Hampir Tiga Pekan Warga Bone Kesulitan Dapat Elpiji 3 Kg, Jika Dapat Harganya Rp35 Ribu

Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram (Kg) yang terjadi di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan memasak sehari-hari. 

Kondisi ini telah berlangsung hampir tiga pekan terakhir.

Sejumlah warga mengaku kesulitan mendapatkan elpiji subsidi tersebut di tingkat pengecer. 

Kalaupun tersedia, harganya dinilai jauh lebih mahal dari harga normal.

Seorang warga, Siti Nurhayati (42), mengatakan dirinya terpaksa menunda memasak karena tabung elpiji 3 Kg tidak lagi mudah ditemukan di sekitar tempat tinggalnya.

“Biasanya beli di warung dekat rumah, tapi sekarang sudah hampir tiga minggu kosong. Kalau ada pun harganya sudah mahal,” ujar Siti saat ditemui di salah satu kios pengecer, Siti tampak membawa tabung elpiji 3 Kg kosong sambil mengenakan daster bermotif bunga, Senin (12/1/2026). 

Saat ini, harga elpiji 3 Kg di tingkat pengecer di Bone berkisar antara Rp 25.000 hingga Rp 35.000 per tabung.

Angka tersebut melonjak dari harga normal yang biasanya berada di kisaran Rp 22.000 hingga Rp 23.000.

Kenaikan harga tersebut semakin memberatkan warga, terutama rumah tangga yang bergantung pada elpiji subsidi untuk kebutuhan memasak setiap hari.

Akibat kelangkaan ini, sebagian warga terpaksa meminjam tabung elpiji milik tetangga. 

“Ini sangat merepotkan, apalagi untuk keluarga yang punya anak kecil. Kami berharap pasokan elpiji bisa segera normal,” lanjut Siti.

Kelangkaan elpiji 3 Kg juga dirasakan oleh para pengecer H. Rapi, salah satu pengecer di wilayah Watampone, mengaku pasokan dari distributor datang tidak menentu.

“Kami juga kesulitan mendapatkan gas. Kadang ada kiriman, kadang tidak. Stok terbatas, sementara permintaan tinggi, akhirnya harga ikut naik,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi ini membuat pengecer dan warga sama-sama berada dalam posisi sulit.

Selain pasokan yang terbatas, meningkatnya permintaan juga disebut menjadi salah satu faktor.

Beberapa warga menyebut elpiji 3 Kg banyak digunakan untuk keperluan non-rumah tangga, termasuk aktivitas di sawah, sehingga ketersediaan untuk kebutuhan rumah tangga semakin menipis.

Lonjakan harga elpiji subsidi ini berdampak langsung terhadap rumah tangga dan pelaku usaha kecil di Bone

Jika kondisi ini terus berlanjut, dikhawatirkan akan semakin menekan pengeluaran masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.

Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pihak Pertamina terkait penyebab kelangkaan elpiji 3 Kg di Kabupaten Bone maupun kepastian kapan distribusi akan kembali normal.

Sumber: tribunnews.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *