Semen Padang FC Kena Larangan Registrasi FIFA akibat Tunggakan Gaji Pemain

Semen Padang FC kembali diterpa isu tunggakan gaji pemain yang berujung pada larangan registrasi pemain saat jendela transfer. Manajemen klub tengah mengupayakan penyelesaian agar persoalan tersebut tidak berdampak pada bursa transfer tengah musim.

Persoalan tunggakan gaji mencuat setelah mantan kiper Semen Padang FC, Arthur Augusto, menyampaikan keluhannya melalui media sosial Instagram saat mantan klubnya menang atas Persiku Kudus dalam pertandingan Pegadaian Championship 2026-2027. Ia mengaku sisa hak kontraknya belum dibayarkan.

”Selamat atas kemenangan hari ini! Semoga gaji saya yang tertunggak segera dibayar,” tulis Arthur melalui akun Instagram @arthur87_ di kolom komentar unggahan akun @424_spfc, Sabtu (24/10/2026) malam.

Dalam komentar lanjutan, Arthur menyebut sebelumnya telah berupaya berkomunikasi dengan manajemen klub mengenai persoalan tersebut. Namun, menurut dia, tidak ada tanggapan. ”Jadi, saya terpaksa membawa masalah ini ke FIFA,” katanya.

Manajer Tim Semen Padang FC Braditi Moulevey mengatakan, persoalan tata kelola pada musim lalu menyebabkan sejumlah tunggakan kewajiban kepada pemain. Manajemen baru pada musim ini, menurut dia, telah berupaya menyelesaikannya satu per satu.

Meski demikian, karena jumlah kewajiban cukup besar, baru sebagian yang telah diselesaikan dengan nilai sekitar Rp 9 miliar. Saat ini, masih terdapat tunggakan kepada empat mantan pemain asing musim lalu, termasuk Arthur Augusto.

”Totalnya ada empat pemain. Yang masuk, melapor ke FIFA, ada dua pemain,” ujarnya.

Pengaduan tersebut berdampak pada larangan registrasi pemain oleh FIFA. Berdasarkan laman knowledge.fifa.com/registration-bans, Semen Padang FC tercantum dalam dua daftar larangan registrasi pemain untuk tiga periode bursa transfer.

Pada daftar pertama, larangan registrasi mulai berlaku pada 9 Oktober 2026. Sementara pada daftar kedua, larangan mulai berlaku pada 12 Oktober 2026.

Moulevey menjelaskan, untuk satu pemain, skema pelunasan telah dinegosiasikan dan disepakati sehingga tinggal menunggu pembayaran. Sementara dengan pemain lainnya, komunikasi juga sudah dilakukan.

Namun, khusus untuk Arthur, upaya penyelesaian membutuhkan waktu karena nilainya relatif besar, sekitar Rp 3 miliar jika dikonversi ke rupiah. Nilai tersebut merupakan sisa kewajiban kontrak yang berlaku hingga 2028. Adapun gaji Arthur untuk musim lalu, menurut Moulevey, telah dilunasi.

”Itu yang kami bingung. Kenapa seorang kiper asing bisa dikontrak tiga tahun hingga 2028. Bagaimanapun kami harus membayar sisa kontraknya. Ini yang jadi beban,” kata Moulevey.

Moulevey mengatakan, manajemen sedang berkoordinasi dengan Presiden Klub Andre Rosiade dan para pemangku kepentingan lainnya untuk mencari solusi agar persoalan tersebut tidak mengganggu proses perekrutan pemain ketika bursa transfer putaran kedua dibuka.

Menurut Moulevey, manajemen sebenarnya tidak membiarkan persoalan Arthur berlarut-larut. Klub telah merencanakan penyelesaian kewajiban tersebut sebelum dibukanya bursa transfer paruh musim pada awal 2027.

”Mungkin Arthur merasa tidak ada komunikasi, maka dia membuat komentar di media sosial. Tapi, sebenarnya sudah kami rencanakan pelunasannya,” ujarnya.

Persoalan tunggakan tersebut, kata Moulevey, tidak terlepas dari faktor nonteknis pada musim lalu saat Semen Padang FC berkompetisi di BRI Super League, seperti pemutusan kontrak pelatih dan pemain di tengah musim. Kondisi itu membuat beban klub melampaui rencana anggaran biaya.

Moulevey menambahkan, manajemen baru Semen Padang FC tengah berupaya membenahi tata kelola klub dan berkomitmen agar persoalan serupa tidak terulang.

Untuk kompetisi Pegadaian Championship musim ini, klub menerapkan sistem payroll dalam pembayaran gaji pemain.

”Setiap tanggal 20-an, gaji sudah masuk ke rekening pemain. Sampai hari ini, alhamdulillah, tidak ada masalah. Selalu tepat waktu pembayarannya,” kata Moulevey.

Sumber: Kompas.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *