Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, telah menghanguskan sekitar 218 hektare sepanjang Agustus 2026.
Kepala Seksi Perlindungan Hutan dan Pemberdayaan Hutan KPH Sawitto, Kaharuddin, mengatakan kebakaran melanda wilayah Kecamatan Duampanua dan Kecamatan Lembang yang mencakup belasan desa.
“Terjadi di Duampanua dan Lembang, dan memang sebanyak 10 desa yang terdampak,” ujarnya, Kamis (27/8/2026).
Pihak KPH Sawitto bersama personel gabungan langsung menerjunkan tim khusus ke lokasi untuk memadamkan kobaran api.
“Dari tim yang melakukan pengendalian saat ini, ada dari Manggala Agni Daops Kementerian Kehutanan sebanyak 4 orang,” jelasnya.
Selain itu, belasan personel dari KPH Sawitto juga diturunkan secara penuh di lokasi kejadian.
“Tim KPH itu sendiri kurang lebih 21 orang terdiri dari Manggala, Polhut, dan tim teknis KPH,” tuturnya.
Upaya pemadaman ini turut melibatkan unsur TNI, Polri, serta partisipasi aktif dari masyarakat setempat.
“Selain itu kami juga dibantu dari Bhabinkamtibmas, Babinsa di Lembang, dan masyarakat,” tambahnya.
Kaharuddin mengungkapkan bahwa Kecamatan Duampanua menjadi wilayah dengan tingkat kerawanan tertinggi.
Sehingga menjadi wilayah yang di atensi.
Tinggi tingginya intensitas laporan kebakaran membuat kawasan Duampanua terus mendapatkan pengawasan ketat.
“Mengingat per bulannya saja intensitas kejadian ini sangat banyak terjadi laporan di lapangan,” lanjutnya.
Bahkan, titik api dilaporkan muncul hampir setiap hari di kawasan tersebut.
“Di Duampanua paling parah karena memang hampir setiap hari kurang lebih ada 2 titik sampai 5 titik yang terjadi di lapangan,” paparnya.
Sementara itu, penanganan karhutla di Kecamatan Lembang difokuskan pada area hutan pinus di Desa Bakaru.
“Di Lembang terakhir kita antisipasi itu di Bakaru,” kata Kaharuddin.
Proses pemadaman di Bakaru membutuhkan kerja keras ekstra karena karakteristik vegetasi hutan pinus yang mudah terbakar.
Pemadaman di area tersebut, melibatkan kelompok tani dan KPH.
Tantangan medan yang terjal dan ekstrem tidak menyurutkan langkah petugas gabungan untuk menembus titik api.
Guna menaklukkan kobaran api di medan yang sulit dijangkau kendaraan, tim menerapkan teknik khusus.
“Ada dua teknik saat ini, yaitu menggunakan jet shooter,” ungkap Kaharuddin.
Penggunaan jet shooter atau pompa punggung pemadam api menjadi solusi paling efektif di topography perbukitan.
“Karena menggunakan jet shooter itu paling mudah kami lakukan mengingat topografi lapangan saat ini memang cukup sulit dilalui,” jelasnya.
Akses jalan yang terbatas membuat armada pemadam kebakaran biasa tidak mampu mendekati lokasi kebakaran.
“Tidak bisa dilewati oleh kendaraan roda dua maupun roda empat,” tambahnya.
Selain menyemprotkan air, petugas juga harus memadamkan sisa titik api secara konvensional.
“Selain itu, pemadaman dengan menggunakan alat pemukul api di lapangan dan secara manual untuk memadamkan api,” tuturnya.
Ia menerangkan bahwa jet shooter merupakan sarana utama personel di lapangan saat menembus hutan.
“Jet shooter itu semacam pompa punggung untuk menyemprotkan air,” terangnya.
Berdasarkan analisis vegetasi dan kawasan, mayoritas area yang terbakar berada di dalam kawasan hutan negara.
“Dari data saat ini, luas yang terbakar kurang lebih 218 hektar dan itu memang dominan dari kawasan hutan,” katanya.
Sebagian kecil kawasan yang terbakar teridentifikasi sebagai kawasan hutan lindung.
“Fungsi hutan lindung itu kurang lebih 20 hektar atau kurang lebih 9 persen dari total luas,” paparnya.
Persentase terbesar dari total kebakaran menghanguskan kawasan hutan produksi terbatas atau hpt.
“Sedangkan fungsi hutan produksi terbatas itu kurang lebih 73 persen,” bebernya.
Dominasi kebakaran pada hutan produksi terbatas terjadi lantaran luasnya karakteristik kawasan tersebut di Duampanua.
“Nah, ini dominan karena terjadi di Duampanua, mengingat bahwa di Duampanua paling banyak jenis hutan produksi terbatas,” jelas Kaharuddin.
Hpt itu sekitar 159 hektare.
Sementara sisa areal terbakar lainnya berada di luar kawasan hutan atau lahan milik warga.
“Sedangkan 17 persen sisanya itu ada di luar kawasan,” tambahnya.
Untuk mempercepat respons dan mempermudah koordinasi, KPH Sawitto telah mendirikan pos komando.
“Tim KPH telah membentuk posko taktis untuk pengendalian karhutla, yaitu ada di Kelurahan Benteng ada satu posko taktis, dan di kantor KPH sendiri,” sebutnya.
Keberadaan posko taktis ini diharapkan bisa memangkas waktu tanggap personel saat menerima laporan kebakaran baru.
“Posko taktis ini kita bentuk untuk mempermudah akselerasi pengendalian kebakaran hutan,” tandasnya.
Kaharuddin memprediksi potensi ancaman karhutla masih cukup tinggi hingga akhir bulan ini.
“Potensinya saat ini kami memperkirakan masih akan terjadi terus kejadian karhutla di lapangan,” ungkapnya.
Pola penyebaran titik api yang acak di bagian bawah permukaan hutan menjadi hambatan utama pemadaman cepat.
“Mengingat sumber apinya ini tidak berhenti pada satu titik, tapi dia menyebar,” puncaknya.
Sumber: Tribunnews.com

