Warga di tiga daerah di Sulsel dipastikan tidak bisa menikmati nonton bareng Piala Dunia 2026 secara gratis.
Mereka harus memasang receiver khusus berbayar karena wilayahnya masuk kategori blank spot atau kondisi tidak tersentuh / tercover sinyal komunikasi.
Ketiga daerah tersebut yakni Toraja Utara, Soppeng, dan Sengkang (Wajo).
PIC Nobar Piala Dunia 2026 wilayah Sulsel, Firmansyah Syaiful, mengatakan penggunaan Set Top Box (STB) tidak menjadi solusi bagi wilayah yang masuk kategori blankspot.
Masyarakat maupun pelaku usaha yang ingin menggelar nobar di Toraja Utara, Soppeng, dan Sengkang harus menggunakan receiver khusus yang disediakan melalui paket komersial.
“Jadi ada tiga daerah blank spot, Toraja Utara, Soppeng dan Sengkang,” ujar Firmansyah saat dihubungi Tribun-Timur.com, Jumat (5/6/2026).
Di luar tiga daerah tersebut bisa nobar baik menggunakan antena digital ataupun parabola gratis.
Masyarakat yang berada di wilayah blank spot tetap dapat menyelenggarakan nobar secara legal dengan membeli paket komersial yang telah disiapkan penyelenggara.
Setelah melakukan pendaftaran dan pembayaran paket, receiver khusus akan dipasang untuk mendukung penerimaan siaran pertandingan.
“Jika masyarakat yang masuk dalam tiga daerah blankspot ingin melaksanakan nobar, harus memasang receiver khusus atau membayar paket komersial untuk dipasangkan receiver,” ujarnya.
Misalnya di Soppeng mau mengadakan nobar maka bisa membeli paket komersial kemudian dipasangkan receivernya gratis.
Selain mengatasi kendala siaran di wilayah blank spot, paket komersial tersebut juga menjadi syarat bagi penyelenggara yang ingin menggelar nobar dalam skala usaha atau kegiatan yang melibatkan banyak penonton.
Berdasarkan ketentuan penyelenggaraan nobar komersial Piala Dunia 2026, tarif yang dikenakan dibagi berdasarkan kapasitas penonton di lokasi kegiatan.
Untuk kapasitas hingga 50 orang dikenakan biaya Rp10 juta per lokasi.
Kapasitas 51–100 orang dikenakan tarif Rp15 juta, sedangkan kapasitas 101–200 orang sebesar Rp20 juta.
Untuk kapasitas yang lebih besar, tarif yang berlaku yakni Rp25 juta untuk kapasitas 201–300 orang, Rp30 juta untuk kapasitas 301–400 orang, Rp40 juta untuk kapasitas 401–500 orang, dan Rp50 juta untuk kapasitas 501–1.000 orang.
Penyelenggara dengan kapasitas 1.001–5.000 penonton dikenakan tarif Rp75 juta. Untuk kapasitas 5.001–10.000 orang tarifnya mencapai Rp100 juta, sedangkan kapasitas 10.001–50.000 penonton dikenakan biaya Rp150 juta.
Tarif tersebut berlaku selama masa penyelenggaraan Piala Dunia FIFA 2026 yang berlangsung pada Juni hingga Juli 2026 dengan total 104 pertandingan.
Biaya tersebut juga belum termasuk pajak.
Sumber: Tribunnews.com

