Pebulu Tangkis Perancis Unjuk Gigi di Kejuaraan Dunia

Dua kali lagu kebangsaan Perancis berkumandang di Stadion Indira Gandhi, New Delhi, India, Minggu (23/8/2026), menandakan dua gelar juara yang didapat atlet mereka pada Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis. Thom Gicquel/Delphine Delrue dan Alex Lanier menembus kekuatan atlet-atlet Asia yang selama ini mendominasi gelar juara.

Lolosnya Gicquel/Delrue dan Lanier ke final dalam kejuaraan yang berlangsung 17-23 Agustus 2026 ini sudah menjadi sejarah tersendiri bagi bulu tangkis Perancis. Untuk pertama kalinya, negara yang lebih mengenal tenis pada cabang olahraga raket ini meloloskan wakil ke final sejak Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis diselenggarakan pada 1977.

Catatan tersebut dinaikkan levelnya oleh Gicquel/Delrue dan Lanier dengan menjadi juara. Gicquel/Delrue mengalahkan ganda campuran nomor satu dunia asal China, Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping, dengan skor 22-20, 19-21, 15-21. Adapun Lanier tampil dominan ketika berhadapan dengan finalis Kejuaraan Dunia 2023, Kodai Naraoka (Jepang), dan menang 21-11, 21-11.

Setelah selalu kalah pada empat pertemuan sebelumnya, Gicquel/Delrue akhirnya mengalahkan Feng/Huang pada ajang yang lebih tinggi. Kejuaraan Dunia adalah panggung persaingan individual level tertinggi pada struktur kejuaraan Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF).

Empat kekalahan Gicquel/Delrue dari Feng/Huang, pada rentang 2023-2026, dialami dalam turnamen BWF World Tour Super 500 dan 1000. Sebulan sebelum bertemu di final Kejuaraan Dunia, Gicquel/Delrue kalah dalam semifinal China Terbuka, 19-21, 14-21.

Berbeda dengan tiga pertemuan sebelumnya, kali ini, Delrue tampil lebih baik dari Huang di lapangan depan. Pasangan Perancis ranking kelima dunia tersebut juga berani melakukan flick serve pada Feng yang bertinggi badan 195 sentimeter. Mereka bahkan mengecoh Feng dengan flick serve saat match point.

”Momen yang sangat emosional, sangat menyenangkan dan membanggakan bisa meraih medali emas pertama bagi Perancis. Kami berusaha sangat keras untuk menang dan rasanya luar biasa mendengar lagu kebangsaan Perancis untuk pertama kalinya saat kami di podium,” komentar Delrue dalam laman resmi BWF.

Hal lain yang membuat gelar juara Gicquel/Delrue luar biasa adalah kemenangan yang didapat atas dua pasangan terbaik dunia dari China. Sebelum mengalahkan Feng/Huang, mereka menang atas Jia Zhen Bang/Wei Ya Xin (2) di semifinal.

”Kami berpikir, rasanya luar biasa dan sulit dipercaya bisa berada di antara dua bendera China. Ini sangat penting untuk bulu tangkis Perancis,” ujar Gicquel, juara dunia ganda campuran asal Eropa pertama setelah Thomas Laybourn/Kamilla Rytter-Juhl (Denmark) meraih gelar pada 2009.

Selain bendera Perancis dan China, bendera Indonesia juga dinaikkan dalam acara pemberian penghargaan bagi atlet ganda campuran. Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah memperoleh perunggu dengan mencapai semifinal (kalah dari Feng/Huang). Mereka menjadi ganda campuran pertama Indonesia yang mendapat medali setelah Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir meraih emas di Kejuaraan Dunia 2017. Amri/Nita juga menjadi satu-satunya peraih medali dari Indonesia di New Delhi.

Lanier membuat Perancis tak terkalahkan dalam dua final pada Kejuaraan Dunia edisi ke-30 ini. Dalam perjalanan ke final, atlet berusia 21 tahun ini mengalahkan juara dunia 2023, Kunlavut Vitidsarn (Thailand), di perempat final dan semifinalis Kejuaraan Dunia 2025, Victor Lai (Kanada), pada semifinal.

Lanier meneruskan prestasi atlet tunggal putra Eropa di Kejuaraan Dunia setelah empat atlet Denmark menjadi juara. Mereka adalah Flemming Delfs (juara 1977), Peter Rasmussen (1997), dan Viktor Axelsen (2017 dan 2022).

Momen dari Kejuaraan Dunia 2026 ini menambah catatan bahwa Perancis telah menjadi kekuatan baru bulu tangkis di level dunia. Mei lalu, Perancis menjadi finalis kejuaraan beregu putra Piala Thomas dengan mengalahkan negara-negara kuat, yaitu Indonesia pada penyisihan grup, Jepang (perempat final), dan India (semifinal), sebelum kalah 1-3 dari China. Satu kemenangan bagi Perancis di final didapat oleh Lanier.

Lanier dan kawan-kawan mencapai prestasi ini dengan status sebagai atlet profesional, seperti pebulu tangkis Eropa pada umumnya. Tak seperti di Indonesia, Malaysia, atau China, mereka berlatih dan bertanding atas biaya sendiri.

Namun, seperti diceritakan Lanier dan rekan-rekannya pada momen Piala Thomas, Federasi Bulu Tangkis Perancis memberi perhatian lebih besar dengan membantu menyediakan tim pendukung untuk mereka.

Korsel kuasai nomor putri

Dua gelar juara juga diraih Korea Selatan, dari nomor tunggal dan ganda putri. An Se-young mengalahkan Akane Yamaguchi, 21-17, 21-14, dalam final tunggal putri yang merupakan pertemuan antara peraih medali emas Olimpiade Paris 2024 dan juara bertahan. Dua pemain yang bertemu untuk ke-35 kalinya ini juga merupakan tunggal putri nomor satu dan dua dunia.

Kemenangan ke-20 An atas rival terberatnya itu mengantarkannya menjadi juara dunia untuk kedua kali setelah 2023. Yamaguchi gagal menambah tiga gelar juara dunianya, tetapi dia menjadi salah satu tunggal putri dengan catatan luar biasa dalam Kejuaraan Dunia dengan meraih enam medali.

Di ganda putri, Lee So-hee/Baek Ha-na mengalahkan juara bertahan yang juga pasangan nomor satu dunia, Liu Sheng Shu/Tan Ning (China), 21-15, 21-15. Lee/Baek menghentikan lima kemenangan beruntun Liu/Tan atas mereka pada pertemuan tahun ini.

Gelar dari Lee/Baek ini menjadi gelar pertama bagi ganda putri Korea Selatan setelah Gil Young-ah/Jang Hye-ock menjadi juara pada 1995. Setelah itu hingga 2025, pemain-pemain China 18 kali menjadi juara dari 20 penyelenggaraan.

Sementara itu, China hanya mendapat satu gelar juara, yaitu dari Liang Wei Keng/Wang Chang. Dalam final ganda putra, mereka mengalahkan juara dunia 2022, Aaron Chia/Soh Wooi Yik (Malaysia), 21-17, 21-16. Sebelum Liang/Wang juara, China meraih gelar juara dunia ganda putra delapan tahun lalu dari Li Jun Hui/Liu Yu Chen.

Sumber: Kompas.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *