Berpacu dengan Waktu Menyelamatkan Korban Gempa Kolombia

Jumlah korban tewas akibat gempa bumi berkekuatan 7,4 magnitudo di Kolombia yang terjadi pada Senin (10/8/2026) terus bertambah. Dilansir kantor berita Reuters, Kamis (13/8/2026), jumlah korban tewas telah mencapai 265 jiwa dan sekitar 500 orang masih hilang.

Dalam pidato yang disiarkan secara nasional, Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella berjanji akan membentuk dana darurat untuk membantu membangun kembali rumah sakit, sekolah, rumah, dan infrastruktur yang telah hancur.

”Ini tidak diragukan lagi, merupakan tragedi dengan skala yang sangat besar,” kata De la Espriella dalam pidatonya. Ia dilantik tiga hari sebelum gempa berkekuatan 7,4 magnitudo tersebut, yang meruntuhkan bangunan di berbagai kota besar di wilayah barat Kolombia. ”Upaya kami difokuskan pada mereka yang masih hilang.”

De La Espriella juga mengumumkan keadaan darurat ekonomi di negara tersebut untuk menangani kerusakan akibat gempa, meskipun tidak menjelaskan secara rinci langkah-langkah apa yang akan diambil.

De La Espriella menyatakan akan memimpin langsung penanganan bencana dan mengunjungi wilayah-wilayah terdampak. Ia menjanjikan bantuan ekonomi bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.

”Kolombia bersatu dan kita akan melangkah maju bersama,” demikian bunyi pernyataan De La Espriella dalam sebuah unggahan dari pusat komando darurat di Bogota, menurut The New York Times. (Kompas.id, 12/8/2026).

Pihak berwenang mengatakan, sebagian besar korban jiwa berada di Cali, Pereira, Manizales, dan Quibdo. Pejabat memperkirakan gempa yang mengguncang negara Amerika Selatan itu sesaat setelah pukul 07.00 waktu setempat pada Senin (12.00 GMT) menyebabkan 3.770 orang terluka dan menghancurkan lebih dari 9.550 rumah.

Pereira, yang berada jauh di dalam kawasan penghasil kopi Kolombia, dan Cali, kota terbesar ketiga di negara tersebut, masing-masing melaporkan 83 dan 74 korban meninggal dunia.

Upaya penyelamatan di Cali dipusatkan di sekitar tujuh bangunan yang diduga masih ada korban yang selamat.

Di kompleks Torres del Limonar di bagian selatan kota, warga membentuk barisan panjang bersama tentara, pegawai kantor wali kota, dan pihak lainnya. Mereka memindahkan puing-puing dari bagian atas reruntuhan secara bergantian.Mereka berpacu dengan waktu karena batas kritis 72 jam semakin dekat. Dalam periode tersebut, peluang menemukan korban yang masih hidup jauh lebih besar. Karena itu, pencarian terus dilakukan meskipun kondisi di sejumlah lokasi terdampak masih berbahaya karena gempa susulan.

Pemerintah Kolombia kini menghadapi dua tantangan sekaligus, yakni menyelamatkan warga yang masih terjebak dan memenuhi kebutuhan ribuan orang yang kehilangan rumah akibat bencana tersebut.

Sumber: Kompas.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *