GRUP musik Ungu akan menggelar konser bertajuk Ungu – Waktu yang Dinanti: Final Chapter di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, pada 30 Oktober 2026. Konser tersebut menjadi penampilan tunggal berskala penuh pertama yang mereka hadirkan di Indonesia setelah berkarya sejak 1996.
Vokalis Ungu, Sigit Purnomo Said atau Pasha, mengatakan selama ini bandnya lebih sering menggelar konser tunggal di luar negeri, seperti Malaysia, Singapura, dan Australia. Namun tahun ini konser mereka akan berlangsung konsep yang digarap secara menyeluruh, mulai dari tata panggung, alur lagu, hingga penampilan bintang tamu.
“DenganĀ full treatment, dengan panggung yang dipikirkan, dengan konsep alur lagu yang dipikirkan, dengan guest star yang dipikirkan,” kata Pasha dalam konferensi pers Rabu, 5 Agustus 2026.
Pasha mengungkapkan konser tersebut berawal dari kegelisahan para personel Ungu yang selama ini lebih sering menggelar konser tunggal di luar negeri dibandingkan di Indonesia. Menurut dia, penggemar yang tergabung dalam Cliquers juga kerap mempertanyakan mengapa Ungu belum pernah mengadakan konser tunggal dengan konsep penuh di Tanah Air.
“Ini juga menjadi pertanyaan teman-teman Cliquers. Akhirnya kegelisahan ini terjawab karena label merespons bahwa sudah saatnya Ungu menggelar konser 30 tahun,” ujar Pasha.
Menurut Pasha, konser tersebut menjadi bentuk rasa syukur Ungu kepada para pendengar yang telah mendukung perjalanan band itu selama 30 tahun. Karena itu, seluruh personel menyiapkan pertunjukan secara serius, mulai dari tata panggung, konsep pertunjukan, hingga daftar lagu yang akan dibawakan.
“Memang dalam rangka 30 tahun Ungu berkarya dan dalam rangka kami berterima kasih terhadap industri musik dan pendengar musik Indonesia. Konser ini buat kami sangat serius. Akan banyak hal yang sebelum ini belum pernah kami tampilkan,” ucapnya.
Pasha mengatakan konser ini tidak hanya menampilkan lagu-lagu hit Ungu saja. Menurut dia, repertoar akan disusun untuk merepresentasikan perjalanan musikal band tersebut sejak berdiri pada 1996. “Pertimbangannya bukan hanya hits, tapi lagu-lagu yang merepresentasikan perjalanan karier Ungu bermusik. Mungkin ada sebagian hits, mungkin ada beberapa lagu yang punya arti khusus buat kita,” katanya.
Ia memperkirakan Ungu akan membawakan sekitar 30 lagu dalam konser tersebut. Seluruh personel masih menyusun urutan lagu agar penonton dapat menikmati perjalanan musikal Ungu dari awal hingga akhir pertunjukan. “Kurang lebih 30 lagu sesuai dengan judulnya. Saya bermimpi orang yang datang nonton konser Ungu akan menyanyikan dari lagu pertama sampai lagu terakhir,” ujar Pasha.
Selain menyiapkan sekitar 30 lagu dari total sekitar 15 album yang telah dirilis, Ungu juga tengah membahas kolaborasi dengan sejumlah musisi tamu. Namun, Pasha belum bersedia mengungkap identitas para bintang tamu maupun konsep kejutan yang telah disiapkan.
“Kalau disebutkan enggak kejutan namanya. Tapi pasti ada dan akan menjadi bagian dari keseluruhan konsep dalam cara kita bercerita lewat lagu-lagunya,” kata dia.
Pasha mengatakan konser tersebut juga menjadi momentum untuk menandai perjalanan panjang Ungu sejak berdiri pada 1996. Meski mengusung tema 30 tahun, ia menjelaskan formasi band yang dikenal saat ini tidak terbentuk sejak awal. “Dari formasi awal yang tersisa tinggal Mas Makki. Saya bergabung tahun ’99, Mas Rowman sempat keluar lalu bergabung lagi, sedangkan Mas Onci bergabung pada 2003. Jadi kalau formasi sekarang usianya belum 30 tahun,” kata Pasha.
Menurut Pasha, perjalanan tersebut membuat Ungu memiliki banyak penanda sejarah, mulai dari usia berdirinya band, usia formasi saat ini, hingga perjalanan diskografi yang dimulai pada 2000. Karena itu, ia menyebut Ungu memiliki banyak alasan untuk merayakan perjalanan mereka dalam beberapa tahun ke depan.
Pasha mengatakan perjalanan Ungu tidak selalu mulus. Pada awal karier, para personel sempat berusaha membangun citra band, tetapi justru menerima banyak cibiran. “Dulu kami coba bangun branding, yang kami dapat malah caci maki. Banyak yang bilang, ‘Ini band apaan?’ Tapi akhirnya waktu yang menjawab,” ujarnya.
Kini, kata Pasha, Ungu tidak lagi berupaya membangun citra tertentu. Band tersebut memilih kembali menjadi diri sendiri dan menikmati peran mereka sebagai musisi yang telah lama berkarya. “Kami back to basic. Mungkin dulu karena terlalu banyak memikirkan branding, kami malah menjadi orang lain. Sekarang cukup jadi papa-papa keren kekinian,” katanya.
Sumber: Tempo.co

