PBB Kirim 10.000 Kantong Mayat ke Venezuela

Sepekan setelah gempa dahsyat menghantam Venezuela, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengirimkan 10.000 kantong mayat, Senin (29/6/2026). Sudah lebih dari 1.700 jenazah ditemukan dan masih lebih dari 50.000 orang dilaporkan hilang hingga Senin petang.

Koordinator PBB untuk Venezuela Gianluca Rampolla del Tindaro di Markas PBB, New York, Senin, mengatakan PBB tidak berspekulasi mengenai jumlah korban jiwa. 

”Kami sudah menyiapkan pengiriman 10.000 kantong mayat ke Venezuela. Itu dilakukan dengan perhitungan tertentu dan dengan berat hati. Kita berharap jumlah korban tidak sebanyak kantong yang disiapkan,” kata Tindaro dalam jumpa pers secara daring.

Tindaro juga memuji reaksi cepat dunia. Sudah 27 negara mengirimkan 2.000 orang tim penyelamat berikut 160 anjing pelacak. Dia menambahkan, tim penyelamat berhasil menyelamatkan tujuh orang dari timbunan reruntuhan sepanjang Minggu (28/6/2026) atau empat hari sesudah gempa besar yang terjadi Rabu (24/6/2026).

Salah satu wilayah yang mengalami kerusakan parah adalah Provinsi La Guaira sekitar 40 kilometer timur laut ibu kota Caracas. Terlihat ratusan jenazah di dalam kantong mayat dijajarkan di dermaga pelabuhan.

Jenazah-jenazah tersebut menunggu proses identifikasi. Tumpukan peti mati disiapkan di sana di antara tumpukan peti kemas.

Petugas forensik berseragam biru bekerja sepanjang hari mengidentifikasi jenazah, antara lain dengan mencatat ciri-ciri khusus dan sosok korban. Keluarga yang kehilangan sanak kerabat menunggu dengan cemas dan gelisah di dekat dermaga La Guaira.

”Ada 11 anggota keluarga saya. Hanya dua yang selamat karena sedang bekerja saat gempa terjadi,” kata Wilker Mollala kepada AFP. Dia yakin keluarganya, anak dari adik perempuan, dan anak dari saudara lelakinya juga menjadi korban karena belum ditemukan setelah sepekan gempa terjadi.

”Kita harus tabah dan berharap walau kekurangan makan dan nyaris tidak bisa tidur. Sebelum melihat tubuh saudara saya, saya masih berharap,” kata Ana Rada, seorang penyintas, menyaksikan tim penyelamat berusaha membongkar reruntuhan tempat saudaranya diduga tertimbun.

Sudah lebih dari 600 gempa susulan terjadi di Venezuela. Di berbagai lokasi, warga memasang lilin dan berdoa bersama saat petang dan malam hari.

Pemulihan pelabuhan dan bandara

Sementara itu, militer Amerika Serikat bergegas memulihkan operasionalisasi pelabuhan. Korps Marinir AS dan satuan Zeni Angkatan Laut AS melakukan sejumlah perbaikan untuk mengoperasikan pelabuhan di Venezuela demi memudahkan masuknya bantuan kemanusiaan.

Angkatan Udara AS dan Korps Penerbangan AL AS sudah memulihkan penerbangan di Bandara Internasional Simon Bolivar, Caracas. Militer AS sudah memperbaiki salah satu landas pacu sehingga pesawat bisa mendarat dan tinggal landas di sana. Pesawat angkut dan medis sudah mendarat di Caracas.

Armada helikopter dan kapal pendarat AL AS dan Korps Marinir AS hilir mudik dari dek kapal kapal AS ke daratan Venezuela untuk membawa pasukan dan bantuan kemanusiaan serta mengevakuasi korban ke kapal-kapal medis. Kapal transpor AL AS, USS Fort Lauderdale, yang berada di dekat Pelabuhan La Guaira, beroperasi 24 jam dalam operasi kemanusiaan.

Meski masa kritis penyelamatan korban, yakni 72 jam atau tiga hari, sudah berlalu, keajaiban masih terjadi. Seorang perempuan berhasil diselamatkan lima hari sesudah gempa, Minggu (28/6/2026). Seorang perempuan mengontak pengurus apartemen tempat tinggalnya dengan Whatsapp bahwa dia masih hidup.

Sementara pada Senin pagi, seorang warga bernama Aaron Levi (21) berhasil dievakuasi dari balik reruntuhan di kota Tanaguarena. Namun, sebagian besar warga Venezuela kecewa dan marah atas respons pemerintah yang lamban.

Luis Salas (27), anggota sukarelawan kemanusiaan, mengatakan, mereka frustasi, setelah menggali reruntuhan, masuk ke dalam celah di antara bangunan yang hancur, mereka berulang kali hanya menemukan mayat.

Eduardo Cardozo, sukarelawan di kota Tucacas, menyebutkan, banyak korban bisa diselamatkan jika aparat pemerintah bereaksi lebih cepat.

Pada Minggu, kerumunan warga memerintahkan para prajurit untuk menanggalkan senjata, mengambil sekop, dan membantu mereka mencari korban.

Di sisi lain, dengan keterbatasan alat, sejauh ini pemerintah telah berupaya keras. Sudah 3.150 korban terluka dievakuasi. Sebagian besar mengalami fraktur atau patah tulang, luka terbuka, dan berbagai gangguan kesehatan.

Presiden sementara Venezuela Delcy Rodriguez mengatakan, sudah 24 negara mengirimkan bantuan logistik sebanyak 521 ton. Sementara Amerika Serikat yang menculik Presiden Nicolas Maduro, Januari 2026, mengatakan menambah bantuan tanggap bencana dari 150 juta dolar AS menjadi 300 juta dolar AS.

Ketua Parlemen Venezuela Jorge Rodriguez mengatakan, Minggu, ada 774 bangunan yang rusak parah dan 189 gedung runtuh akibat gempa. ”Listrik sudah berhasil dihidupkan kembali di La Guaira. Sudah disediakan 15 lokasi penampungan pengungsi di sana,” ujar Jorge Rodriguez yang merupakan saudara kandung presiden sementara Venezuela.

Di tengah nestapa, penjarahan terjadi di kota La Guaira yang luluh lantak dan dipenuhi penyintas yang kelaparan dan putus asa. Apotek, supermarket, dan toko yang tersisa menjadi sasaran penjarahan karena lambannya bantuan dari pemerintah.

Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) memperkirakan 6,7 juta warga Venezuela terdampak bencana gempa terburuk dalam sejarah negerinya.

Sumber: Kompas.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *