Ditemukan Setelah 18 Hari Hilang, Mualim KM Virgo Transport 8 Dimakamkan di Jombang

Jenazah Ghondam Prakoso, mualim dua Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 asal Kabupaten Jombang, Jawa Timur, akhirnya dimakamkan di TPU Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Kamis (1/10/2026).

Pemakaman tersebut mengakhiri penantian panjang keluarga selama 18 hari sejak Ghondam dinyatakan hilang dalam musibah tenggelamnya KM Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa pada Minggu (13/9/2026).

Namun, proses pemulangan jenazah korban kapal tenggelam tersebut sempat diwarnai insiden. Ambulans yang membawa jenazah Ghondam dari Bandara Juanda, Surabaya, Jawa Timur, mengalami kecelakaan beruntun di Jalan KH Wahab Chasbulloh, Desa Mojokrapak, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Ambulans Jenazah Terlibat Kecelakaan Beruntun

Perjalanan menuju rumah duka sempat terganggu saat ambulans Toyota Avanza berpelat nomor L 1765 KG yang dikemudikan Fajar mendadak mengalami kecelakaan beruntun sekitar pukul 09.00 WIB. Insiden ini melibatkan sedikitnya lima unit mobil dan dua sepeda motor.

Kecelakaan terjadi saat rombongan iring-iringan pembawa jenazah bergerak dari Bandara Juanda menuju rumah duka. Rombongan tersebut terdiri dari kendaraan Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Jombang jenis Mitsubishi Pajero Sport L 1062 BAR, Toyota Kijang Innova L 1948 DAG, mobil keluarga korban, serta dikawal oleh relawan rescue menggunakan sepeda motor.

Pengemudi ambulans, Fajar, menceritakan bahwa insiden bermula saat seorang pengendara sepeda motor di depan rombongan mendadak berbelok ke kanan.

“Ada mbak-mbak mau nyeberang. Di belakangnya ada relawan dan mobil Dinsos. Relawannya tidak bisa banting setir, terus kendaraan yang di belakangnya menabrak dari belakang,” ujar Fajar.

Mobil ambulans yang dikendarai Fajar melaju tepat di belakang kendaraan Dinsos Jombang dan di depan mobil rombongan keluarga.

“Ambulans saya di belakang mobil Dinsos. Di belakangnya mobil keluarga dari jenazah,” lanjutnya.

Benturan keras menyebabkan sejumlah kendaraan rusak. Bahkan, bagian radiator mobil ambulans pembawa jenazah sempat mengeluarkan api.

“Tadi sempat muncul api dari radiatornya, tapi sudah terkondisikan. Jenazah sudah dipindah ke ambulans lain,” ungkap Fajar.

Peti jenazah Ghondam kemudian dipindahkan ke unit ambulans milik BPBD Kabupaten Jombang untuk melanjutkan perjalanan ke rumah duka di Desa Bulurejo.

Sementara itu, Unit Gakkum Satlantas Polres Jombang langsung mendatangi lokasi kecelakaan untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) serta memeriksa sejumlah saksi.

Kanit Gakkum Satlantas Polres Jombang, Ipda M Nurul Iman, membenarkan kejadian tersebut dan menyampaikan bahwa pihaknya masih melakukan penyelidikan lebih lanjut.

“Laporan belum lengkap, anggota masih di TKP pendalaman,” terang Nurul Iman.

Pencarian 18 Hari di Laut Jawa

Sebelum berhasil diidentifikasi, jenazah Ghondam ditemukan di wilayah perairan Pantai Soreang, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

Kepastian identitas jenazah didapatkan keluarga setelah Tim Basarnas menyampaikan hasil identifikasi pada Rabu (30/9/2026).

“Alhamdulillah, kemarin Rabu (30/9/2026) kami mendapat informasi dari Basarnas kalau sudah teridentifikasi, yaitu Ghondam Prakoso. Tadi pagi kami jemput di Bandara Juanda, kemudian dibawa ke rumah duka dan dimakamkan,” kata Zulkarnain Sutopo, paman korban.

Jenazah diterbangkan dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dan mendarat di Bandara Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, sekitar pukul 07.00 WIB sebelum diberangkatkan menuju Jombang melalui jalan darat.

Evakuasi dan Detik-detik Terakhir Keluar Kapal

Zulkarnain menceritakan, berdasarkan keterangan kapten kapal yang dikenalnya, Ghondam merupakan salah satu awak yang bertahan hingga saat-saat terakhir di KM Virgo Transport 8 untuk membantu evakuasi.

Terdapat lima awak yang keluar paling akhir saat kapal mulai karam, yakni kapten kapal, kepala kamar mesin (KKM), Ghondam, dan dua awak lainnya.

“Kelima orang ini paling terakhir keluar. Sebelumnya mereka melaksanakan tugas membagikan pelampung dan mengembangkan liferaft,” jelas Zulkarnain.

Ghondam diketahui telah mengenakan life jacket saat melompat meninggalkan kapal di tengah gempuran gelombang laut yang sangat tinggi.

Setelah terjun ke laut, kelima awak tersebut terpisah menjadi dua kelompok akibat sapuan gelombang deras dan kondisi malam hari.

Ghondam saat itu bertahan bersama Bas Jumbri, seorang AKM kapal.

“Karena malam dan terkena ombak, mereka akhirnya terpisah. Setelah itu kami tidak tahu bagaimana kondisinya,” kenang Zulkarnain.

Berjuang dari Juru Mudi hingga Mualim Dua

Karier Ghondam di dunia maritim dimulai dari jenjang paling bawah sebagai juru mudi. Selepas lulus SMA, atas saran dari pamannya, ia menempuh pendidikan pelayaran di Semarang, Jawa Tengah.

Zulkarnain, yang juga memiliki latar belakang di bidang pelayaran, sengaja mengarahkan keponakannya agar memahami dinamika kerja lapangan secara menyeluruh.

“Memang seharusnya dia langsung menjadi mualim, tetapi waktu itu saya ingin mendidik anak ini supaya bisa. Jangan hanya mengandalkan ijazah,” tutur Zulkarnain.

Berkat dedikasinya, karier Ghondam melesat hingga dipercaya menduduki posisi mualim dua. Bahkan sebelum musibah kapal tenggelam terjadi, ia telah terdaftar untuk melanjutkan jenjang pendidikan sertifikasi Ahli Nautika Tingkat II (ANT II).

“Sekolah lagi ANT II. Sudah terdaftar. Seharusnya dia melanjutkan, tetapi Allah menghendaki yang lain,” ujar Zulkarnain.

Almarhum Ghondam meninggalkan seorang istri dan seorang anak laki-laki yang baru berusia empat tahun.

Setibanya di rumah duka sekitar pukul 10.30 WIB, jenazah langsung disalatkan oleh pihak keluarga dan warga setempat sebelum diantarkan ke peristirahatan terakhirnya di TPU Desa Bulurejo.

Keluarga pun menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih mendalam kepada seluruh tim gabungan yang terlibat dalam proses pencarian hingga pemulangan jenazah.

“Kami keluarga Ghondam Prakoso mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada instansi terkait dan siapa pun yang sudah bekerja keras membantu mencari korban Virgo,” ucap Zulkarnain.

“Kami hanya bisa menerima apa yang sudah menjadi kehendak Allah. Kalau almarhum selama hidup punya kesalahan, kami mohon dimaafkan. Mudah-mudahan husnul khotimah,” tutupnya.

Sumber: Kompas.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *