Selamatkan Ekonomi, Bolivia Potong Belanja Negara dan Hapus Aneka Pajak

Demi mengatasi krisis ekonomi, Presiden Bolivia Rodrigo Paz akan memotong belanja negara hingga 30 persen. Ia juga berencana menghapus sejumlah pajak.

Kantor berita Associated Press, Rabu (26/11/2025), melaporkan, rencana itu diungkap presiden baru Bolivia tersebut pada Selasa waktu setempat di La Paz. Ini merupakan langkah pertama Paz sejak menjadi pemimpin Bolivia dua pekan lalu untuk menyelamatkan perekonomian yang dilanda krisis.

Paz berasal dari kubu konservatif pro-Amerika Serikat. Ia mengubah haluan negaranya yang hampir 20 tahun terakhir dipimpin sayap kiri, Partai Pergerakan Sosialisme (MAS). Ia bermaksud membalikkan langkah-langkah ekonomi populis yang bertahun-tahun diambil di bawah MAS.

Paz mengumumkan pemerintahnya akan memangkas 30 persen dari total belanja federal dalam anggaran Bolivia pada 2026. Namun, ia tidak memberikan lebih lanjut tentang bagaimana pemerintahnya akan memotong anggaran belanja begitu besar.

Berbicara kepada media, Paz menjanjikan menghapus pajak kekayaan yang dianggap menghambat pertumbuhan ekonomi dan membuat orang kaya enggan berinvestasi. Pajak kekayaan diterapkan oleh pendahulu Paz, Luis Arce.

Pungutan lain yang akan dihapus adalah pajak transaksi sebesar 0,3 persen yang diterapkan setiap hari. Paz berharap langkah tersebut membuat rakyat Bolivia kembali memercayai transaksi perbankan dan menghindari menyimpan uang tunai dalam jumlah besar karena menghindari potongan pajak.

Aturan untuk memotong pajak harus mendapat persetujuan Kongres Bolivia sebelum dapat diberlakukan. Meski demikian, kalangan pengusaha sudah menyambut gembira keputusan tersebut.

”Penindasan atas sektor swasta kini berakhir. Kita memasuki era kepastian hukum,” kata Klaus Freking, pengusaha besar sektor pertanian Bolivia.

Namun, Paz dan Menteri Ekonomi Jose Gabriel Espinoza mengatakan, untuk saat ini, mereka belum akan merombak total kebijakan ekonomi yang ditinggalkan kubu sosialis MAS. Ini terutama kebijakan soal subsidi bahan bakar minyak (BBM), termasuk harga minyak termurah di dunia, yang masih dipertahankan.

Langkah mematok nilai tukar mata uang Bolivia dengan dollar AS juga masih dilanjutkan. Kebijakan mematok nilai tukar tersebut menyebabkan Bank Sentral Bolivia kehabisan devisa.

”Presiden melangkah dengan kaki kanan untuk memancing investasi. Namun, dia belum menyentuh akar masalah,” kata analis ekonomi Bolivia, Gonzalo Chavez.

Paz berusaha mewujudkan janji kampanye, yakni secara bertahap mengubah kebijakan fiskal untuk mengangkat Bolivia keluar dari jurang krisis ekonomi terburuk dalam 40 tahun. Ia menghindari langkah ekstrem  yang kerap mengguncang ekonomi Bolivia sejak 1990-an.

Walau langkah-langkah besar masih dinantikan, saat ini sudah terlihat gejala positif di masyarakat. Setidaknya, antrean BBM di pom bensin di Bolivia sudah tidak lagi terlihat. Paz berhasil mengamankan impor BBM di negeri yang terisolasi di daratan Amerika Selatan itu.

Kongres Bolivia berhasil mengamankan pinjaman dari Kerja Sama Pembangunan Negara Pegunungan Andes sebesar 3,1 miliar dollar AS. Sebanyak 550 juta dollar AS sudah dicairkan.

Paz memperkirakan seluruh paket bantuan akan cair dalam 60-90 hari tanpa menyebut kreditor mana saja yang membantu Bolivia.

Pemerintah Bolivia yang baru ini memperbaiki hubungan dengan AS yang sejak pemerintahan mantan Presiden Evo Morales memutus kerja sama antinarkotika dengan AS. Pada 2008, badan anti narkotika AS, DEA, dipulangkan oleh Morales. Pemerintah Morales menjalin hubungan erat dengan Rusia, Venezuela, dan Iran.

Departemen Luar Negeri AS mengumumkan kesepakatan kerja sama nuklir dan pertahanan dengan Bolivia. Paz juga mengumumkan akan mengizinkan Starlink, layanan komunikasi milik taipan Elon Musk, beroperasi bebas di Bolivia. Tahun lalu, Starlink masih dilarang beroperasi di Bolivia.

Setelah Bolivia mulai dilirik investor asing, surat utang pun mulai diedarkan. Nilai mata uang Bolivia, yakni boliviano, terhadap dollar AS menguat.

Litium

Panglima Komando Selatan Amerika Serikat Jenderal Laura Richardson dalam forum CSIS di Washington DC, AS, Agustus 2023, mengungkap nilai penting kawasan tersebut bagi AS. Sekitar 60 persen litium dunia berasal dari Bolivia dan sekitarnya. Segitiga litium dunia berada di Bolivia, Argentina, dan Chile.

Komando Selatan AS pada 7 November 2019 menerbitkan artikel berjudul ”Perusahaan China dan Eksploitasi Litium Bolivia” yang dianggap sebagai ancaman lintas negara.

Dalam Euronews edisi 11 November 2019, mantan Presiden Uruguay Jose Mujica menuding kekuatan tertentu melengserkan Morales demi menguasai litium di Bolivia. Mujica, yang dikenal sebagai presiden termiskin di dunia karena berani hidup sederhana, menyatakan curiga bahwa jatuhnya Morales terkait dengan cadangan litium di Bolivia.

Profesor nanomineralogi di Trinity College, Dublin, Irlandia, Diego Rodriguez Blanco, mengatakan, investor Jerman dan China menanamkan modal di Bolivia untuk mengembangkan industri litium.

Perusahaan Jerman, ACI Systems, menanamkan modal 1,3 miliar dollar AS untuk industrialisasi litium demi produksi lokal baterai. Kontrak tersebut dibatalkan Morales beberapa hari sebelum turun dari jabatan.

Bolivia telah meluncurkan Quantum, kendaraan listrik pertama di negeri kaya litium itu. Namun, Quantum kesulitan bersaing dengan kendaraan berbahan bakar minyak yang masih disubsidi pemerintah. Hingga 2023, Quantum baru menjual 350 unit di Bolivia.

Semasa Perang Dunia II (1940-1945), AS mengimpor timah, wolfram, hingga kina dari Bolivia. AS juga merangkul Bolivia untuk membendung pengaruh Jerman di Amerika Latin. Ketika itu, Bolivia menasionalisasi maskapai penerbangan milik investor Jerman. 

Sumber: kompas.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *