Menyelisik Kondisi Klub Penyandang Juara Liga Indonesia

Kompetisi sepak bola bertajuk ”Super League” musim 2026-2027 yang kembali bergulir pada awal September 2026. Kompetisi itu merupakan edisi ke-27 dari kompetisi kasta tertinggi Liga Indonesia sejak pertama kali penyatuan Galatama dan Perserikatan pada musim 1994-1995.

Ada delapan tim yang pernah menjuarai Liga Indonesia yang bakal berkompetisi pada musim ini. Kedelapan tim itu adalah Persib Bandung, Persebaya Surabaya, Persija Jakarta, Arema FC, Bali United, Bhayangkara FC, Persik Kediri, dan PSM Makassar.

Persib Bandung juara Super League 2025-2026 kembali diunggulkan untuk mempertahankan predikat kampiun. Prestasi tim Maung Bandung ini terbilang istimewa dan sulit dicapai tim lain di Tanah Air, tiga kali juara secara beruntun dari musim 2023-2024, 2024-2025 dan 2025-2026.

Total sejak kompetisi pertama digelar pada 1994, sudah lima kali tim kebanggaan masyarakat Jawa Barat ini meraih gelar juara di kompetisi sepak bola kasta tertinggi Tanah Air. Dua juara lainnya diraih pada musim perdana Liga Indonesia 1994-1995 dan Indonesia Super League musim 2014.

Jika Persib mencapai masa keemasannya selama tiga tahun ini, Sriwijaya FC, yang pernah meraih juara di kasta tertinggi sepak bola Tanah Air musim 2007-2008, justru merana. Laskar ”Wong Kito” ini bak sudah jatuh tertimpa tangga.

Tim kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan ini turun kasta ke Liga 3 atau Liga Nusantara setelah lima musim berkompetisi di Liga 2 atau kasta ke-2 sepak bola nasional. Pada akhir musim kompetisi Liga 2 yang bertajuk ”Pegadaian Championship 2025-2026”, tim ini hanya menduduki juru kunci atau peringkat terbawah di Grup Barat.

Persipura yang empat kali juara liga atau tim kedua tersukses setelah Persib Bandung memiliki nasib yang hampir sama dengan Sriwijaya FC. Pernah mengalami masa keemasan di liga pada tahun 2000-an, tim ini kini berlaga di Liga 2 meski nyaris promosi ke Liga 1 musim lalu. Tim kebanggaan masyarakat Papua ini terus berkutat di kompetisi kasta kedua sejak musim 2022-2023 hingga musim sekarang.

Nasib tiga tim itu sebagai gambaran betapa keras kompetisi Liga Indonesia. Jarak tipis antara kesuksesan dan kegagalan dialami tim penyandang juara liga. Lantas bagaimana kondisi klub-klub Tanah Air setelah mereka menjuarai kompetisi sepak bola kasta tertinggi negeri ini?

14 tim pernah juara

Sejak era profesional sepak bola Indonesia yang dimulai pada 1994, Persib Bandung mengukir rekor sebagai juara terbanyak Liga Indonesia dengan lima gelar, disusul Persipura Jayapura dengan empat gelar. Berikutnya lima tim yang masing-masing memiliki dua gelar juara, yakni Persija Jakarta, Persebaya Surabaya, PSM Makassar, Bali United, serta Persik Kediri.

Berikutnya tim-tim yang satu kali menduduki puncak teratas klasemen di kasta tertinggi sepak bola Tanah Air sebanyak tujuh tim, yakni Bandung Raya, Petrokimia Putra, Sriwijaya FC, Semen Padang, PSIS Semarang, Arema FC, dan Bhayangkara FC.

Sriwijaya FC sebenarnya dua kali jadi raja klasemen, yakni musim 2007 dan 2011-2012. Namun, pada 2011-2012, Indonesia Super League (ISL) tempat mereka bermain tak dianggap sebagai kompetisi resmi. Musim tersebut memang menjadi tahun kelam karena muncul dua kompetisi sepak bola level teratas negeri, yakni ISL dan Liga Prima Indonesia (LPI), tetapi akhirnya LPI diberi status sebagai kompetisi yang diakui dan Semen Padang menjadi juara pada musim 2011-2012.

Dalam perkembangannya, sebanyak 14 tim yang pernah menjuarai Liga Indonesia mengalami nasib dan pencapaian yang berbeda-beda. Terdapat separuh tim penyandang gelar juara pernah terdegradasi ke kasta di bawahnya. Sementara dua lainnya tinggal nama setelah diakuisi atau merger dengan tim lain. Adapun lima tim penyandang juara tetap eksis dan bertahan di kompetisi sepak bola kasta tertinggi Tanah Air tanpa sekali pun turun kasta.

Jika ditelaah lebih jauh, ada dua kelompok dari tujuh tim yang pernah terdegarasi. Kelompok pertama adalah tim-tim setelah menjuarai Liga Indonesia prestasinya naik-turun kasta dan kini berlaga di kasta teratas. Sementara kelompok kedua, tim pretasinya naik-turun kasta dan kini berkutat di kompetisi kasta ke-2 atau ke-3.

Bertahan di kasta teratas

Ada lima tim yang tetap bertahan di kompetisi kasta teratas setelah menjuarai liga, yakni Persib Bandung, PSM Makasar, Arema FC, Persija Jakarta, serta Bali United. Meski peringkatnya di setiap musim kompetisi turun-naik, mereka tak pernah terdegradasi atau turun kasta setelah menyandang kampiun liga.

Di kelompok ini, Persib Bandung terbilang tim yang paling superior alias terbaik dari semua tim yang menjuarai liga. Lima kali juara liga, tiga kali di antaranya diraih secara beruntun. Ini menempatkan Persib sebagai tim teratas di negeri ini. Alhasil, setiap bergulirnya kompetisi sepak bola katas teratas, Persib selalu digadang-gadang sebagai kandidat juara atau setidaknya sebagai tim papan atas.

Meski demikian, tak selamanya ”Maung Bandung” merajai papan atas klasemen pada setiap musim. Beberapa musim mereka pernah terpuruk di papan bawah, bahkan nyaris degradasi. Pada musim 2003, misalnya, prestasi Persib terpuruk di jurang degradasi setelah sempat menelan 12 kekalahan beruntun yang membuat mereka di posisi juru kunci.  

Pada akhir musim 2003, Persib hanya finis di posisi ke-16  dan memiliki asa untuk bertahan di divisi utama melalui babak playoff promosi dan degradasi. Pada babak playoff, Maung Bandung berhasil mencatatkan dua kemenangan dan satu hasil imbang. Hasil tujuh poin sudah cukup membuat Persib bertahan di kompetisi divisi utama Liga Indonesia.

Situasi hampir serupa terjadi pada musim 2006. Saat itu, performa tim Maung Bandung sangat buruk dan terancam turun kasta setelah menempati urutan ketiga terbawah klasemen akhir wilayah barat. Namun, mereka selamat setelah PSSI memutuskan untuk meniadakan degradasi akibat bencana gempa bumi hebat di Yogyakarta yang membuat dua tim asal Yogyakarta, yakni PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta, mengundurkan diri.

Sama seperti Persib Bandung, Persija Jakarta juga tergolong tim yang eksis di Liga 1 sejak pertama kali juara musim 2001. Meskipun memiliki rekor murni tak pernah turun kasta, Persija tercatat pernah mengalami masa sulit dan nyaris terdegradasi pada musim 2019.

Pada musim itu, Persija sempat terpuruk ke zona degradasi pada paruh musim saat menduduki peringkat ke-17 klasemen. Agar tidak degradasi, manajemen melakukan pergantian pelatih sebanyak tiga kali. Berawal dari Ivan Kolev, kemudian dilanjutkan Julio Banuelos, serta Edson Tavares. Nama terakhir yang akhirnya menyelamatkan Persija dari degradasi, dengan menutup musim di posisi ke-10 klasemen.

PSM Makassar juga salah satu tim juara yang prestasinya stabil di Liga Indonesia. Setelah menjuarai liga untuk kali pertama pada 1999-2000, tim ”Juku Eja” ini tak pernah degradasi dan kerap menempati papan atas klasemen. PSM kembali juara Liga 1 Indonesia 2022-2023 setelah puasa gelar selama 23 tahun.

Meski demikian, PSM Makassar juga mengalami masa sulit selama berkiprah di Liga Indonesia. Musim 2025-2026 menjadi masa paling sulit karena nyaris terdegradasi. Jeku Eja hanya duduk di peringkat ke-15 dengan 34 poin sama seperti Persis di peringkat ke-16 yang terdegradasi ke Liga 2. PSM lolos dari degradasi karena unggul head to head atas Persis Solo.

Arema FC yang menjuarai musim 2009-2010 juga terbilang konsisten berkiprah di Liga 1. Meski demikian, musim 2023-2024 menjadi musim terberat tim ini dalam kiprahnya di Liga 1.  Arema menghabiskan ratusan hari di zona degradasi, tetapi berkat pergantian pelatih dan hasil manis di laga-laga akhir, mereka finis di peringkat ke-15 dan lolos dari degradasi.

Yang terakhir tim pendatang baru, yakni Bali United, yang dua kali juara liga secara beruntun tahun 2019 dan 2021-2022. Tim yang mulai berkiprah di kasta tertinggi sepak bola nasional musim 2015 ini cukup konsisten dengan terus di papan atas dan tengah klasmen sejak 2019 hingga kini.

Naik-turun kasta

Ada tiga tim yang naik-turun kasta setelah menjuarai liga, yakni Persebaya Surabaya, Persik Kediri, dan Bhayangkara FC. Ketiga tim itu pernah mengalami degradasi dan kembali promosi ke kompetisi kasta teratas. Tak hanya sekali, mereka mengalami degradasi dan promosi beberapa kali dan kini eksis di kompetisi sepak bola teratas Tanah Air.

Persebaya Surabaya prestasinya di pentas Liga Indonesia sebenarnya cukup mentereng. Tim ”Bajul Ijo” sudah dua kali menjadi raja kompetisi pada musim 1996-1997 dan 2004. Juara edisi 2004 sangat fenomenal karena mereka berstatus sebagai tim promosi.

Meski demikian, perjalanan Persebaya di liga domestik tidak selalu manis. Klub kebanggaan arek Surabaya ini beberapa kali turun kasta. Mereka sempat degradasi pada tahun 2002, 2006, dan 2010.

Setelah degradasi 2010, manajemen Persebaya mengambil keputusan tak ingin berlaga di Divisi Utama (kasta kedua) 2010-2011. Keputusan meninggalkan kompetisi resmi berbuntut panjang hingga terjadinya dualisme tim. Alhasil, PSSI sebagai induk organisasi sepak bola nasional tidak mengakui keberadaan tim Persebaya selama beberapa musim.

Persebaya akhirnya kembali diakui PSSI sebagai anggota pada Januari 2017. Tapi, mereka harus memulai dari Liga 2, tidak langsung masuk Liga 1. Setelah setahun berlaga di Liga 2, Persebaya naik kelas alias promosi ke Liga 1 musim 2018 setelah menjuarai Liga 2 musim 2017. Sejak itu, tim Bajul Ijo eksis di kompetisi sepak bola teratas nasional hingga sekarang.

Nasib serupa terjadi pada Persik Kediri yang juara pada 2003. Berstatus tim promosi, klub berjuluk ”Macan Putih” ini keluar sebagai kampiun musim perdananya di Liga Indonesia. Gelar tersebut kemudian direplikasi pada tahun 2006.

Namun, setelah tiga musim bertahan di Liga Indonesia, tim ini terdegradasi di divisi utama setelah menempati peringkat ke-16 pada musim 2009-2010. Setelah tiga musim di Divisi Utama, tim ini kembali promosi ke kasta teratas setelah menempati peringkat ke-3 musim 2013.

Pada Desember 2014, Persik Kediri harus didiskualifikasi dari kompetisi ISL 2015 karena syarat keuangan dan infrastruktur gagal dipenuhi manajemen. Alhasil, mereka pun terdegradasi ke Divisi Utama (Liga 2) pada musim 2017. Bahkan, Persik Kediri juga sempat turun ke Liga 3 di musim 2018 dan kembali promosi ke Liga 2 musim 2019. Persik kembali promosi ke Liga 1 setelah menjuarai Liga 2 musim 2019. Sejak musim 2021, Persik Kediri menjadi tim yang eksis di Liga 1 hingga sekarang.

Tim terakhir yang prestasinya naik-turun setelah juara liga, yakni Bhayangkara FC, yang menjadi kampiun musim 2017. Setelah menjadi juara pada 2017, ”The Guardian” mengakhiri musim 2018 dan 2019 di posisi ketiga dan keempat, dan naik ke peringkat ketiga di klasemen akhir musim 2021-2022 serta di posisi ketujuh pada musim 2022-2023.

Tim ini mencapai antiklimaks dengan terdegradasi ke Liga 2 setelah hanya menempati peringkat ke-17 pada musim 2023-2024. Hanya setahun di Liga 2, Bhayangkara FC kembali promosi ke Liga 1 musim 2025-2026. Setelah kembali ke kasta teratas, klub milik Polri ini menempati posisi ke-5 di klasemen akhir Liga 1 musim 2025-2026.

Turun kasta

Terdapat empat tim yang turun kasta setelah menjuarai Liga Indonesia, yakni PSIS Semarang, Persipura Jayapura, Sriwijaya FC Semen Padang. Keempat tim itu pernah mengalami degradasi dan kembali promosi ke kompetisi kasta teratas. Namun, prestasi mereka merosot tajam dan kini berkompetisi di kasta ke-2 atau ke-3.

PSIS Semarang menjuarai Liga Indonesia musim 1998-1999. Pada musim itu, ”Tim Mahesa Jenar” yang tidak diunggulkan mampu menembus partai final. Di laga puncak, tim Mahesa Jenar sukses mengalahkan Persebaya lewat gol tunggal. Ironisnya, sebagai juara bertahan, tim kebanggaan masyarakat Semarang ini justru harus terdegradasi pada musim 1999-2000 alias hanya bertahan satu musim.

PSIS kembali promosi di kasta tertinggi pada musim 2018. Di kompetisi kasta teratas sepak bola nasional, PSIS hanya bertahan lima musim dari 2018 hingga 2024-2025.  Sejak musim 2025-2026, tim Mahesa Jenar berlaga di Liga 2 dan nyaris terdegradasi di Liga 3.

Senasib dengan PSIS, ada Persipura Jayapura yang berlaga di Liga 2. Padahal, tim berjuluk ”Mutiara Hitam” ini adalah klub tersukses kedua di era Liga Indonesia, empat kali meraih juara liga. Sayangnya, klub yang berbasis di Papua itu harus turun kasta karena cuma menempati peringkat ke-16 Liga 1 musim 2021-2022. Sejak musim 2022-2023, tim ini masih berkutat di Liga 2 hingga musim mendatang.

Persipura sempat nyaris naik kelas ke liga 1 musim 2026-2027 setelah menempati posisi ke-2 di Grup Timur. Namun, tim ini gagal promosi ke kasta tertinggi Liga 1 setelah kalah tipis 0-1 dari Adhyaksa FC pada laga playoff promosi Championship 2025-2026 di Stadion Lukas Enembe, Jayapura, pada Jumat (8/5/2026).

Kekalahan Persipura Jayapura diwarnai aksi rusuh penonton di dalam lapangan hingga pembakaran di luar stadion. Alhasil, PSSI melalui Komite Disiplin menjatuhkan lima sanksi kepada Persipura Jayapura berupa denda mencapai Rp 240 juta dan larangan menggelar pertandingan kandang dengan penonton selama satu musim penuh pada kompetisi 2026-2027.

Nasib lebih tragis dialami Sriwijaya FC pada Liga 1 edisi 2018. Kompetisi itu menjadi keikutsertaan terakhir mereka di kasta tertinggi nasional. Sejak musim 2019, Sriwijaya FC berkutat di Liga 2 hingga musim 2025-2026. Pada musim terakhir itu, Sriwijaya FC kembali turun kasta ke Liga Nusantara atau Liga 3 setelah menjadi juru kunci di musim tersebut.

Berikutnya Semen Padang. Setelah menjadi juara Liga Prima Indonesia 2011-2012, tim ini berkompetisi di kasta tertinggi hingga musim 2017. Di Liga 1 2017, performa Semen Padang menurun dan di akhir musim, klub terdegradasi ke Liga 2 karena berada di peringkat ketiga terbawah.

Sejak itu, Semen Padang kerap mengalami promosi dan degradasi liga. Bahkan, pada Liga 2 musim 2021, klub ini nyaris terdegradasi ke Liga 3. ”Kabau Sirah” baru kembali ke Liga 1 seusai jadi runner-up Liga 2 musim 2023-2024.  Kembalinya Semen Padang ke kasta tertinggi liga Indonesia hanya berlangsung dua musim, yakni 2024-2025 dan 2025-2026. Pada musim terakhir itu, tim kebanggaan masyarakat Sumbar hanya menempati posisi ke-17 dan terdegradasi ke Liga 2 di musim mendatang.

Tinggal nama

Ada dua tim di kelompok ini, yakni Mastrans Bandung Raya dan Pertokimia Putra. Bandung Raya menjuarai Liga Indonesia musim 1995-1996, sementara Petrokimia Putra pada musim 2002. Dua tim itu kini tinggal nama saja karena merger atau diakuisisi klub lain.

Setelah menjuarai Liga Indonesia, Mastrans Bandung Raya merger dengan Pelita Jaya untuk mengarungi Liga Indonesia musim 1996-1997 dengan nama baru, yakni Pelita Mastrans. Indonesia kemudian dilanda krisis moneter dan tim ini tak kuat menahan bencana finansial yang melanda sehingga akhirnya bubar.

Bandung Raya sempat dihidupkan kembali sebagai Pelita Bandung Raya (PBR) dan tampil pada Liga Indonesia musim 2012 dan 2013. PBR kemudian memutuskan merger dengan Persipasi Bekasi dan kembali mengubah namanya menjadi Persipasi Bandung Raya selama setahun. Persipasi Bandung Raya kemudian diakusisi dan kini bertransformasi menjadi Madura United FC.

Nasib serupa dialami penyandang juara liga lainnya, yakni Petrokimia Putra yang menjuarai musim 2002. Klub berjuluk ”Kebo Giras” ini menjadi tim milik badan usaha milik negara (BUMN) pertama yang mampu menjadi jawara di persepakbolaan Indonesia.

Setelah menjadi raja pada musim 2002, performa klub itu seperti kehabisan tenaga dan menukik tajam pada musim berikutnya. Mereka harus puas berada di posisi ke-18  dan turun kasta ke Divisi 1 setelah musim sebelumnya juara di Divisi Utama, kasta tertinggi kompetisi sepak bola Tanah Air.

Hanya semusim berlaga di Divisi Satu, Kebo Giras pun kembali naik kasta pada 2005. Pada Divisi Utama 2005, Petrokimia Putra hanya numpang lewat saja karena di akhir musim tim kebanggaan masyarakat Gresik ini terdegradasi. Tak hanya turun kasta, musim itu pun menjadi musim pamungkas menggunakan nama Petrokimia Putra karena pemiliknya, PT Petrokimia Gresik, sudah tak sanggup lagi mendanai Petrokimia Putra.

Petrokimia Putra akhirnya merger dengan Persegres Gresik dengan nama Gresik United untuk berlaga di Liga Indonesia Divisi Satu 2006. Gresik United sampai kini masih eksis di persepakbolaan Indonesia dengan berlaga di Liga 3.

Nasib tim-tim juara di kompetisi kasta teratas sepak bola nasional itu menunjukkan betapa ketatnya persaingan kompetisi. Tim-tim yang tidak mampu mempertahankan eksistensinya di kompetisi teratas bakal menghadapi krisis pemasukan uang, perginya pemain bintang, hingga merosotnya jumlah penonton di stadion akibat ditinggalkan suporter. Sementara tim yang bertahan di kompetisi, bakal memiliki kestabilan finansial klub, peningkatan nilai pasar pemain, serta loyalitas suporter yang semakin kuat.

Jika klub terus bertahan dan eksis di kompetisi teratas, ditambah pemilik klub dan pengelola melakukan langkah-langkah strategis di sisi profesionalisme dan transparansi dalam pengelolaan finansial, sepak bola Indonesia bisa jadi lebih berkualitas dan sejajar dengan liga-liga top Asia lainnya. Semoga!

Sumber: Kompas.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *