Dalam Dua Hari, AS Kehilangan Empat Pesawat di Iran

 Amerika Serikat kehilangan setidaknya empat pesawat di Iran pada 3-4 April 2026. Sebagian akibat ditembak lawan, sebagian karena diledakkan sendiri.

Penerbangan pesawat-pesawat itu dan upaya penyelamatan awaknya menunjukkan, AS bisa menyusup jauh ke dalam Iran nyaris tanpa perlawanan berarti. Sejak menyerang Iran pada 28 Februari 2026, AS telah kehilangan setidaknya 13 pesawat.

Media AS, The New York Times dan CNN, pada Minggu (5/4/2026) menyiarkan rangkaian peristiwa tersebut. Dalam laporan itu dikutip sejumlah pejabat AS yang menolak identitasnya diungkap. Keterangan resmi Presiden AS Donald Trump dan sejumlah pejabat pertahanan AS juga dikutip dalam laporan tersebut.

The New York Times melaporkan, jet tempur F-15E yang diawaki dua orang, pesawat serang A-10 yang diawaki satu orang, dan dua pesawat angkut rusak di Iran. F-15E dan A-10 ditembak jatuh. Pesawat angkut, yang tidak disebut jenisnya, dihancurkan sendiri oleh pasukan AS.

Jet F-15E dan A-10 ditembak di lokasi dan waktu berbeda, walau berdekatan, pada Jumat (3/4/2026). Untuk menyelamatkan awak pesawat itu, AS mengerahkan sejumlah helikopter dan pesawat angkut.

Dalam rekaman video yang telah diverifikasi sejumlah pihak, terlihat helikopter ditembaki sejumlah orang. Penembak menggunakan senapan biasa. Helikopter pun menjauh.

Sementara Reuters pada Minggu melaporkan, pesawat C-130 AS ditembaki di sekitar Isfahan, Iran. Tak ada keterangan lebih lanjut soal pesawat itu.

Dari perbatasan Iran-Irak, Isfahan berjarak hampir 400 kilometer. Sejauh itu pesawat dan helikopter AS bisa masuk ke Iran.

Dalam laporan The New York Times, pasukan khusus AS meledakkan dua pesawat angkut yang dipakai dalam pencarian awak F-15E. Pesawat itu dinyatakan tersuruk di tanah dan tidak bisa bergerak. Oleh karena itu, daripada jatuh ke tangan lawan, diputuskan pesawat itu dihancurkan.

Media lain di AS, FoxNews, menyebut pesawat yang dihancurkan adalah C-130. Menurut FoxNews, hanya satu pesawat dihancurkan.

Karena pesawat hancur, pasukan AS membutuhkan transportasi lain. Oleh karena itu, diterbangkan tiga pesawat lain. Semua pesawat baru itu berikut orang yang mereka angkut dilaporkan telah keluar dari Iran.

Penyelamatan kolonel

Reporter pertahanan FoxNews, Jennifer Griffin, menyebut operasi itu untuk menyelamatkan kolonel yang mengawaki F-15E. Kala pesawat jatuh, dua awak F-15E menyelamatkan diri dari pesawat dengan menggunakan kursi lontar.

Pilot pesawat diselamatkan lebih dulu. Sementara kolonel yang mengurusi persenjataan pesawat tidak ditemukan hampir dua hari sejak F-15E jatuh.

Perwira itu dilaporkan harus mendaki ratusan meter ke lokasi aman dan menghindari kejaran pasukan Iran. Sementara AS mengebom sejumlah lokasi di antara tempat persembunyian kolonel itu dengan posisi pasukan Iran.

Operasi itu dilakukan lintas lembaga. Badan intelijen AS, CIA, menyiarkan informasi palsu bahwa semua awak pesawat sudah diselamatkan dari Iran.

Sementara Angkatan Bersenjata AS mengerahkan ratusan orang di lapangan dan sejumlah pos untuk mencari kolonel yang tak disebut identitasnya. Awak pesawat itu disebut dilengkapi perangkat komunikasi khusus dan pemancar sinyal lokasi.

Sinyal itu pertama kali ditangkap tak lama setelah pesawat jatuh. Hanya, awak pesawat tak bisa sering-sering menyiarkan posisi terakhirnya. Sebab, dikhawatirkan sinyal itu ditangkap juga oleh Iran sehingga perwira itu bisa segera disergap.

Sinyal dari perwira itu, menurut Griffin, antara lain hanya bisa ditangkap oleh CIA. Oleh CIA, lokasi perwira itu diberikan ke Departemen Pertahanan dan Markas Besar Angkatan Bersenjata AS. Lokasi itu menjadi fokus pencarian.

Setelah bersembunyi hampir dua hari, perwira AS itu diselamatkan. Walakin, pesawat angkut yang rusak menjadi tantangan terakhir. Kedatangan tiga pesawat baru mengakhiri upaya penyelamatan itu.

Dengan peledakan dua pesawat angkut itu, AS telah kehilangan setidaknya 13 pesawat sejak menyerang Iran. Kehilangan pertama adalah tiga pesawat F-15 yang ditembak di Kuwait. Menurut keterangan resmi, pesawat itu tak sengaja ditembak pertahanan udara Kuwait.

Lalu, AS kehilangan satu tanker udara KC-135 Irak. Dalam peristiwa itu, enam awak pesawat tewas dan pesawat meledak setelah jatuh.

Di Pangkalan Udara Pangeran Sultan, Arab Saudi, AS menderita kerugian lebih besar. Setidaknya lima KC-135 dan satu pesawat intai-peringatan dini E-3 Sentry hancur akibat serangan Iran.

Setelah itu, A-10 dan F-15E jatuh di Iran serta diikuti peledakan dua pesawat yang dikerahkan dalam upaya pencarian awak F-15E.

AS juga membenarkan, satu F-35 terpaksa mendarat darurat di tengah serangan ke Iran. Pesawat dan awaknya dilaporkan selamat.

Selain itu, beberapa sumber menyebut sejumlah pesawat nirawak serang dan intai AS ditembak Iran. Pesawat yang dimaksud adalah model MQ dengan harga per unit lebih dari 20 juta dolar AS.

Washington mengerahkan pesawat nirawak model lain yang lebih murah, LUCAS, dalam serangan ke Iran. AS mengakui, LUCAS meniru pesawat Shaheed buatan Iran.

Sumber: kompas.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *