Ibu Suri Kerajaan Thailand Sirikit (93) meninggal pada Jumat (24/10/2025) malam di Bangkok. Kerajaan mengumumkan masa berkabung setahun untuk menghormatinya.
Mendiang Ibu Suri Sirikit adalah istri mendiang Raja Bhumibol Adulyadej. Mereka berkenalan pada Oktober. Walau terpisah tahun, mereka sama-sama wafat pada Oktober.
Mendiang Sirikit wafat di King Chulalongkorn Memorial Hospital. Biro Rumah Tangga Kerajaan Thailand mengumumkan, tim medis rumah sakit itu memonitor kesehatan Sirikit sejak September 2019.
Waktu itu, tim antara lain menemukan sejumlah penyakit dan ketidakwajaran kondisi kesehatan Ibu Suri. Suami Sirikit menjadi raja pada 1946-2016. Anak mereka, Vajiralongkorn, kini menjadi Raja Thailand.
Biro Rumah Tangga Kerajaan menyebut, Sirikit menderita infeksi darah pada 17 Oktober 2025. Setelah semua upaya dikerahkan, kondisinya tetap semakin memburuk. Lalu, ia dinyatakan wafat. Raja Bhumibol Adulyadej dulu juga wafat pada Oktober, tepatnya 13 Oktober 2016.
Setelah ibunya dinyatakan meninggal, Raja Maha Vajiralongkorn Phra Vajiraklaochaoyuhua memerintahkan persiapan pemakaman dengan penghormatan tertinggi bagi Sirikit. Ia juga memerintahkan masa berkabung setahun untuk menghormati mendiang.
Sembari menyelesaikan semua upacara, jenazah Sirikit disemayamkan di Aula Kerajaan Dusit Maha Prasat, Bangkok. Kala Raja Bhumibol Adulyadej wafat, Thailand menggelar upacara megah selama lima hari. Setelah itu, jenazah raja dikremasi pada 27 Oktober 2017 atau setahun setelah wafat.
Anak duta besar
Sirikit bagian dari bangsawan Thailand. Kakek dari sisi ibunya, Mom Rajawongse Sathan Snidvongs yang bergelar Lord Chaophraya Wongsanupraphat, adalah bangsawan dan politisi Thailand. Salah satu putrinya, Bua Snidvongs, menikah dengan salah satu cucu Raja Chulalongkorn, Pangeran Nakkhatra Mangkala Kitiyakara.
Pangeran Nakkhatra adalah anak dari Pangeran Kitiyakara Voralaksana. Pangeran Kitiyakara merupakan anak ke-12 dari 77 anak Raja Chulalongkorn. Urutan lahir membuat Pangeran Kitiyakara jauh dari singgasana sehingga Raja Chulalongkorn menjadikannya Adipati Chanthaburi, salah satu provinsi Thailand yang berbatasan dengan Kamboja.
Gelar itu diwariskan kepada ayah Sirikit, Pangeran Nakkhatra. Pangeran itu menjadi diplomat Thailand di era Raja Prajadhipok Sakdidej dan Raja Ananda Mahidol. Raja Prajadhipok adalah paman tiri dari Pangeran Nakkhatra. Sementara Raja Ananda Mahidol dan Raja Bhumibol Adulyadej, dalam garis silsilah kerajaan, merupakan sepupu Pangeran Nakkhatra.
Sebagai diplomat, Pangeran Nakkhatra antara lain menjadi duta besar Thailand di sejumlah negara Eropa. Di sela penugasan Pangeran Nakkhatra di Perancis, Sirikit berkenalan dengan Raja Bhumibol Adulyadej.
Waktu itu, Sirikit mengunjungi Bhumibol di rumah sakit di Lausanne, Swiss. Raja Bhumibol Adulyadej dirawat di sana karena kecelakaan lalu lintas pada Oktober 1948.
Ibu raja, Putri Srinagarindra, suka dengan Sirikit. Ia pun meminta Sirikit pindah dari Perancis ke Swiss agar lebih mudah bertemu Raja Bhumibol Adulyadej. Keluarga raja memang lama tinggal di Swiss.
Waktu itu, Sirikit belajar piano. Sementara Bhumibol pemain saksofon. Raja tertarik pada jazz.
Pada pertengahan 1949, mereka bertunangan. Lalu, mereka menikah pada April 1950. Koran The New York Times menyebut pernikahan itu sebagai pernikahan bangsawan paling sederhana di Thailand. Mereka menikah sepekan sebelum penobatan Bhumibol.
Meski menjadi raja sejak 1946, pelantikan Bhumibol baru digelar beberapa tahun setelahnya. Setelah menikah, mereka kembali ke Swiss sebelum sepenuhnya menetap di Thailand sejak 1952.
Sebagai ratu, Sirikit begitu dicintai warga. Raja juga begitu percaya kepada dia sehingga menjadikannya Wakil Raja bila Raja tidak mampu bertugas.
Bersama, Raja Bhumibol dan Ratu Sirikit mengarungi politik Thailand yang bolak-balik dilanda kudeta. Pada 1946-1957 saja, ada beberapa kudeta oleh para jenderal Thailand. Monarki konstitusional membuat raja tidak terhubung langsung dengan pemerintahan.
Kudeta terakhir di era Raja Bhumibol dilancarkan pada Mei 2014 oleh Jenderal Prayut Chan-o-cha. Waktu itu, raja sudah sakit-sakitan dan beberapa kali masuk rumah sakit.
Di sela mengunjungi Raja Bhumibol pada Juli 2012, Sirikit terserang stroke akibat kekurangan asupan darah ke otak. Kesehatannya terus memburuk dan harus bolak-balik masuk rumah sakit. Meski demikian, Sirikit tetap hadir di berbagai acara kerajaan dan publik.
Setelah suaminya wafat, Sirikit tidak lagi berperan banyak di kehidupan kerajaan. Lalu, pada 24 Oktober 2025, ia wafat. (AP/AFP)
Sumber: Kompas.id

