Rencana pembangunan Markas Batalyon Teritorial Pembangunan (Yon TP) 872 di Desa Rampoang, Kecamatan Tana Lili, Kabupaten Luwu Utara, Sulsel memicu perselisihan antara warga adat dan aparat hingga berujung pada bentrokan pada Jumat (5/12/2025).
Warga setempat menolak keras dimulainya pembukaan lahan untuk pembangunan markas tersebut, mengklaim bahwa area itu merupakan bagian dari tanah adat Kawu-Kawu yang telah dikelola secara turun-temurun.
Mereka menegaskan belum pernah ada proses musyawarah atau pelepasan hak adat yang dilakukan sebelum aktivitas pembangunan dimulai.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) bersikukuh bahwa lahan tersebut adalah aset milik provinsi yang telah resmi dihibahkan kepada TNI untuk pendirian Markas Yon TP 872. Hibah ini disebut sebagai upaya penguatan pertahanan wilayah.
Saling klaim memuncak ketika sejumlah warga berusaha menghalangi proses pembukaan lahan. Kericuhan tak terhindarkan setelah terjadi saling dorong antara warga dan personel TNI yang bertugas melakukan pengamanan di lokasi.
Pendamping masyarakat Desa Rampoang, Hariono, membenarkan adanya bentrokan tersebut.
“Ada upaya pencegahan dari masyarakat saat pembukaan lahan karena mereka meminta aktivitas dihentikan sampai persoalan dengan pemerintah provinsi selesai,” ujar Hariono, Sabtu (6/12/2025).
Ia menambahkan, gesekan fisik yang terjadi cukup parah.
“Terjadi gesekan di lapangan seperti di video yang beredar. Ada warga yang mengalami luka di wajah hingga giginya patah,” katanya mengungkapkan.
Hariono juga mengirimkan rekaman video kepada Tribun-Timur.com yang menunjukkan sejumlah warga dan anggota TNI di area kebun kelapa sawit, di mana beberapa warga terlihat berlarian setelah dugaan pemukulan oleh aparat.
Menanggapi bentrokan, Dandim 1403 Palopo, Letkol Inf Windra Sukma Prihantoro, memberikan penjelasan.
Ia menyebut situasi sempat memanas karena adanya pihak yang memprovokasi.
“Ada oknum provokator yang sempat memukul anggota, jadi situasinya sempat memanas,” ujarnya.
Meskipun terjadi konflik, Letkol Windra memastikan bahwa proses pembukaan lahan tetap dilanjutkan.
“Pembukaan lahan tetap berlanjut. Sudah ada sekitar tiga hektare yang dibuka,” tuturnya.
Sumber: tribunnews.com

