Gunung Buthak di Malang Terbakar, 271 Pendaki Dievakuasi

Hutan dan lahan seluas 15 hektar di lereng Gunung Buthak, kawasan Pegunungan Putri Tidur, di perbatasan Kota Batu dan Kabupaten Malang, Jawa Timur, terbakar, Selasa (1/9/2026). Api berhasil dipadamkan beberapa jam kemudian. Sementara itu, 271 pendaki yang tengah berada di atas gunung diminta turun.

”Pagi ini pendaki sudah terevakuasi semua dalam kondisi selamat, sedangkan nyala api bisa dipadamkan kemarin (Selasa) sore. Penyebab kebakaran belum diketahui,” ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu Suwoko, Rabu (2/9/2026) pagi.

Saat kebakaran terjadi, berdasarkan data BPBD Kota Batu, terdapat 271 pendaki di atas gunung. Sebanyak 176 orang naik pada Senin (31/8/2026), sedangkan 95 orang lainnya telah berada di atas sejak sehari sebelumnya. Hingga Selasa pukul 19.00 WIB, sebanyak 99 pendaki dalam perjalanan turun.

Selanjutnya, menurut Suwoko, aktivitas pendakian di Gunung Buthak, Bokong, dan Panderman ditutup sampai batas waktu yang belum ditentukan. Hari ini, tim dari Perhutani akan melakukan penyisiran ulang untuk memastikan api tidak menyala kembali.

Kebakaran di lereng Gunung Buthak diketahui pada Selasa sekitar pukul 12.46 WIB, tepatnya di Petak 100 Pos 3 Pendakian Gunung Buthak. Kondisi medan yang curam membuat pemadaman membutuhkan banyak personel. Sembari memadamkan api, personel juga naik untuk meminta para pendaki turun.

Sementara itu, kebakaran hutan dan lahan di Semeru hingga kini belum berhasil dipadamkan. Api berada di dua titik, yakni Ranu Kumbolo dan kawasan B29. Total luas area terdampak kebakaran yang berlangsung sejak 26 Agustus itu mencapai 598 hektar. Lokasi kebakaran yang jauh dari akses jalan serta kondisi medan terjal menjadi kendala utama pemadaman.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kepala BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto mengatakan, pemadaman di Semeru akan kembali memanfaatkan helikopter untuk melakukan water bombing. Namun, saat ini helikopter tersebut masih berada di Lampung. Setelah pemadaman di Lampung selesai, helikopter akan segera digunakan untuk membantu pemadaman di Semeru.

Saat ini, tim darat lebih fokus melakukan pemadaman di lokasi yang mudah diakses. Petugas gabungan hanya dapat melakukan pemadaman secara tradisional dengan gepyok serta membuat sekat bakar untuk mengantisipasi api meluas. Sementara itu, lokasi yang sulit dijangkau hanya dipantau dari kejauhan.

Kebakaran hutan dan lahan di Semeru berlangsung sejak 26 Agustus 2026. Jika sebelumnya titik api berada di sekitar Ranu Kembang, kini api telah menjalar hingga jalur pendakian di Kalimati, Gunung Kepolo, hingga Ayak-ayak. Sedikitnya tiga kendala dihadapi tim pemadaman, mulai dari medan terjal, embusan angin kencang, hingga keterbatasan sumber air.

Disinggung soal jumlah pendaki yang gagal naik akibat penutupan jalur pendakian, Kepala Tata Usaha Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS) Bambang Suriyono mengatakan, pihaknya masih melakukan pendataan. ”Kami masih melakukan pendataan semuanya,” ujarnya melalui Whatsapp.

Pihak BBTNBTS memberikan opsi kepada para pendaki untuk melakukan penjadwalan ulang atau meminta pengembalian tiket. Masa penjadwalan ulang dan pengembalian tiket diperpanjang hingga 14 September 2026.

Sementara itu, saat dihubungi secara terpisah, dosen Kehutanan Universitas Muhammadiyah Malang Tatag Muttaqin mengatakan, maraknya kebakaran hutan dan lahan, terutama di kawasan gunung di sejumlah daerah, termasuk Jawa Timur, tidak bisa dilepaskan dari dua faktor, yakni aktivitas manusia dan faktor alam.

Sebagian besar vegetasi penyusun kawasan pegunungan berupa savana. Saat musim kemarau, kekurangan air dan menurunnya kelembaban membuat kondisi savana menjadi relatif kering. ”Karena kering, maka bisa menjadi bahan bakar yang mudah sekali terbakar tatkala ada pemicunya,” ujarnya.

Dalam ilmu kehutanan, menurut Tatag, pemicu kebakaran hutan terbagi menjadi dua. Pertama, faktor natural atau alam. Kedua, aktivitas manusia. Faktor alam relatif kecil kemungkinannya meski tetap dapat terjadi. Prosesnya membutuhkan gesekan antarmaterial kering hingga menimbulkan panas dan kemudian bara api. Proses tersebut membutuhkan waktu.

Sementara itu, dari sisi aktivitas manusia, tanpa melihat motifnya, kondisi lahan di Jawa Timur memang berpotensi untuk berbagai aktivitas, termasuk wisata pendakian dan pengolahan lahan.

”Paling banyak kalau saya melihat penyebabnya dari nomor dua itu, aktivitas manusia. Terlepas dari kegiatan membuka lahan atau kunjungan wisatawan, misalnya, yang barangkali dia belum memahami bahwa kegiatannya bisa memicu kebakaran, itu bisa menjadi salah satu faktor penyebab kebakaran,” katanya.

Mengenai kondisi panas atau terik di lapangan, menurut Tatag, jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, perbedaannya relatif tidak banyak. Hanya saja, tahun ini ada dampak El Nino.

”Selalu berulang. Kalau melihat iklim, sama-sama panas. Kalau berbicara durasi, mungkin saat ini akan lebih panjang. Namun, durasi musim hujannya kemarin juga panjang kalau di Jawa Timur. Sebenarnya prosesnya belum seekstrem yang kita bayangkan bahwa ini dampak dari panas,” ujarnya.

Sumber: Kompas.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *