Lindsey Graham, Pendukung Utama Trump, Wafat Mendadak

Senator Amerika Serikat Lindsey Graham wafat karena sakit mendadak dalam usia 71 tahun. Politikus Republikan itu merupakan pendukung utama Presiden Donald Trump, terutama dalam dukungan kepada Israel dan perang melawan Iran.

”Pada Sabtu malam, 11 Juli, Senator AS Lindsey Graham meninggal setelah mengalami sakit singkat dan mendadak,” demikian pernyataan kantor Graham melalui akun resminya di platform X, Minggu (12/7/2026).

Sehari sebelum meninggal, Graham bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Kyiv, Jumat (10/7/2026). Ia sedianya tampil dalam program ”Meet the Press” di NBC News pada Minggu (12/7/2026) pagi.

Belum ada penjelasan lebih lanjut mengenai penyakit ataupun penyebab kematian Graham. Namun, dikutip dari media CBS, rekaman panggilan darurat pada Sabtu malam menyebut petugas dikirim ke kediamannya di Capitol Hill untuk menangani henti jantung.

Henti jantung merupakan kondisi yang ditangani petugas saat dipanggil, bukan penjelasan resmi mengenai penyebab kematian Graham.

Trump menyampaikan penghormatan kepada Graham melalui media sosial Truth Social. Ia menyebut Graham sebagai salah satu orang dan senator terhebat yang pernah dikenalnya.

”Senator Lindsey Graham, salah satu orang dan senator terhebat yang pernah saya kenal, telah meninggal! Ia selalu bekerja dan merupakan seorang patriot Amerika sejati. Lindsey akan sangat dirindukan!!!” tulis Trump.

Pendukung Israel dan perang Iran

Graham dikenal sebagai politikus berhaluan keras dalam urusan luar negeri. Ia merupakan pendukung Israel dan Ukraina. Ia juga dikenal sebagai penentang keras Iran. Graham mendukung perang melawan Iran.

Ia sempat menolak rancangan awal nota kesepahaman yang ditandatangani Trump dengan Iran. Tiga pekan sebelum meninggal, seusai bertemu Trump selama empat setengah jam, Graham mengatakan, upaya diplomatik dengan Iran kemungkinan akan gagal.

”Mari mencoba solusi diplomatik. Saya kira itu akan gagal. Apa yang terjadi selanjutnya?” kata Graham dalam program ”Face the Nation with Margaret Brennan”. ”Kepada semua orang yang mendengarkan, jika upaya diplomatik ini gagal, Presiden Trump akan mengambil Selat Hormuz. Kami akan mengelolanya,” ujarnya.

Graham juga merupakan pendukung lama Israel. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut Graham sebagai sahabat besar Israel sekaligus sahabat pribadinya. Israel kehilangan salah satu sahabat terbesarnya dan AS kehilangan seorang patriot besar.

”Lindsey adalah sahabat besar Israel dan sahabat saya yang sangat saya hargai,” kata Netanyahu.

Graham juga menjadi salah satu pendukung utama Ukraina sejak Rusia melancarkan invasi skala penuh pada Februari 2022. Dalam pertemuan mereka terakhir di Kyiv pada Jumat pekan lalu, Graham dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy membahas kebutuhan pertahanan udara Ukraina.

Keduanya juga membahas rancangan undang-undang sanksi terhadap Rusia. Kunjungan tersebut merupakan kunjungan ke-10 Graham ke Ukraina sejak invasi Rusia pada 2022.

Zelenskyy mengatakan, dirinya sangat berduka atas kematian Graham dan menyebutnya sebagai pembela sejati kebebasan dan nilai-nilai yang membuat dunia kita lebih aman.

”Kami akan selalu sangat berterima kasih atas pengakuannya terhadap rakyat kami dan kata-kata kekagumannya atas keberanian para pembela Ukraina,” tulis Zelenskyy.

Muluskan agenda Trump

Graham pertama kali terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat AS pada 1994 untuk mewakili Distrik Kongres Ketiga South Carolina. Ia terpilih menjadi senator pada 2002 dan kembali memenangi pemilihan pada 2008, 2014, dan 2020.

Ia pernah memimpin dua komite penting di Senat, yakni Komite Kehakiman dan Komite Anggaran. Menjelang kematiannya, ia menjabat Ketua Komite Anggaran Senat serta menjadi anggota Komite Alokasi Anggaran, Komite Kehakiman, dan Komite Lingkungan Hidup dan Pekerjaan Umum.

Dikutip dari The New York Times, sebagai Ketua Komite Anggaran, Graham memainkan peran penting dalam menerjemahkan agenda domestik Trump menjadi undang-undang.

Ia mengawasi penyusunan resolusi anggaran. Resolusi itu memungkinkan Partai Republik mengesahkan paket besar mengenai pajak, imigrasi, dan belanja negara tanpa dukungan senator Demokrat.

Proses itu membutuhkan negosiasi selama berbulan-bulan di antara berbagai kelompok di Partai Republik. Graham dan pemimpin Republik menggunakan mekanisme rekonsiliasi anggaran. Hal ini karena partainya tidak memiliki 60 suara yang dibutuhkan untuk mengatasi penghadangan di Senat.

Pengesahan paket tersebut menjadi salah satu pencapaian utama pemerintahan Trump setelah kembali berkuasa.

Kematian Graham membuat Partai Republik kehilangan seorang tokoh kuat Senat. Ia meninggal bersamaan dengan senator senior Republikan lainnya, Mitch McConnell, masih dirawat di rumah sakit. MCconnell dirawat karena alasan kesehatan yang belum diungkapkan.

Dari pengkritik

Sebelum menjadi pendukung, Graham pengkritik paling keras melawan Trump. Keduanya bersaing memperebutkan pencalonan presiden dari Partai Republik pada 2016.

Saat kampanye 2016, Graham bahkan memperingatkan bahwa Partai Republik akan hancur apabila mencalonkan Trump. Ia juga menyebut Trump sebagai penghasut rasial, xenofobia, dan fanatik agama.

”Ia tidak mewakili partai saya. Ia tidak mewakili nilai-nilai yang diperjuangkan oleh laki-laki dan perempuan yang mengenakan seragam,” kata Graham pada 2015, dikutip dari CNN.

Dalam wawancara lain pada tahun yang sama, Graham menyebut Trump seorang demagog, politikus penghasut yang mengeksploitasi emosi massa. ”Anda tahu bagaimana membuat Amerika hebat kembali?” katanya. ”Suruh Donald Trump pergi ke neraka.”

Hubungan keduanya kembali menegang setelah penyerbuan Gedung Capitol pada 6 Januari 2021. ”Jangan libatkan saya lagi. Cukup sudah,” katanya saat itu.

Namun, sebulan kemudian, ia memilih membebaskan Trump dalam sidang pemakzulan kedua di Senat. Sejak itu, ia menjadi pendukug terbesar Trump.

Dalam pidato setelah memenangi pemilihan pendahuluan bulan lalu, Graham bahkan bergurau memuji Trump. ”Bapak Presiden, Anda tidak jauh berada di belakang Tuhan,” ujarnya.

Meski demikian, Graham tidak selalu mendukung keputusan Trump. Ia, antara lain, menentang keputusan Trump mengampuni sekitar 1.500 pendukungnya yang terlibat dalam penyerbuan Gedung Capitol. Graham memperingatkan bahwa pengampunan itu dapat memicu kekerasan baru.

Sebelum itu, Graham juga kerap mengkritik kebijakan luar negeri Presiden Barack Obama. Pada 2015, ketika pemerintahan Obama merundingkan kesepakatan nuklir dengan Iran, Graham menyebut Obama sebagai lawan yang lemah terhadap kejahatan.

Graham tidak menikah dan tinggal di Seneca, South Carolina.

Sumber: Kompas.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *