Tim penyelamat di Nepal dan Tibet berpacu dengan waktu untuk mencari ratusan orang yang hilang setelah banjir bandang dan tanah longsor menerjang kawasan perbatasan Himalaya, Rabu (26/8/2026). Sedikitnya 160 orang tewas dalam bencana yang menyapu permukiman, jalan, kendaraan, dan infrastruktur lainnya. Banyak dari mereka yang belum ditemukan merupakan wisatawan asing.
Tim penyelamat di kedua sisi perbatasan masih menyisir kawasan yang tertimbun lumpur dan puing. Pemerintah Nepal memindahkan warga dari daerah berisiko dan memperingatkan kemungkinan terjadinya banjir susulan.
Kepolisian Nepal, Kamis (27/8/2026), menemukan 157 jenazah. Sementara itu, media Pemerintah China melaporkan tiga orang tewas dan 265 orang hilang di kawasan Gyirong, Tibet. Jumlah korban masih dalam proses verifikasi dan kemungkinan bertambah karena sejumlah wilayah terdampak belum dapat dijangkau tim penyelamat.
Di sisi Tibet, hampir 800 petugas darurat dan 150 kendaraan dikerahkan serta dilengkapi anjing pelacak dan perahu cepat. Di Nepal, operasi penyelamatan terkendala kerusakan jalan, luapan sungai, lumpur, dan pemadaman listrik. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres mengatakan, tim PBB dan mitranya juga memobilisasi pasokan dan personel untuk membantu.
Kementerian Pariwisata Nepal mencatat sekitar 403 wisatawan belum ditemukan beberapa jam setelah bencana, termasuk 341 warga negara asing. Dewan Pariwisata Nepal menyebutkan, terdapat 142 warga India yang hilang. Mereka bepergian melalui tiga agen perjalanan, yakni Samrat Tours & Travels, Leaf Holiday, dan Himalayan Glacier.
Kawasan itu jalur populer menuju Kailash Manasarovar di Tibet, yakni tujuan ziarah yang setiap tahun didatangi ratusan peziarah Hindu dari India dan negara-negara lain. Warga Ukraina juga menjadi salah satu kelompok terbesar yang belum ditemukan. Kementerian Luar Negeri Ukraina menyatakan, polisi pariwisata Nepal menduga ada 53 warga negara Ukraina yang hilang, termasuk 46 wisatawan.
Selain itu, terdapat 17 warga Malaysia, 12 warga Inggris, 4 warga Afrika Selatan, 3 warga Amerika Serikat, 2 warga Portugal, 1 warga Australia, dan 1 warga Belanda yang belum ditemukan. Sebanyak 93 warga Nepal juga dilaporkan hilang.
Untuk sejumlah kelompok wisatawan, jumlah dan kewarganegaraannya belum dapat dipastikan. Ada 77 orang yang bepergian melalui Trekkers Society, 26 orang melalui Kailash Journey, dan delapan orang melalui Richa Tours & Travels yang juga masih hilang.
Ada dua warga Italia bersama seorang pemandu yang dilaporkan terdampar di hulu akibat tanah longsor dan kini masih bisa menerima bantuan. Kemenlu Italia menyatakan, ada sekitar 90 warga negara Italia yang berada di Nepal dan Tibet. Namun, belum diketahui apakah mereka jadi korban atau tidak.
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengatakan, terdapat 34 warga Australia yang masih hilang. Korea Selatan juga menyebutkan ada sembilan warga Korsel yang bekerja di pembangkit listrik tenaga air di lokasi itu yang masih hilang.
Presiden China Xi Jinping mendesak segala upaya dimaksimalkan untuk mencari dan menyelamatkan orang yang hilang. Dari rekaman kamera keamanan dari sisi China, terlihat saat terjadi bencana puluhan orang berlarian sebelum gelombang lumpur, bebatuan, dan air menghantam bangunan dan kendaraan. Kendaraan-kendaraan tersapu arus. Rumah, jalan, jembatan, dan proyek pembangkit listrik di Nepal juga ikut hanyut.
Keshav Prasad Baral (68), salah satu penyintas, mengaku berusaha menyelamatkan istrinya ketika lumpur mulai masuk ke rumah. Ia menarik tangan istrinya menuju teras, tetapi istrinya terseret arus. Baral baru bisa dievakuasi dengan helikopter empat atau lima jam kemudian, sementara istrinya masih terkubur di bawah lumpur.
Pemerintah AS berjanji memberikan bantuan darurat sebesar 500.000 dolar AS untuk membantu upaya penyelamatan. AS juga akan mengerahkan penasihat tanggap darurat ke wilayah bencana. ”Kami menyatakan solidaritas kami dan bersatu dalam doa bagi rakyat Nepal setelah bencana banjir dahsyat,” tulis Menlu AS Marco Rubio di X.
Sistem peringatan dini
Dampak bencana juga meluas ke India. Air berlumpur dari kawasan pegunungan mengalir menuju daratan rendah sehingga peringatan banjir dikeluarkan untuk wilayah Uttar Pradesh dan Bihar. Pemerintah Bihar sudah mengevakuasi sekitar 5.000 orang dari enam distrik dan menyiapkan evakuasi hingga 10.000-12.000 orang.
Sementara pencarian berlangsung, penyebab bencana masih diteliti. Menlu Nepal Shishir Khanal mengatakan, gempa bumi kemungkinan memicu tanah longsor yang kemudian menutup sungai.
Namun, US Geological Survey (USGS) menyatakan, analisis tambahan terhadap gelombang seismik menunjukkan energi yang semula dikaitkan dengan gempa bermagnitudo 4,4 kemungkinan justru berasal dari longsoran batuan dan es gletser ke dasar lembah.
Analisis citra satelit Planet Labs oleh Otoritas Nasional Pengurangan dan Manajemen Risiko Bencana Nepal menunjukkan, longsoran es dan batu kemungkinan memicu banjir yang membawa material puing ke Sungai Lhende.
Analis penginderaan jauh dan informasi geo di Pusat Internasional untuk Pengembangan Pegunungan Terpadu, Sarthak Shrestha, mengatakan, dari penilaian awal tidak ditemukan ada anomali di sisi perbatasan China. ”Kami yakin longsoran es terjadi di Nepal dan menghalangi Sungai Lhende lalu menyebabkan banjir besar,” ujarnya.
Bencana ini sulit diprediksi karena tidak didahului hujan deras yang biasanya menjadi tanda awal kenaikan debit sungai. Ahli hidrologi dari Universitas Texas San Antonio, AS, Hatim Sharif, mengatakan, kondisi itu membuat warga hampir tidak punya waktu untuk menyelamatkan diri. Menurut Sharif, ketika gelombang lumpur sudah terlihat, upaya melarikan diri dengan berjalan kaki ataupun kendaraan kemungkinan sudah terlambat.
Campuran air dan lumpur dapat bergerak sangat cepat sehingga warga yang berada di jalur aliran harus segera menuju ke tempat yang lebih tinggi, setidaknya enam meter. Untuk mengurangi risiko pada masa mendatang, Sharif menyebut perlunya pemasangan alat pengukur tinggi permukaan air sungai yang dapat mengirimkan data secara langsung kepada otoritas. Sistem itu berpotensi memberikan peringatan berkisar 20-30 menit sebelum banjir tiba.
Peneliti di Universitas Reading, Inggris, Dorothy Heinrich, menjelaskan bahwa sungai di kawasan pegunungan dapat menjadi sangat sempit. Ketika aliran itu terhalang longsoran salju, es, atau tanah, air dapat terakumulasi dalam jumlah besar dan kemudian menghasilkan banjir yang sangat cepat.
Kepala Risiko Iklim dan Lingkungan di Pusat Internasional untuk Pengembangan Pegunungan Terpadu Qianggong Zhang khawatir risiko belum berakhir. Ia memperingatkan kemungkinan terjadi banjir kedua karena masih ada penyumbatan di hulu sungai perbatasan Nepal-China.
Nepal juga punya risiko banjir semburan danau glasial, yakni pelepasan air dalam jumlah besar secara tiba-tiba dari danau yang terbentuk akibat pencairan gletser. Para ilmuwan sudah mendokumentasikan perubahan di kawasan Himalaya, termasuk penyusutan gletser dan berkurangnya lapisan es yang secara teori dapat meningkatkan risiko longsoran dan banjir terkait gletser.
Sumber; Kompas.id

