Persaingan Juara MotoGP Semakin Ketat, Martin dan Bezzecchi Bayangi Marquez

Setelah MotoGP seri Indonesia di Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika selesai digelar, persaingan di puncak klasemen menjadi semakin ketat. Pebalap Aprilia, Jorge Martin, menggeser juara bertahan Marc Marquez dari posisi puncak dengan selisih dua poin.

Martin mengumpulkan total 355 poin dan Marquez 353 poin. Marco Bezzecchi yang menjuarai seri Mandalika menyusul di posisi ketiga dengan 309 poin.

Keberhasilan Martin naik di podium ketiga membuat persaingan dengan Marquez, yang finis di posisi keenam di Mandalika, menjadi sangat ketat. Martin ingin mengulangi prestasi pada musim 2024 saat dia tampil sebagai juara. Apalagi, pada musim 2025, Martin didera cedera parah yang membuatnya nyaris tidak bisa tampil sepanjang musim.

”Kami masih dalam persaingan (menjadi juara). Kami masih memimpin. Ini akan menjadi kejuaraan yang sengit, tetapi saya akan mengerahkan segalanya,” kata Martin, seusai lomba, Minggu (11/12/2026), di Mandalika.

Dengan sisa lima seri lagi menuju akhir musim, persaingan Martin dan Marquez bakal menjadi pertarungan hidup dan mati. Satu kesalahan saja di salah satu seri akan membuat salah satu dari keduanya menjauh dari persaingan di puncak klasemen.

Martin lebih diuntungkan karena performa motor Aprilia lebih baik dibandingkan motor Ducati yang dikendarai Marquez pada musim ini. Pada balapan di Mandalika, posisi pertama sampai keempat diisi oleh para pebalap yang mengendarai motor Aprilia. Pada klasemen umum, tiga dari lima pebalap teratas memacu motor Aprilia. Ducati dan KTM menyusul di posisi kedua dan kelima.

Namun, balap MotoGP tidak hanya bergantung kepada mesin motor untuk menjadi pemenang. Banyak faktor bisa menjadi penentu, mulai dari manajemen ban, gaya balap, sampai kesialan, dapat mempengaruhi nasib pebalap.

Marquez membuktikan hal itu. Determinasi yang kuat membawa pebalap Ducati itu memimpin klasemen sampai seri ke-16. Maksimalisasi hasil setiap balapan saat mampu menjadi pemenang dan sikap realistis saat tidak bisa naik ke podium membuat Marquez sering memimpin klasemen meskipun tidak selalu memenangi setiap lomba.

Pada seri Mandalika, Marquez juga merasa cukup bergembira meskipun finis keenam pada balapan utama. Marquez yang selalu gagal finis pada balapan utama sejak musim 2022 menganggap hasil kali ini, dengan finis di posisi keenam dan minim kerusakan pada motornya, adalah mimpi yang dia inginkan sebelum akhir pekan.

”Jika pada Kamis ada yang bilang bahwa sepanjang akhir pekan itu saya hanya akan kehilangan tiga poin dari Bezzecchi dan menyamai perolehan poin Martin, itu rasanya seperti mimpi. Dan, kami berhasil mewujudkannya, bahkan di sirkuit yang paling tidak menguntungkan bagi kami. Kami menjalani akhir pekan yang luar biasa. Kami mampu tampil konsisten sepanjang akhir pekan. Memang benar kami sangat kesulitan saat balapan, terutama di paruh kedua. Namun, saya senang dengan bagaimana akhir pekan ini berakhir,” tutur Marquez.

Dengan lima seri yang tersisa dan 185 poin maksimal yang bisa direbut (setiap seri menyediakan maksimal 12 poin dari balap sprint dan 25 poin dari balap utama), persaingan bukan hanya didominasi Martin dan Marquez. Bezzecchi dengan 309 poin, Ai Ogura (259 poin), Pedro Acosta (258 poin), Fabio Di Giannantonio (245 poin), dan Raul Fernandez (236 poin) juga masih dapat ikut meramaikan persaingan di puncak klasemen.

Namun, di antara para pebalap yang tersebut, Bezzecchi merupakan penantang yang paling diunggulkan untuk bersaing melawan Martin dan Marquez. Pebalap Aprilia itu sudah memenangi lima seri, termasuk di Mandalika. Raihan Bezzecchi hanya dapat dikalahkan oleh Marquez yang sudah memenangi enam balapan.

Kemenangan di Mandalika mengakhiri penantian 10 seri tanpa kemenangan bagi Bezzecchi. Serangkaian cedera sempat menghambatnya meraih podium puncak. Namun, seiring kondisi fisik yang kian membaik, Bezzecchi dapat kembali tampil sebagai kuda hitam yang memanaskan persaingan.

Bezzecchi memiliki kombinasi gaya balap yang agresif, manajemen ban yang baik, taktik yang jitu, dan kesabaran menunggu momen yang tepat untuk menyerang. Saat bersaing dengan Raul Fernandez pada awal balapan di Mandalika, Bezzecchi membiarkan Fernandez berada di depan sambil mencari ritme yang pas untuk motornya.

Setelah mendapat ritme yang sesuai dengan gaya balapnya, Bezzecchi mulai mengejar, menempel pada jarak yang ideal untuk menyalip, lalu menyalip pada saat yang tepat. Begitu bisa merebut posisi terdepan, Bezzecchi melaju terus dan tidak terkejar. Kombinasi taktik jitu dan kesabaran itu bisa menjadi pengubah jalannya persaingan pada lima seri terakhir.

”Saya akan terus berjuang dan berusaha semaksimal mungkin untuk meraih hasil terbaik hingga akhir musim. Jadi, mari kita lanjutkan seperti ini,” kata Bezzecchi.

Sumber: Kompas.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *