Xavi Hadirkan Sentuhan Tiki-taka ke ”Tim Oranye”

Belanda memilih Xavi Hernandez sebagai pelatih, menggantikan Ronald Koeman yang mengundurkan diri selepas Piala Dunia 2026. Legenda Barcelona dan Spanyol itu pun menjadi pelatih asing pertama yang menangani ”Tim Oranye” selama 48 tahun terakhir.

Asosiasi Sepak Bola Belanda (KNVB) mengumumkan penunjukan Xavi itu pada Rabu (12/8/2026). Peraih gelar Piala Dunia Afrika Selatan 2010 semasa masih menjadi pemain tersebut menganggur sejak meninggalkan kursi kepelatihan di Camp Nou pada 2024.

Xavi menandatangani kontrak selama empat tahun, yang artinya ia akan memimpin Tim Oranye untuk Piala Eropa 2028 dan Piala Dunia 2030. ”Sebagai seorang yang mendapatkan pelatihan di akademi Barcelona, dengan pengaruh kuat, antara lain dari Johan Cruyff dan Rinus Michels, saya merasa memiliki koneksi khusus dengan sepak bola Belanda,” kata Xavi.

Mantan gelandang ini menyatakan bahwa sosok-sosok legenda Belanda sangat berpengaruh dalam perjalanan kariernya di sepak bola. ”Bisa dibilang saya adalah produk sepak bola Belanda. Pelatih-pelatih hebat lainnya—terutama Louis van Gaal, yang di bawah asuhannya saya menjalani debut di Barcelona, ​​serta Frank Rijkaard—juga berperan penting dalam membentuk diri saya sebagai pemain ataupun pelatih,” tambah Xavi.

Koeman mengundurkan diri dari kursi kepelatihan Belanda setelah tersingkir pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 karena kalah adu penalti dari Maroko. Sebelumnya, mantan pelatih Liverpool Arne Slot disebut-sebut sebagai calon kuat untuk menggantikan Koeman. Slot sempat melakukan pembicaraan dengan KNVB, tetapi kemudian mengundurkan diri karena memilih tetap fokus menangani klub.

Debut Xavi sebagai pelatih Belanda akan berlangsung pada laga Liga Nasional Eropa melawan Jerman di Johann Cruyff Arena, Amsterdam, 24 September mendatang. Ia menjadi pelatih asing pertama sejak pelatih asal Austria, Ernst Happel, membawa Belanda melaju ke partai puncak Piala Dunia 1978.

Poros tiki-taka

Selama bermain di Camp Nou, Xavi menjadi otak dari filosofi sepak bola yang populer disebut sebagai tiki-taka di bawah asuhan Pep Guardiola. Dengan visi bermainnya yang luar biasa, Xavi bertindak sebagai dirigen yang mengatur tempo permainan Barca, menentukan kapan tim harus mempercepat aliran serangan atau memperlambatnya guna meredam tekanan lawan.

Kemampuannya dalam menjaga penguasaan bola sangat mutlak, didukung oleh akurasi operan pendek yang luar biasa dan pemahaman ruang yang hampir sempurna di area tengah lapangan. Secara keseluruhan, Xavi bukan sekadar pengoper bola yang andal, melainkan jiwa dari permainan Barcelona yang memastikan dominasi penguasaan bola total menjadi senjata utama untuk memenangi laga.

Xavi sudah menyatakan gaya sepak bola yang akan dibawanya ke timnas Belanda tidak jauh dari filosofi Barcelona, yaitu sepak bola menyerang berbasis penguasaan bola. Terlebih lagi, budaya sepak bola Belanda tidak jauh berbeda dengan filosofi yang dipelajarinya bersama Barcelona, dengan banyak pengaruh dari legenda seperti Cruyff dan Michels.

”Belanda memiliki budaya sepak bola yang kaya dan visi yang jelas, yang juga sangat menarik bagi saya—sepak bola menyerang yang mengandalkan penguasaan bola, serta penuh kreativitas, semangat, dan keyakinan,” tambah Xavi.

Hanya saja, tantangan bagi Xavi adalah skuad Belanda saat ini tidak memiliki pemain dengan kualitas lini tengah seperti Spanyol. Tidak banyak pemain yang punya kemampuan seperti Xavi atau Rodri, yang mampu bertindak sebagai dirigen yang mengatur tempo permainan.

Gelandang yang mempunyai karakter mirip Xavi ataupun Rodri adalah Frenkie de Jong dan Ryan Gravenberch, tetapi dengan level kualitas di bawah keduanya. De Jong dan Gravenberch menjadi pilar lini tengah Belanda pada Piala Dunia 2026 yang berakhir dengan mengecewakan.

Belanda selama ini dikenal dengan filosofi total football-nya. Meskipun, dalam beberapa era kepelatihan dari Van Gaal sampai Koeman, mereka tidak lagi menerapkannya karena lebih memilih pendekatan pragmatis dalam permainan mereka.

Bukan hanya soal gaya, Xavi juga bertekad membawa Belanda kembali ke puncak setelah dalam beberapa tahun terakhir terpuruk. ”Tentu saja, tujuan utamanya adalah—dan akan selalu—untuk meraih kemenangan, tetapi saya lebih memilih mencapainya dengan cara yang mencerminkan karakteristik tersebut dan dapat dinikmati oleh banyak orang. Potensi untuk mewujudkannya itu ada, begitu pula dengan fondasi yang kokoh untuk mengembangkannya lebih jauh,” lanjut Xavi.

Karier cemerlang

Xavi, yang memulai karier kepelatihannya di klub Qatar, Al-Sadd, berhasil membawa Barcelona memenangi gelar LaLiga pada 2023. Akan tetapi, itu tidak cukup sehingga kemudian dipecat musim berikutnya, digantikan oleh Hansi Flick.

Selama bermain, ia mempersembahkan empat trofi Liga Champions untuk tim Catalan. Xavi menempati posisi kedua dalam total penampilan bersama Barca, di bawah legenda lainnya, Lionel Messi.

”Sebagai pemain, Xavi telah merasakan dan memenangi segalanya. Ia memiliki gelar Piala Dunia, berbagai gelar nasional, serta trofi Liga Champions dalam daftar prestasinya,” ujar Direktur Sepak Bola Belanda Nigel de Jong—sosok yang dikenal karena aksinya menendang dada Xabi Alonso (rekan setim Xavi kala itu) pada laga final Piala Dunia 2010.

De Jong menyebut, sebagai seorang pelatih, filosofi sepak bola Xavi sesuai dengan visi yang diinginkan Belanda saat ini. ”Sebagai pelatih, ia ditempa oleh pengalaman bertahun-tahun bekerja sama dengan pelatih-pelatih papan atas yang mengusung visi sepak bola yang sangat selaras dengan gaya permainan yang kami inginkan bagi tim nasional Belanda: proaktif, dominan, dan atraktif, tetapi tetap fleksibel sesuai tuntutan sepak bola elite modern,” tambah De Jong.

Belanda masih berupaya keras untuk melepaskan diri dari julukan tim yang ”selalu nyaris juara” di kancah internasional. Mereka telah kalah dalam tiga laga final Piala Dunia—jumlah kekalahan terbanyak bagi negara mana pun dalam sejarah yang belum pernah sekali pun mengangkat trofi tersebut. Salah satunya adalah ketika kalah dari Spanyol yang diperkuat Xavi pada final Piala Dunia 2010 di Johannesburg.

Kemenangan di Euro 1988 tetap menjadi satu-satunya gelar juara turnamen besar yang pernah diraih Belanda. Sejak saat itu, mereka telah empat kali kalah di semifinal Euro, termasuk saat menghadapi Inggris dua tahun lalu.

Saat masih aktif bermain, Xavi berperan krusial dalam mengubah Spanyol dari tim yang kerap gagal memenuhi ekspektasi menjadi kekuatan dominan yang sukses menyabet tiga gelar turnamen internasional besar secara berturut-turut, Euro 2008, Piala Dunia 2010, dan Euro 2012.

Kini, ia memiliki kesempatan untuk mengulangi pencapaian tersebut bersama timnas Belanda. Akan sangat menarik jika Xavi mengembalikan semangat total football sekaligus memadukannya dengan sentuhan tiki-taka.

Sumber: Kompas.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *