Ayah dan Anak Penembak Warga di Pantai Bondi

Seorang ayah dan anaknya diduga menjadi pelaku penembakan di Pantai Bondi, Sydney, Australia. Serangan itu menewaskan 16 orang dan melukai 40 orang, Minggu (14/12/2025). Sang ayah (50) tewas di tempat kejadian, sementara anaknya yang berusia 24 tahun ini berada dalam kondisi kritis di rumah sakit.

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyebut serangan terburuk dalam 30 tahun terakhir di Australia itu sebagai serangan terorisme dan antisemitisme. Serangan itu mengarah kepada masyarakat Yahudi yang sedang berkumpul untuk perayaan Hanukkah.

Penembakan terjadi saat sekitar 1.000 orang menghadiri acara Hanukkah di taman kecil dekat pantai. Tiba-tiba ada suara tembakan selama 10 menit. Banyak orang awalnya mengira itu petasan atau suara kembang api, tetapi begitu melihat banyak orang tumbang terkena tembakan, orang-orang panik dan lari berhamburan. Korban tewas termuda adalah seorang anak perempuan berusia 10 tahun dan korban tertua berusia 87 tahun.

Di tengah-tengah situasi panik, ada seorang laki-laki yang bernama Ahmed al Ahmed (43) yang menangkap salah satu penembak saat pelaku itu sedang menembaki orang-orang. Ahmed—pemilik toko buah—merebut senjata dari tangan pelaku sebelum kemudian mengarahkan senjata itu ke pelaku. Tindakan heroik Ahmed itu terekam video warga lalu beredar viral di media sosial. Kini, Ahmed masih dirawat di rumah sakit setelah menjalani operasi untuk luka tembak di lengannya.

Dari rekaman video yang beredar, para pelaku diduga menggunakan senapan bolt-action dan senapan laras pendek. Pihak kepolisian masih menyelidiki kasus ini. Sang ayah disebutkan memiliki enam senjata api berlisensi yang diyakini digunakan dalam penembakan di Pantai Bondi. Kepolisian sudah menggerebek rumah ayah dan anak itu. ”Kami ingin mengungkap akar permasalahan ini dan memahami motif di baliknya,” kata Komisaris Polisi New South Wales, Mal Lanyon, Senin (15/12/2025).

Alban Baton (23), warga Perancis, menceritakan, ia bersembunyi selama beberapa jam bersama orang-orang lain di ruang pendingin toko kelontong di Pantai Bondi ketika penembakan terjadi. ”Kejadiannya sangat cepat. Kami mendengar ada yang teriak: Ada orang dengan senjata! Semua langsung lari cari tempat aman,” ujarnya.

Berkabung

Albanese mengunjungi Pantai Bondi, Senin, dan meletakkan bunga di dekat lokasi serangan. Ratusan aparat kepolisian berjaga di Pantai Bondi. Di lokasi kejadian masih dipenuhi barang-barang yang ditinggalkan oleh orang-orang yang melarikan diri, termasuk meja kemah dan selimut. Orang-orang mengumpulkan barang-barang lainnya, termasuk sandal jepit, sepatu kets, dan termos, lalu menatanya di pasir untuk diambil pada pemiliknya.

Rabbi Mendel Kastel, yang mengelola pusat konseling krisis Jewish House, mengakui, malam yang mengerikan itu membuat komunitasnya marah. ”Anda dapat dengan mudah menjadi sangat marah dan menyalahkan orang, berbalik melawan orang tetapi bukan itu intinya. Ini tentang masyarakat. Kita bisa bangkit dari kejadian ini meski sulit tetapi kita tetap semangat. Kita perlu lebih aktif di saat seperti ini, mendukung dan bersatu. Kita akan melewati ini dengan bantuan masyarakat Australia,” ujarnya.

Albanese mengatakan, seluruh warga Australia merangkul komunitas Yahudi dan akan berjuang bersama-sama untuk memberantas antisemitisme. Ia juga mengatakan, sejumlah pemimpin dunia, seperti Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Perancis Emmanuel Macron, sudah meneleponnya.

Sementara, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, ia sudah memperingatkan Albanese bahwa dukungan Australia untuk negara Palestina akan memicu antisemitisme yang disebutnya sebagai kanker yang akan menyebar jika para pemimpin diam tak bertindak. Kementerian Luar Negeri Iran mengecam serangan di Pantai Bondi itu.

Serangkaian serangan antisemit telah menyebarkan ketakutan di kalangan komunitas Yahudi di Australia menyusul perang Israel-Hamas di Gaza. Pemerintah Australia menuduh Iran berada di balik dua serangan terkait antisemit di Australia. Canberra lantas mengusir duta besar Teheran, empat bulan lalu.

Mengutip temuan intelijen, Albanese pada Agustus lalu mengatakan, Iran berada di balik pembakaran sebuah kafe kosher di pinggiran kota Bondi, Sydney, pada Oktober 2024. Iran juga berada di balik serangan pembakaran besar-besaran terhadap Sinagoge Adass Israel di Melbourne pada Desember 2024. Tidak ada korban luka dalam kedua insiden itu.

Penembakan massal di Australia sangat jarang terjadi dan serangan di Bondi adalah insiden paling mematikan di negara itu sejak penembakan di Port Arthur, Tasmania, pada tahun 1996. Pada waktu itu, 35 orang tewas di tangan seorang penembak tunggal.

Keamanan diperketat

Komunitas diaspora Yahudi Australia jumlahnya tak banyak. Sedikitnya 150.000 orang yang mengidentifikasi diri sebagai Yahudi di Australia. Sekitar sepertiga dari mereka diperkirakan tinggal di pinggiran timur Sydney, termasuk Bondi. Setelah penembakan di Pantai Bondi, sejumlah kota ikut siaga, termasuk Berlin, London, dan New York, yang langsung meningkatkan keamanan di sekitar acara Hanukkah.

Kepolisian Jerman sudah memperketat keamanan di sekitar Gerbang Brandenburg di Berlin. Wali Kota New York Eric Adams di X mengatakan, perlindungan ekstra sedang dikerahkan untuk perayaan Hanukkah dan sinagoge di kota New York. Begitu pula di Warsawa, Polandia.

Selain tempat ibadah dan lokasi perayaan, kepolisian juga berjaga di area misi diplomatik dan konsuler serta lembaga-lembaga lain yang terkait dengan Israel dan Palestina. Kepolisian London dan Paris juga sudah memperketat pengamanan.

Menteri Dalam Negeri Perancis Laurent Nunez sudah meminta otoritas setempat untuk memperkuat keamanan di sekitar tempat ibadah Yahudi selama periode 14-22 Desember. Nunez menyerukan peningkatan pengerahan pasukan keamanan, dengan kewaspadaan khusus di sekitar ibadah keagamaan dan pertemuan yang menarik banyak orang, terutama ketika berlangsung di ruang publik.

The Economist, Minggu, menyebutkan, isu perdebatan tentang senjata api pasti akan kembali muncul di Australia. Pembunuhan massal di Australia sangat jarang terjadi karena Australia memiliki undang-undang senjata api yang ketat. Senjata otomatis dan semiotomatis sebagian besar dilarang pada tahun 1996 setelah peristiwa penembakan di Port Arthur. Saat itu pemerintah membeli ratusan ribu senjata api dari masyarakat Australia.

Namun, menurut laporan lembaga kajian Australia Institute, Januari 2025, diketahui bahwa selama lima tahun terakhir, jumlah senjata api yang terdaftar di Australia secara keseluruhan lebih banyak daripada sebelum pembantaian di Port Arthur.

Sumber: kompas.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *