Kay Rala Xanana Gusmao resmi menyandang gelar doktor kehormatan dari Universitas Hasanuddin. Gelar ini menjadi penting untuk inspirasi kepemimpinan hingga jembatan perjuangan dari medan konflik ke mimbar akademik. Terlebih, Bugis-Makassar memiliki kedekatan historis dengan wilayah Timor Leste, tanah kelahiran Xanana Gusmao.
Suara berat pria berumur 80 tahun itu menggema di Baruga Andi Pangerang Pettarani, Universitas Hasanuddin, Makassar, Sabtu (5/9/2026). Xanana Gusmao, Perdana Menteri Timor Leste itu, mendapat gelar doctor honoris causa dalam bidang kepemimpinan dan administrasi publik.
Rambut, kumis, dan cambang pria tersebut memang telah memutih. Namun, pesannya selalu tegas, terarah, dan dipenuhi tanggung jawab. ”Saya merasa dikasih lebih dari apa yang saya bisa beri. Ini adalah sebuah tanggung jawab besar. Tidak hanya sangat terhormat, tetapi saya juga berpikir bahwa doktor kehormatan lebih besar dari sekadar kata-kata,” ujar Xanana saat konferensi pers di Kampus Unhas, Sabtu (5/9/2026).
Oleh karena itu, gelar doctor honoris causa dari Unhas merupakan amanat untuk terus bekerja demi kemerdekaan dan kesejahteraan rakyat Timor Leste. Amanat itu harus dijalankan dengan bersungguh-sungguh, berbuat terbaik untuk kemerdekaan dan kesejahteraan.
Terlebih lagi, lebih dari dua dekade setelah merdeka, masih begitu banyak persoalan yang dirasakan masyarakat. Mulai dari kemiskinan hingga kesejahteraan. ”Seperti yang sering saya katakan, pahlawan sejati adalah rakyat kita. Rakyat Timor Leste,” terangnya.
Pendidikan hingga perguruan tinggi, ia melanjutkan, menjadi penting untuk generasi. Bukan sekadar tempat mendapatkan gelar, melainkan juga untuk belajar berpikir, melakukan penelitian, hingga memahami persoalan serta solusi untuk masa depan.
Dari proses itu, akan lahir pemimpin baru di mana pemimpin yang tidak hanya ditunjuk atau dipilih. Akan tetapi, pemimpin yang tumbuh secara alami melalui proses belajar, pengalaman, penelitian, dan kemampuan memecahkan masalah.
Berdasarkan data yang dihimpun, Xanana Gusmao telah menerima sejumlah gelar doktor kehormatan dari berbagai universitas di belahan dunia. Sementara Unhas telah memberikan gelar doktor kehormatan kepada sedikitnya 10 tokoh nasional dan dunia.
Hafid Abbas, promotor penganugerahan ini, menyampaikan, ada empat alasan mengapa Xanana layak mendapat gelar kehormatan ini. Pertama, simbol perjuangan yang melahirkan sebuah bangsa. Tidak hanya menjadi saksi sejarah, tetapi juga menjadi arsitek utama, membawa masyarakat melewati masa sulit.
Kedua, mengubah luka konflik menjadi jembatan rekonsiliasi. “Tidak banyak pejuang menjadi juru damai. Mampu mengubah luka konflik menjadi jembatan perdamaian dan rekonsiliasi,” katanya.
Ketiga, berhasil bertransformasi dari pejuang menjadi negarawan. Tidak berhenti pada simbol semata, tetapi mampu membangun institusi dan kedaulatan negara. Kepemimpinan bukan sekadar membebaskan, tetapi memberikan harapan akan masa depan.
Terakhir, berhasil mewariskan nilai kemanusiaan. Ditemukan keberanian yang berpadu dengan kerendahan hati. ”Oleh karena itu, hal ini bukan sekadar seremonial belaka, bukan popularitas, melainkan semangat akan seseorang yang memiliki rekam jejak perjuangan, pengalaman, keteladanan, yang patut diperjuangan dan diwariskan,” terangnya.
Terlebih lagi, hubungan erat antara Bugis-Makassar dan Timor Leste telah berlangsung jauh dari sebelumnya. Mulai dari pelaut daerah ini yang membangun kekerabatan awal. Jejak itu bahkan diabadikan lewat Pante Makassar, di Dili, sejak abad ke-16.
Catatan sejarah menunjukkan hubungan erat itu bagian dari kehidupan maritim yang menghubungkan leluhur. Laut itu menjadi jembatan ilmu pengetahuan. Jika dulu berlayar membawa barang, sekarang gagasan mahasiswa, dan lainnya.
”Di Makassar kita semua hadir kembali mempertemukan sejarah lama yang bersentuhan, yaitu sejarah pelayaran dan perdamaian. Hari ini Unhas ingin melanjutkan jejak sejarah itu melalui jalan ilmu pengetahuan dan jalan persahabatan,” ungkapnya.
Rektor Unhas Jamaluddin Jompa menekankan, sosok Xanana adalah pemimpin besar dengan kerendahan hati yang begitu dalam. Meski kontribusi dalam membangun Timor Leste sangatlah besar, Xanana selalu merasa tidak layak untuk menerima penghargaan.
”Bagi Unhas, kehadiran Xanana di kampus tersebut tidak hanya berkaitan dengan penganugerahan gelar doctor honoris causa, tetapi juga menjadi kesempatan bagi sivitas akademika untuk belajar langsung dari saksi hidup perjalanan perjuangan dan pembangunan sebuah bangsa,” tambahnya.
Xanana, dengan segala kerendahan hati, dan kesederhaan menampilkan sebuah refleksi untuk masa depan. Ia berpesan agar generasi muda mengandalkan kemampuan berpikir dan tidak bergantung pada teknologi semata. ”Pemimpin dunia lahir dari mereka yang mau mencari tahu, meneliti, dan memahami persoalan yang terjadi,” ucapnya.
Sumber: Kompas.id

