Tragedi KLM Nurul Salsa Tenggelam di Selayar, Kemenhub Didesak Audit Keselamatan Pelayaran

Tim SAR gabung masih berjuang mencari 24 korban kapal KLM Nurul Salsa 01.

Kapal tersebut karam dan tenggelam di perairan Kabupaten Selayar, Sulawesi Selatan, Kamis (16/7/2026).

Wakil Ketua Komisi V DPR RI Andi Iwan Darmawan Aras menyampaikan duka cita dan keprihatinan mendalam atas musibah tenggelamnya KLM Nurul Salsa 01 di perairan Kabupaten Kepulauan Selayar.

Tragedi tersebut mengakibatkan 1 korban jiwa dan 24 penumpang lainnya masih dalam proses pencarian oleh tim SAR gabungan. 46 orang selamat 

“Kita menyampaikan duka cita yang mendalam kepada seluruh keluarga korban. Semoga korban yang meninggal dunia mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT, sementara keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan menghadapi cobaan ini,” kata Andi Iwan kepada wartawan Kamis (16/7/2026).

Legislator Gerindra itu berharap operasi pencarian dan penyelamatan dapat terus dimaksimalkan hingga seluruh korban berhasil ditemukan.

Ia mengapresiasi kerja keras Basarnas, TNI AL, Polairud, Syahbandar, pemerintah daerah, nelayan, serta seluruh unsur yang terlibat dalam operasi pencarian.

“Keselamatan jiwa harus menjadi prioritas utama. Kami berharap seluruh potensi yang dimiliki pemerintah dapat dikerahkan agar proses pencarian berjalan maksimal,” ujarnya.

Namun di balik proses evakuasi yang masih berlangsung, Andi Iwan menilai tragedi tersebut harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan transportasi laut, khususnya kapal-kapal pelayaran rakyat yang melayani wilayah kepulauan.

Sebagai mitra kerja Kementerian Perhubungan, Komisi V DPR RI meminta Kementerian Perhubungan segera melakukan investigasi dan evaluasi secara komprehensif untuk mengetahui penyebab pasti kecelakaan.

Menurutnya, evaluasi tidak boleh berhenti pada faktor cuaca semata, tetapi juga harus menyentuh seluruh aspek penyelenggaraan pelayaran.

“Kami meminta Kementerian Perhubungan melakukan evaluasi menyeluruh, mulai dari kelaikan kapal, kelengkapan alat keselamatan, kepatuhan terhadap standar pelayaran, pengawasan sebelum keberangkatan, hingga validitas data manifes penumpang. Semua harus diperiksa secara transparan agar penyebab kecelakaan benar-benar terungkap,” tegasnya.

Andi Iwan juga menyoroti pentingnya akurasi data manifes penumpang dalam setiap pelayaran.

Menurutnya, apabila terdapat perbedaan antara jumlah penumpang yang tercatat dengan kondisi sebenarnya, persoalan tersebut harus menjadi perhatian serius.

Sebab berkaitan langsung dengan keselamatan penumpang dan efektivitas proses evakuasi saat terjadi kecelakaan.

“Jangan sampai persoalan administrasi seperti manifes dianggap sepele. Dalam situasi darurat, data penumpang menjadi dasar utama proses pencarian dan penyelamatan,” katanya.

Ia menegaskan, Komisi V DPR RI akan terus mengawal penanganan tragedi tersebut sekaligus mendorong Kementerian Perhubungan memperkuat sistem pengawasan transportasi laut, terutama di wilayah kepulauan yang sangat bergantung pada moda transportasi laut.

Menurut Andi Iwan, pengawasan terhadap kelaikan kapal, pemeriksaan rutin armada, kelengkapan alat keselamatan, hingga disiplin terhadap prosedur pelayaran harus diperketat agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

“Musibah ini harus menjadi pelajaran bagi semua pihak. Jangan hanya fokus pada penanganan setelah kecelakaan terjadi, tetapi juga memperkuat langkah-langkah pencegahan. Keselamatan pelayaran harus menjadi prioritas utama karena menyangkut nyawa masyarakat,” kata Andi Iwan.

Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Marlin-877 dikerahkan operasi SAR pencarian korban KLM Nurul Salsa 01 yang karam dan tenggelam di perairan Kabupaten Selayar, Sulawesi Selatan, Kamis (16/7/2026).

Kapal perang jenis Patroli Cepat (PC-60) milik TNI Angkatan Laut ini, dioperasikan di bawah Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) VI Makassar.

Bersama Basarnas Makassar, KRI Marlin menjelajahi kawasan perairan Selayar utamanya lokasi KLM Nurul Salsa diperkirakan tenggelam, Rabu (15/7/2026) kemarin.

Kapal penumpang itu disebut mengalami mati mesin dan tenggelam pada pukul 16.00 Wita.

Kejadian bermula pada Rabu, 15 Juli 2026 pukul 05.00 WITA, ketika KLM Nurul Salsa 01 berangkat dari Pelabuhan Pulau Jampea menuju Pelabuhan Benteng, Selayar.

Sekitar pukul 09.30 WITA, kapal mengalami gangguan total pada mesin utama di posisi 06° 41’ 750” LS – 120° 22’ 993” BT.

Kondisi semakin kritis ketika pompa pengeluaran air (alkon) rusak pada pukul 10.00 WITA, sehingga air terus masuk ke dalam badan kapal.

Akhirnya, pukul 16.00 WITA kapal dinyatakan tenggelam di posisi 06° 56’ 122” LS – 120° 10’ 188” BT.

Menerima laporan resmi dari Kantor SAR Makassar pada pukul 15.50 WITA, Kodaeral VI pun mengerahkan KRI Marlin-877 lengkap dengan personel, peralatan keselamatan, serta dukungan logistik.

Sebanyak 5 personel dari Kantor SAR Makassar turut bergabung memperkuat tim operasi.

Kapal perang kebanggaan Kodaeral VI ini akhirnya berlayar meninggalkan Dermaga Layang Mako Kodaeral VI pada Rabu (15/7/2026) pukul 20.03 WITA menuju lokasi.

Pada Kamis (16/7/2026) pukul 02.00 WITA, KRI Marlin-877 tiba di perairan Pulau Polassi dan segera melaksanakan pengumpulan data serta penyisiran awal.

Pukul 07.00 WITA kapal tiba tepat di titik tenggelamnya KLM Nurul Salsa 01 dan melaksanakan pencarian intensif selama dua jam.

 “Kecepatan respon dan kesiapan personel adalah kunci utama dalam menyelamatkan nyawa di tengah laut. Kami tidak membiarkan waktu berlalu begitu saja,” kata Komandan Kodaeral VI (Dankodaeral VI) Laksamana Muda TNI Andi Abdul Aziz, dalam keterangan tertulisnya.

Berdasarkan data yang telah diverifikasi hingga pukul 11.00 WITA, total korban yang berhasil dievakuasi berjumlah 52 orang, dengan rincian 6 orang diselamatkan oleh nelayan setempat dan dibawa ke Pulau Polassi dan 46 orang lainnya berhasil dievakuasi oleh KLM Harapan Kita ke Pulau Jampea, yang terdiri dari 45 orang selamat dan 1 orang meninggal dunia.

Meski demikian, setelah pencocokan daftar awak dan penumpang sementara, masih terdapat 16 orang yang keberadaannya belum dapat dipastikan.

Data ini masih bersifat dinamis dan terus diverifikasi secara menyeluruh bersama pihak berwenang, pemerintah daerah, serta keluarga korban.

 KRI Marlin-877 kini telah tiba di Pelabuhan Laut Jampea untuk berkoordinasi lanjutan sekaligus memastikan kondisi korban yang telah dievakuasi ke darat.

Tim juga telah bersiap melaksanakan penyisiran ulang yang lebih luas, mencakup titik awal gangguan mesin, titik tenggelam, perairan sekitar Pulau Polassi, jalur lintas menuju Pulau Jampea, serta area perkiraan hanyut korban berdasarkan arus laut dan kondisi cuaca.

 TNI AL melalui Kodaeral VI Makassar menegaskan tidak akan berhenti mencari sampai seluruh nyawa ditemukan.

“Kami juga membuka saluran koordinasi dengan seluruh nelayan dan kapal yang melintas untuk saling bertukar informasi demi keberhasilan operasi ini,” tegas Andi Abdul Aziz.

 Dankodaeral VI ini juga juga mengimbau masyarakat yang memiliki informasi mengenai keberadaan kerabat atau keluarga yang diduga menjadi penumpang untuk segera melaporkannya kepada pihak berwenang di lokasi.

“Perkembangan data terbaru akan kami sampaikan segera setelah proses verifikasi selesai dilaksanakan,” imbuhnya.

Senada dengan rilis resmi Kodaeral VI Makassar, Kapal KM Nurul Salsa disebut berlayar dari Pulau Jampea menuju Pelabuhan Benteng Selayar pada Rabu (15/7/2026) sekitar pukul 05.00 WITA dengan membawa penumpang.

Kapal kemudian mengalami gangguan mesin di tengah perjalanan pada posisi perairan barat Pulau Polassi atau sekitar 43 nautical mile dari Pelabuhan Benteng Selayar.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Kelas A Makassar, Muhammad Arif Anwar, mengatakan setelah menerima laporan kejadian, pihaknya langsung mengerahkan unsur SAR untuk melakukan pencarian dan pertolongan terhadap para penumpang kapal.

“Begitu menerima informasi terkait KM Nurul Salsa yang mengalami mati mesin di perairan Selayar, kami segera menggerakkan unsur SAR untuk melakukan pencarian dan evakuasi terhadap seluruh penumpang serta awak kapal,” ujar Arif.

Dalam operasi tersebut, KM Harapan Kita yang bergerak dari Pulau Jampea berhasil menemukan dan mengevakuasi sejumlah penumpang KM Nurul Salsa pada Kamis (16/7) sekitar pukul 04.00 WITA.

Sebanyak 41 orang berhasil dievakuasi oleh KM Harapan Kita, termasuk awak kapal, dari lokasi sekitar 18 nautical mile dari titik kejadian.

Sementara itu, 6 orang lainnya berhasil diselamatkan oleh kapal nelayan yang berada di sekitar lokasi kejadian dan dievakuasi menuju Pulau Polassi.

Berdasarkan perkembangan data sementara, total korban yang berhasil dievakuasi berjumlah 47 orang, dengan rincian 46 orang selamat dan 1 orang meninggal dunia.

Namun, setelah dilakukan pendataan ulang, jumlah keseluruhan penumpang dan awak kapal diketahui mencapai 70 orang, sehingga masih terdapat 23 orang yang dalam pencarian.

“Data awal yang kami terima menyebutkan jumlah penumpang sebanyak 50 orang. Namun setelah dilakukan verifikasi ulang bersama pihak terkait, jumlah keseluruhan orang di kapal mencapai 70 orang,” jelas Arif

“Saat ini tim SAR gabungan masih melakukan pencarian terhadap 24 orang yang belum ditemukan,” lanjutnya.

Operasi pencarian melibatkan sejumlah unsur SAR gabungan, di antaranya Tim Rescue Pos SAR Selayar, Tim Rescue Kantor Basarnas Makassar, TNI AL, ABK KRI Marlin 877, ABK KM Harapan Kita, BPBD Selayar, Syahbandar, SROP Selayar, Polair, serta kapal nelayan yang turut membantu proses evakuasi.

Arif menegaskan bahwa seluruh unsur SAR gabungan akan terus melakukan upaya pencarian secara maksimal sesuai dengan prosedur operasi SAR.

“Kami mohon doanya, mudah-mudahan tim sar gabungan bisa secepatnya bisa menemukan korban yang masih dalam pencarian. Tapi data korban ini masih belum valid, karena pihak tim sar gabungan masih menunggu informasi dari pihak keluarga, dan mudah-mudahan tidak ada lagi laporan adanya pihak keluarga yang berada dalam kM Nurul Salsa tersebut,” katanya.

Sumber: Tribunnews.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *