Gelombang panas yang intens dan rendahnya salju pada musim dingin berdampak buruk pada puncak Alpen. Swiss kehilangan 5,5 persen volume gletser dalam 12 bulan terakhir.
Para ilmuwan memperingatkan dampak pencairan es yang begitu cepat dalam beberapa dekade mendatang. Pencairan es yang cepat mengancam pasokan air untuk pertanian, energi, dan transportasi. Hilangnya es gletser juga meningkatkan risiko tanah longsor di beberapa tempat.
Merujuk laporan tahunan terbaru dari Akademi Ilmu Pengetahuan Swiss (SCNAT) dan Glacier Monitoring Switzerland (GLAMOS), program pemantauan gletser jangka panjang dari Jaringan Pemantauan Gletser, Kamis (1/10/2026), penyusutan gletser Swiss sudah diperkirakan. Penyusutan diperkirakan terjadi dalam iklim yang memanas, didorong oleh emisi bahan bakar fosil.
Namun, laporan menemukan hal penting bahwa laju pencairan gletser sekarang ini sangat cepat. Hingga baru-baru ini, para ahli gletser Pegunungan Alpen menganggap hilangnya 2 persen es dalam satu tahun sebagai ”ekstrem”.
Tahun ini diperkirakan 5,5 persen gletser Swiss hilang. Kehilangan ini membuat persentase hilangnya gletser Swiss dalam lima tahun terakhir menjadi sekitar 20 persen.
Persentase hilangnya es tahun ini merupakan kehilangan terbesar kedua dalam sejarah. Pada 2022, SCNAT melaporkan penyusutan es gletser di Swiss mencapai rekor. Pencairan es yang cepat akibat panas musim panas, sedikit hujan salju pada musim dingin, dan debu kemerahan yang tidak biasa yang bertiup dari Sahara membuat gletser menjadi gelap.
Hal itu menyebabkan gletser menyerap lebih banyak panas. Laporan SCNAT pada 2022 menyebutkan, Swiss kehilangan sekitar 3 kilometer kubik es atau lebih dari 6 persen dari volume yang tersisa.
”(Kehilangan tahun) ini benar-benar bencana,” kata Direktur GLAMOS Matthias Huss, yang menyusun laporan tersebut.
Para ilmuwan mendapati hal mengkhawatirkan lain dari pemantauan tahun ini. Dari lokasi pengukuran di titik tertinggi hingga 3.500 meter di atas permukaan laut, para ilmuwan tidak menemukan salju yang tersisa pada akhir musim panas. Di tempat itu, biasanya suhu paling rendah dan gletser tertutup salju.
”Di beberapa gletser, kami melihat kehilangan es hingga 4 meter di titik tertinggi, di mana seharusnya gletser tersebut tertutup salju musim dingin setebal beberapa meter,” kata Huss.
Dari pemantauan GLAMOS, ketebalan es beberapa gletser berkurang antara 2,5 meter dan 4 meter. Sementara lidah gletser yang lebih terbuka mengalami kehilangan ketebalan hingga 10 meter selama musim panas.
Huss menjelaskan, tutupan salju dari musim dingin berperan penting bagi gletser. Pertama, salju melindungi gletser agar tidak mencair. ”Semakin lama ada salju, semakin lama pula Anda mencegah hilangnya es tua,” ujarnya dalam wawancara di Federal Polytechnic Institute ETHZ.
Kedua, lanjut Huss, tutupan salju penting untuk menghasilkan makanan baru bagi gletser. ”Semakin banyak salju yang ada, semakin besar potensi menyimpan sebagian salju di dataran tinggi dan membentuk es baru,” katanya.
Sementara pada musim dingin 2025 dan 2026, tidak banyak salju dihasilkan. Musim dingin tahun ini diperkirakan lebih ringan.
Pada tahun ini, para ilmuwan memperkirakan salju yang sedikit itu pun mencair lebih cepat dalam gelombang panas pertama pada Mei dan Juni. Menghilangnya salju memperlihatkan gletser di bawahnya.
Gletser yang terbuka terlihat lebih gelap sehingga menyerap lebih banyak energi matahari. Hal itu membuat gletser rentan mencair lebih cepat lagi.
Para ilmuwan memperkirakan gletser Swiss melepaskan 2,2 triliun liter air lelehan antara Juli dan September 2026. Jumlah itu sekitar empat kali lipat konsumsi tahunan Swiss yang berpenduduk 9,1 juta jiwa.
Menurut Huss, air lelehan gletser membantu mengurangi kekurangan air pada musim panas ini. Namun, lelehan itu sekaligus mengurangi pasokan air beku.
”Semua air yang keluar selama gelombang panas ini adalah air purba yang tersimpan dalam es selama berabad-abad atau beberapa dekade yang lalu,” ujarnya.
Pencairan es yang cepat juga mengancam beberapa sungai terpenting di Eropa, seperti Danube, Po, Rhine, dan Rhone. Lelehan gletser Swiss menjadi sumber utama sungai-sungai itu. Pada saat yang sama, air lelehan dari gletser merupakan sumber air penting untuk irigasi dan pembangkit listrik tenaga air.
Menipisnya gletser dalam jangka panjang dan pencairan tanah beku juga dapat menggoyahkan lereng gunung dan meningkatkan risiko tanah longsor di beberapa tempat. Hal itu dapat menyebabkan banjir bandang dalam kasus ekstrem, seperti yang terlihat di Nepal pada Agustus.
”Apa yang terjadi selama musim panas ini sangat menyedihkan. Tetapi hal itu sudah dapat diperkirakan dari perspektif seorang ilmuwan iklim,” ujar Fabien Maussion, ahli gletser dari Universitas Bristol. Ia tidak terlibat dalam laporan Swiss itu.
Meski saat ini terjadi laju pencairan gletser secara cepat, Huss menekankan bahwa pengurangan emisi karbon yang tajam masih dapat menyelamatkan sebagian besar es gletser di dunia. Hal ini terutama berlaku untuk Himalaya dan wilayah kutub, tempat sebagian besar es planet ini berada.
”Kita masih dapat membuat perbedaan besar dengan perlindungan iklim,” kata Huss.
”Jika massa es ini dapat diselamatkan atau distabilkan, kita dapat membatasi kenaikan permukaan laut global yang dapat memengaruhi miliaran orang yang tinggal di sepanjang pantai,” imbuhnya.
Sumber: Kompas.id

