penundaan pelayaran tersebut merujuk pada peringatan dini gelombang tinggi dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar.

Hal itu diungkapkan Kepala Bidang Lalu Lintas Laut dan Kepelabuhanan KSOP Utama Makassar, Libertinus, saat ditemui di kantornya, Jalan Satando I, Kelurahan Tamalabba, Kecamatan Ujung Tanah, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (12/1/2026).

“Berdasarkan informasi yang kami terima dari BMKG, pada tanggal 12 sampai 15 Januari 2026 diperkirakan akan terjadi angin yang cukup kencang antara 4 sampai 30 knot dengan arah angin berembus dari perairan Sulawesi Selatan, berasal dari barat daya ke barat laut,” kata Libertinus.

“Selain itu, kecepatan angin dan gelombang laut tertinggi terjadi di wilayah pesisir barat selatan Sulawesi Selatan,” lanjutnya.

Menurut Libertinus, ketinggian gelombang saat ini mencapai 1,25 meter hingga 2,5 meter.

Kondisi tersebut berpeluang terjadi di perairan Pinrang, Pangkep, Jeneponto, Kepulauan Selayar, Bone, Barru, Makassar, Bulukumba, serta perairan Sinjai.

“Sementara tinggi gelombang 2,5 meter sampai 4,0 meter berpeluang terjadi di perairan Taka Bonerate,” ujarnya.

Peringatan gelombang tinggi itu, kata Libertinus, telah disampaikan ke Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar dan Pelabuhan Paotere.

Ia menyebutkan, terdapat sekitar lima hingga 10 kapal bertonase kecil yang biasa melakukan aktivitas pelayaran dan kini berada dalam pemantauan KSOP Utama Makassar.

“Ini menjadi peringatan bagi kapal-kapal bertonase kecil untuk tidak melaut pada periode cuaca buruk tersebut,” terang Libertinus.

Sementara itu, kapal bertonase besar yang berangkat dari Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar diminta tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap gelombang tinggi 2,5 meter hingga 4 meter.

“Untuk kapal tonase besar yang berlayar dengan tinggi gelombang 1,25 meter sampai 2,25 meter, saya pikir faktor keselamatan masih bisa terjamin,” katanya.

Tidak hanya aktivitas pelayaran kapal barang dan penumpang yang terdampak cuaca ekstrem.

Ratusan kapal pencari ikan milik nelayan juga tertahan di Pelabuhan Paotere Makassar akibat gelombang tinggi.

Pantauan Tribun, deretan kapal motor nelayan memadati dermaga pelabuhan legendaris tersebut.

Nelayan enggan melaut karena angin kencang disertai ombak tinggi di kawasan Selat Makassar.

Mereka pun mengisi waktu dengan aktivitas santai, mulai dari memperbaiki jaring hingga berbincang bersama sesama nelayan.

“Sudah satu minggu ini tidak keluar melaut,” kata Sahrul (27), saat ditemui sedang berbincang dengan anak buah kapalnya (ABK).

Sahrul merupakan nahkoda kapal motor berkapasitas angkut satu ton ikan dengan empat orang ABK.

Ia menyebut, ada puluhan kapal motor seukuran kapalnya yang berjejer di dermaga.

Akibat sepekan tidak melaut, nelayan asal Pulau Longkoitang, Kabupaten

“Ketinggian ombak sekarang ini lebih dari satu meter. Belum ada informasi kapan diperbolehkan melaut,” ucap ayah dua anak itu.

Hal senada diungkapkan Dandi (26), nahkoda sekaligus pemilik KM Jirana.

Dandi mengaku sudah hampir sebulan tidak melaut akibat cuaca yang tidak bersahabat.

“Masih menunggu cuaca baik baru melaut. Sudah hampir satu bulan tidak melaut, sekalian memperbaiki jaring,” kata Dandi di sela memantau aktivitas ABK-nya.

Ia biasa mencari ikan di sekitar Pulau Pandangan, Kabupaten Pangkep.

“Cuaca memang sedang buruk, tinggi ombak mencapai 2,6 meter di perairan Kepulauan Pangkep,” katanya.

Dengan kapal berkapasitas angkut hingga tujuh ton, Dandi hanya diperbolehkan mencari ikan di atas 12 mil dari bibir pantai.

“Iya, ada aturan yang dikeluarkan. Izin dari pusat tidak memperbolehkan kami mencari ikan dalam jarak 12 mil, harus di luar 12 mil dari daratan,” ujar nahkoda yang memiliki 13 ABK tersebut.

Akibat cuaca buruk, harga ikan di tempat pelelangan turut mengalami kenaikan.

Ikan cakalang, misalnya, yang pada hari normal dijual seharga Rp1,1 juta per gabus (75 kilogram), kini naik menjadi Rp1,7 juta per gabus.

Saat ini, Dandi dan para ABK-nya mulai mengisi bagasi kapal dengan es balok.

Ia berharap dalam tiga hari ke depan cuaca mulai membaik agar dapat kembali melaut. (*)

Sumber: tribunnews.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *