Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar mulai mengucurkan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk menangani dampak kekeringan. Anggaran untuk mendukung penyaluran air bersih kepada warga terdampak. Termasuk penyediaan tandon air di sejumlah titik.
Kepala Pelaksana BPBD Makassar, Muhammad Fadli Tahar mengatakan anggaran BTT mulai digunakan pada tahap kedua status tanggap darurat. Status tanggap darurat pertama dimulai pada 7-20 Agustus.
Kemudian dilanjutkan tahap kedua 21 Agustus hingga 3 September. Saat ini, status tanggap darurat sudah memasuki tahap ketiga.
“Anggaran BTT mulai dimaksimalkan pada tahap kedua tanggap darurat kekeringan, di angka Rp 1 miliar,” kata Fadli, Minggu (6/9).
Selama masa tanggap darurat, BPBD bersama sejumlah stakeholder terus mendistribusikan air bersih ke wilayah terdampak. Penyaluran rutin setiap hari dengan menyasar titik-titik yang membutuhkan.
Berdasarkan assesmen awal BPBD Makassar, sebanyak 47.320 jiwa terdampak kekeringan. Dampak tersebar di enam kecamatan di 27 kelurahan.
Hasil pemetaan tersebut, BPBD mengidentifikasi sedikitnya 170 titik yang membutuhkan intervensi penyaluran air. Jumlah permintaan bahkan terus meningkat seiring kondisi kekeringan yang belum sepenuhnya teratasi.
Penyaluran dilakukan dengan dua pola. Air bersih dikirim langsung untuk mengisi tandon yang telah tersedia di lokasi terdampak.
Sementara sebagian lainnya diberikan langsung ke warga yang datang membawa jeriken. Total armada gabungan yang dikerahkan untuk mendukung distribusi air mencapai 14 unit. “Tapi itu sangat kurang sekali,” ujar Fadli.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifddin mengatakan kondisi kekeringan yang berkepanjangan mengharuskan pemerintah mengintervensi masalah tersebut. Ia meminta seluruh elemen bergerak bersama menangani persoalan ketersediaan air bersih.
Sumber: Harian Tribun Timur, 7 September 2026

