Seni pertunjukan Sulawesi Selatan kembali membawa nama Indonesia ke panggung budaya internasional.
Kali ini, budaya Sulsel tampil dalam Tour of France CIOFF 2026 yang digelar di sejumlah kota di Prancis.
Indonesia diwakili Ida El Bahra Art Management dengan membawa sejumlah karya seni pertunjukan tradisional Sulawesi Selatan.
Delegasi Indonesia tampil selama lebih dari satu bulan di delapan kota.
Kedelapan kota tersebut yakni Chambéry, Montséveroux, Le Puy-en-Velay, Montignac, Pujols, Amélie-les-Bains, Montoire, dan Haguenau.
Tour of France CIOFF merupakan rangkaian festival yang berada dalam jejaring Conseil International des Organisations de Festivals de Folklore et d’Arts Traditionnels (CIOFF).
Art Director Ida El Bahra Art Management, Dr Nurwahidah, mengatakan kesempatan tersebut menjadi kehormatan sekaligus tanggung jawab.
Menurutnya, setiap kota memiliki karakter festival dan penonton yang berbeda.
Namun, Indonesia mendapat kepercayaan untuk tampil dalam seluruh rangkaian tur tersebut.
“Indonesia pada kesempatan ini dipercaya untuk tampil di delapan kota di Prancis. Setiap kota menghadirkan penonton, ruang budaya, dan pengalaman yang berbeda,” ujar Nurwahidah.
Dosen Universitas Negeri Makassar tersebut mengatakan, pertunjukan itu menjadi kesempatan memperkenalkan kekayaan seni Sulsel kepada masyarakat internasional.
Ia menilai festival CIOFF bukan sekadar ruang pertunjukan.
Festival tersebut juga menjadi ruang pertemuan dan dialog antarbudaya dari berbagai negara.
I La Galigo Jadi Karya Utama
Salah satu karya utama yang dibawakan delegasi Indonesia adalah Drama Tari I La Galigo: Batara Guru – Jejak Langit di Bumi.
Pertunjukan tersebut dipadukan dengan sejumlah kesenian tradisional Sulawesi Selatan.
Di antaranya Madduppa Gau, Pakarena Sumange, Sumpung Lolo, Gandrang Bulo, dan Solo Kecapi.
Melalui karya tersebut, delegasi Indonesia memperkenalkan nilai budaya Bugis-Makassar dan Toraja kepada masyarakat Prancis.
Nilai tersebut antara lain penghormatan kepada tamu, spiritualitas, persaudaraan, serta hubungan manusia dengan alam.
Technical Director Ida El Bahra Art Management, Muhammad Aulia Rakhmat, mengatakan produksi I La Galigo disiapkan secara adaptif.
Hal itu dilakukan karena setiap kota memiliki karakter panggung yang berbeda.
“Karya Drama Tari I La Galigo kami persiapkan agar mampu beradaptasi dengan berbagai jenis panggung pertunjukan,” kata Aulia.
Pamong Budaya Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Selatan itu menyebut sejumlah penyesuaian dilakukan selama tur.
Penyesuaian mencakup tata artistik, komposisi pemain, musik, properti hingga durasi pertunjukan.
Meski demikian, penyesuaian tersebut tidak menghilangkan esensi filosofis dari karya I La Galigo.
Budaya Sulsel Jadi Identitas Indonesia
Kehadiran delegasi Indonesia dalam Tour of France CIOFF 2026 menjadi bagian dari diplomasi budaya.
Budaya daerah ditampilkan sebagai bagian dari identitas Indonesia di panggung internasional.
Dari Sulawesi Selatan, karya seni pertunjukan dibawa melintasi delapan kota di Prancis.
Pertunjukan tersebut sekaligus menjadi sarana membangun hubungan dan persahabatan antarbangsa melalui seni.
Ida El Bahra Art Management berharap kehadiran seni Sulsel dalam festival internasional dapat semakin memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia.
Terlebih, I La Galigo memiliki nilai sejarah dan budaya yang kuat dalam tradisi masyarakat Sulawesi Selatan.
Sumber: Tribunnews.com

