Terbang Rendah Airlink, Batas Tipis Antara Hiburan dan Keselamatan Penerbangan

Atraksi terbang rendah yang dilakukan dua pesawat penerbangan sipil di Afrika Selatan, akhir pekan lalu, berbuntut panjang. Dua pesawat jenis Embraer milik maskapai Airlink itu terbang sangat rendah di atas Stadion DHL, Cape Town, Afrika Selatan, Sabtu (29/8/2026).

Atraksi yang dilakukan sebelum pertandingan rugbi antara Springboks (Afrika Selatan) dan All Blacks (Selandia Baru) itu disambut sorak-sorai meriah dari sekitar 56.000 penonton di dalam stadion.

Namun, aksi tersebut juga memicu perdebatan mengenai risiko keselamatan penerbangan, setelah rekaman video dari penonton di dalam dan sekitar stadion tersebar luas secara daring. Di sisi lain, ada juga yang memuji presisi dan keahlian pilotnya.

Situs pelacakan penerbangan Flightradar24 menyatakan, berdasarkan analisis mereka, pesawat pertama melintas pada ketinggian kurang dari 50 kaki (15 meter) di atas atap stadion.

Lalu, disusul dengan pesawat kedua yang terbang sangat dekat di belakangnya. Atraksi terbang lintas (flypast) ini dilakukan menggunakan dua pesawat, yaitu Embraer E195 dengan registrasi ZS-YDE dan Embraer E190 dengan registrasi ZS-YAE.

Pesawat E195 menampilkan corak atau livery hitam bertema ”Rugby’s Greatest Rivalry”, sedangkan pesawat E190 menampilkan corak hijau dengan gaya serupa.

Pada Rabu (2/9/2026), Otoritas Penerbangan Sipil Afrika Selatan (SACAA) menyatakan akan meninjau peristiwa tersebut. SACAA telah memperoleh rekaman data penerbangan dan mengumpulkan informasi tambahan dari maskapai Airlink.

Flight data recorder (FDR) telah diserahkan pihak Airlink kepada SACAA pada awal pekan ini. SACAA menyatakan akan memeriksa secara mendalam data penerbangan tersebut untuk menentukan apakah terdapat masalah keselamatan yang memerlukan peninjauan lebih lanjut. Laporan lengkap beserta rekomendasi akan diterbitkan setelah peninjauan selesai.

Pihak maskapai mengakui banyak pro kontra yang muncul akibat atraksi udara tersebut. ”Kami sama sekali tidak berniat menjadi pusat pemberitaan atau mengalihkan perhatian atas persaingan kedua tim dalam dunia rugbi tersebut,” ujar CEO Airlink, De Villiers Engelbrecht.

Airlink menyatakan bahwa manuver tersebut telah direncanakan dan dilatih dengan cermat. Maskapai juga menegaskan bahwa keselamatan menjadi pertimbangan utama di setiap proses.

Dalam keterangan resmi, pihak maskapai menyebutkan bahwa tiap-tiap pesawat yang terlibat dalam atraksi itu diawaki oleh tiga kapten senior, yang berperan sebagai komandan, kopilot, dan petugas keselamatan. Para awak pesawat itu telah memiliki total jam terbang mencapai lebih dari 75.000 jam. Kedua pesawat terbang dengan kecepatan 150 knots saat melintas di atas stadion. Tidak ada penumpang dalam penerbangan itu.

Mengutip laporan CNN, sejumlah ahli penerbangan menyatakan bahwa penerbangan tersebut tidak sepadan dengan risikonya.

Mantan Direktur Badan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat (NTSB) Pete Goelz mengatakan, ketinggian pesawat yang sangat rendah itu adalah prosedur yang sangat tidak aman dan tidak perlu.

”Penerbangan rendah di ketinggian 1.000 kaki sebenarnya sudah mengesankan dan orang-orang menikmatinya. Tidak ada alasan untuk terbang lebih rendah selain mengambil risiko yang tidak perlu,” kata Goelz.

Aturan penerbangan Amerika Serikat menyatakan pesawat harus tetap berada setidaknya 1.000 kaki di atas daerah padat penduduk, kecuali jika memiliki izin eksplisit dari Administrasi Penerbangan Federal.

Atraksi terbang Airlink pada Sabtu di atas Stadion DHL, Cape Town, itu merupakan aksi yang kedua kali. Atraksi yang pertama dilakukan di Johannesburg pada 22 Agustus 2026. Airlink sebenarnya masih menjadwalkan satu atraksi terbang rendah lagi di Johannesburg pada akhir pekan nanti, tetapi atraksi ketiga itu telah dibatalkan.

Dalam keterangan resminya, SACAA mengatakan, sebagai otoritas penjaga keselamatan ruang udara Afrika Selatan, mereka akan memberikan jaminan kepada publik bahwa kepatuhan terhadap keselamatan dan keamanan penerbangan menjadi prioritas utama. Afrika Selatan menempati peringkat ketujuh secara global dan pertama di Afrika untuk standar keselamatan penerbangan menurut Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menangani keselamatan dan keamanan penerbangan sipil.

Dunia rugbi Afrika Selatan memiliki tradisi unik terkait atraksi terbang lintas di atas stadion saat pertandingan-pertandingan besar berlangsung. Hal tersebut bermula sejak final Piala Dunia Rugbi 1995 di Johannesburg.

Saat itu, sebuah Boeing 747 milik South African Airways terbang rendah dan melintas di atas stadion menjelang pertandingan final Piala Dunia Rugbi yang mempertemukan Afrika Selatan dan Selandia Baru. Kemudian, pada 2024, sebuah A380 milik Emirates juga terbang di atas stadion yang sama meski dengan ketinggian yang masih beberapa ratus kaki di atas stadion.

Atraksi terbang rendah dan manuver pesawat lainnya yang melibatkan penonton biasanya ditampilkan dalam ajang air show atau pameran kedirgantaraan.

Pada Juli lalu seorang pilot dari Blue Angels, tim aerobatik udara Angkatan Laut AS, terbang rendah di atas kerumunan penonton dalam pertunjukan udara di Pantai Pensacola, Florida. Atraksi itu menyebabkan tenda-tenda di area pertunjukan beterbangan.

Sebulan sebelumnya, sebuah Boeing 777 yang sedang dalam penerbangan uji coba, terbang serendah 25 kaki di atas landasan pacu di Horseshoe Bay, Texas, yang memicu penyelidikan oleh otoritas federal.

Namun, atraksi terbang lintas dua pesawat Airlink di Cape Town yang sangat rendah dan dramatis itu sukses menarik perhatian dunia, termasuk memicu reaksi apakah atraksi serupa masih dapat ditoleransi dari sisi keselamatan penerbangan.

Sumber: Kompas.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *