Pembangunan proyek Sekolah Rakyat di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan terus berlanjut.
Program Presiden Prabowo Subianto itu dibangun di Lingkungan Tanassang, Kelurahan Alehanuae, Kecamatan Sinjai Utara.
Lokasi proyek berjarak sekitar 200 meter dari Kantor Bupati Sinjai. Tepat di belakang Kantor Dinas PMD Sinjai.
Proyek ini dikerjakan PT Nindya Karya KSO- PT Bumi Perkasa Sidenreng dengan nilai kontrak Rp245 miliar.
Manajer Keuangan proyek, Hasril, mengungkapkan total pekerja yang dilibatkan mencapai sekira 715 orang.
“Sekira 715 pekerja dilibatkan dalam proyek ini,” kata Hasril kepada Tribun-Timur, Kamis (23/4/2026).
Hasril menjelaskan, mayoritas pekerja berasal dari Pulau Jawa.
“Lebih banyak pekerja dari Jawa,” ujarnya.
Rinciannya, sebanyak 500 pekerja asal Pulau Jawa, sementara selebihnya lainnya merupakan tenaga kerja lokal.
“Tenaga lokal seperti dari Sinjai dan Jeneponto, intinya dari Sulawesi Selatan,” katanya.
Sebelumnya, Masjid Islamic Center di Kabupaten Sinjai, digunakan sebagai tempat inap oleh para pekerja proyek Sekolah Rakyat.
Masjid di Lingkungan Tanassang, Kelurahan Alehanue, Kecamatan Sinjai Utara itu berada sekitar 100 meter dari lokasi pembangunan Sekolah Rakyat.
Pantauan Reporter Tribun-Timur.com, Taqwa Minggu (19/4/2026) pukul 12.53 Wita, puluhan pekerja terlihat beristirahat di lantai satu masjid dengan menggunakan karpet sebagai alas tidur.
Selain itu, sejumlah pekerja juga membentangkan tali dari tiang masjid untuk menggantung pakaian.
Beberapa pakaian tampak dijemur di area dalam masjid.
Kondisi tersebut dinilai mengganggu estetika serta kebersihan masjid yang dikenal sebagai salah satu ikon religi di Sinjai.
Salah seorang warga setempat berinisial AM.
AM mengaku resah dengan aktivitas para pekerja proyek tersebut.
Ia menegaskan sebagai simbol religi, kesucian dan kerapian masjid seharusnya tetap dijaga.
“Kami sangat resah. Islamic Center adalah ikon kota, tempatnya harus tertata rapi,” katanya kepada Tribun-Timur.
Menurutnya, pemandangan pakaian yang dijemur di area masjid sangat tidak elok dan mengganggu kenyamanan masyarakat yang hendak beribadah.
“Masa biar bajunya dijemur dalam masjid juga,” ujarnya.
Warga lainnya, AR menilai pihak pengembang maupun kontraktor proyek Sekolah Rakyat lalai dalam menyediakan fasilitas tempat istirahat yang layak bagi para pekerja.
“Harusnya ini pihak pengembang menyediakan tempat pekerjanya. Jangan masjid digunakan,” katanya.
Ia mendesak pengelola Islamic Center maupun kontraktor pelaksana mengambil langkah tegas.
“Yah semoga ada solusi agar fungsi masjid kembali sebagaimana mestinya,” ujarnya.
Sumber: tribunnews.com

