Sebuah insiden penerbangan mendebarkan dialami oleh maskapai penerbangan nasional Thailand, Thai Airways.
Pesawat berbadan lebar Boeing 787-9 Dreamliner yang melayani rute penerbangan menuju Bangkok terpaksa memutar balik dan melakukan pendaratan darurat di Bandara Internasional Pudong Shanghai, China, pada Rabu (4/11/2026), menyusul ditemukannya retakan pada bagian jendela kokpit.
Berdasarkan laporan media lokal Khaosod English, insiden tersebut bermula tidak lama setelah pesawat lepas landas.
Para pilot yang bertugas pada penerbangan nomor TG663 dengan sigap mendeteksi adanya retakan pada kaca kemudi bagian depan dan langsung mengambil tindakan pencegahan demi keselamatan penumpang di udara.
Kronologi pendaratan darurat
Pesawat Thai Airways tersebut awalnya lepas landas dari Bandara Internasional Pudong Shanghai pada pukul 08.08 pagi waktu setempat dengan tujuan akhir Bandar Udara Internasional Suvarnabhumi di Bangkok, Thailand.
Namun, di tengah perjalanan udara, kru kokpit mendapati masalah teknis berupa retakan pada kaca jendela kokpit sebelah kiri.
Mengikuti prosedur keselamatan penerbangan standar internasional, pilot penerbangan TG663 segera menghubungi petugas pengendali lalu lintas udara (air traffic control/ATC) untuk meminta izin melakukan pendaratan darurat kembali ke bandara asal.
Sebelum menyentuh landasan pacu dengan selamat, pesawat tersebut terpantau harus berputar-putar di udara terlebih dahulu untuk melakukan pembuangan bahan bakar (fuel dumping).
Langkah ini wajib dilakukan guna mengurangi bobot total pesawat agar berada dalam batas berat pendaratan yang aman (maximum landing weight).
Dilansir dari VN Express, Rabu, rekaman video yang memperlihatkan detik-detik pesawat membuang bahan bakar di udara pun sempat viral dan dibagikan secara luas di berbagai platform media sosial.
Penjelasan resmi Thai Airways
Pihak manajemen Thai Airways melalui pernyataan resmi yang disiarkan oleh kantor berita Thailand, InfoQuest, memastikan bahwa tidak ada korban luka-luka dalam insiden pendaratan darurat tersebut. Seluruh penumpang maupun kru pesawat dipastikan berada dalam kondisi selamat.
“Para pilot, setelah menemukan retakan pada kaca depan kokpit sebelah kiri selama penerbangan, memutuskan untuk kembali ke bandara keberangkatan sejalan dengan prosedur keselamatan, dan dipastikan tidak ada korban luka yang dilaporkan,” demikian pernyataan resmi pihak Thai Airways.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban atas gangguan perjalanan ini, pihak maskapai langsung bergerak cepat menangani para penumpang yang terdampak.
Thai Airways menyediakan fasilitas akomodasi penginapan bagi penumpang dan kru, serta berkoordinasi dengan maskapai mitra untuk membantu mengalihkan penerbangan penumpang ke tujuan.
Selain itu, untuk mengakomodasi para penumpang yang dipindahkan tersebut, pihak maskapai mengonfirmasi bahwa mereka mengganti armada untuk penerbangan TG662 dan TG663 pada tanggal 5 November dengan menggunakan pesawat berbadan lebih besar.
Faktor teknis dan insiden serupa di masa lalu
Menurut laporan The Thaiger, munculnya retakan pada jendela atau kaca kokpit sebuah pesawat tidak serta-merta mengindikasikan bahwa seluruh lapisan kaca telah pecah total ataupun kabin pesawat mengalami kehilangan tekanan udara (depurization).
Kendati demikian, temuan sekecil apa pun pada komponen kaca kokpit tetap mengharuskan dilakukannya penilaian keselamatan (safety assessment) secara ketat sebelum pesawat diizinkan melanjutkan penerbangan jarak jauh.
Insiden serupa rupanya pernah dialami oleh maskapai pelat merah Thailand tersebut sebelumnya.
Pada Februari 2025 lalu, penerbangan Thai Airways dengan nomor registrasi TG401 yang rutenya melayani penerbangan dari Bangkok menuju Singapura juga terpaksa harus berputar balik ke Bandara Suvarnabhumi.
Keputusan itu diambil setelah pilot mendapati retakan pada lapisan terluar dari kaca kokpit pesawat. Saat itu, para penumpang baru dapat melanjutkan perjalanan ke Singapura menggunakan pesawat pengganti keesokan paginya.
Sumber: Kompas.com

