Sedikitnya 10.000 turis dan warga setempat dievakuasi dari kawasan pesisir barat daya Perancis setelah kebakaran hutan meluas di wilayah Le Porge dan Lège-Cap-Ferret. Keduanya dikenal sebagai daerah wisata populer di pesisir Atlantik. Pada saat bersamaan, kebakaran yang dipicu gelombang panas juga terus melanda Italia dan Spanyol. Sampai sejauh ini, tiga pemadam kebakaran tewas. Sembilan pemerintah daerah di Perancis membuka penampungan bagi para pengungsi dan sudah menampung 2.500 orang.
Kebakaran yang mulai terjadi, Rabu (22/7/2026), menghanguskan sekitar 2.400 hektar hutan pinus Le Porge, di dekat kawasan penghasil anggur, Medoc. Api menjalar cepat di tengah vegetasi yang sangat kering. Di beberapa lokasi, tinggi kobaran apinya mencapai sekitar 10 meter. Para turis yang dievakuasi diketahui menginap di delapan lokasi perkemahan dan akomodasi liburan lainnya. Sekitar 1.000 warga yang dievakuasi tinggal di permukiman yang ada di tepi hutan.
Sekitar 700 petugas pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan api di darat. Mereka dibantu beberapa pesawat pemadam yang mondar-mandir menjatuhkan air dari udara. Perfektur Gironde menyebutkan, kondisi masih berisiko tinggi karena cuaca panas dan kondisi hutan yang sangat kering hingga api terus menyebar.
Langit di desa pesisir Le Porge berubah akibat kepulan asap tebal dari pepohonan pinus yang hangus. Helikopter dan kendaraan pemadam kebakaran terus hilir mudik, sementara polisi mendatangi rumah-rumah warga untuk meminta mereka segera mengungsi. ”Situasinya menakutkan. Ketika kami membeli rumah di sini, tak pernah terpikir akan ada risiko kebakaran,” kata Patrick Martineau (69), warga yang mengungsi.
Wali Kota Le Porge, Martial Zaininnetti, menduga kebakaran dipicu mesin yang digunakan untuk membersihkan semak di jalur hutan. Dugaan serupa juga disampaikan warga. Namun, polisi masih menyelidiki penyebab pastinya. Kebakaran kali ini mengingatkan kembali pada bencana serupa pada 2022 yang menghanguskan sekitar 30.000 hektar hutan di kawasan yang sama. Pada waktu itu, sekitar 50.000 orang juga mengungsi.
Di bagian lain Perancis, kebakaran di Ponteves, dekat Marseille, berhasil ditangani setelah membakar 2.500 hektar lahan dan menghancurkan 10 rumah. Sementara kebakaran yang jarang terjadi juga melanda Hutan Fontainebleau di dekat Paris yang berstatus Situs Warisan Dunia UNESCO. Api merusak sekitar sepersepuluh kawasan hutan itu.
Menteri Dalam Negeri Perancis Laurent Nunez mengatakan, sejak awal tahun sudah terjadi lebih dari 12.500 kebakaran hutan di Perancis yang membakar sekitar 44.000 hektar lahan.
Kebakaran juga melanda Italia. Di Pulau Sisilia, sekitar 6.000 petugas pemadam kebakaran, penjaga hutan, dan petugas perlindungan sipil berjuang memadamkan puluhan titik api yang sudah berkobar selama beberapa hari. Padahal, pesawat pengebom air terus dikerahkan. Badan Perlindungan Sipil Italia menggambarkan situasi di Sisilia serius dan menyebut kebakaran dipicu oleh suhu yang sangat tinggi dan kondisi tanah yang sangat kering.
Di Calabria, tetangga Sisilia, terjadi 160 kebakaran dalam beberapa hari terakhir. Diduga pemicunya pembakaran yang disengaja oleh oknum. Ada dugaan para pelaku mengikatkan kain yang dibasahi cairan mudah terbakar pada ekor kucing liar untuk membantu menyebarkan api.
Di Spanyol, kebakaran berhasil dikendalikan di Toledo, sekitar 75 kilometer dari Madrid. Sebagian besar warga yang sebelumnya dievakuasi sudah boleh kembali ke rumah mereka. Namun, penduduk El Encinar del Alberche di wilayah Villa del Prado masih diminta menjauh karena api belum padam sepenuhnya.
Ratusan petugas masih berusaha memadamkan kebakaran yang lebih besar di Provinsi Guadalajara, 100 kilometer dari Madrid. Sudah seminggu kebakaran terjadi dan menghanguskan 32.000 hektar lahan. Menurut Sistem Informasi Kebakaran Hutan Eropa, sepanjang 2025 terdapat 393.000 hektar lahan yang terbakar di Spanyol. Ini angka terburuk dalam sejarah Spanyol.
Kembali ke kearifan lokal
Di tengah kebakaran yang terus berulang, sejumlah daerah di Spanyol mulai kembali mengandalkan cara tradisional untuk mengurangi risiko bencana. Di Galicia, wilayah yang pernah jadi episentrum kebakaran terbesar di Spanyol, masyarakat menggunakan kembali ternak, seperti sapi Cachena, kambing, dan domba untuk membersihkan semak-semak yang mudah terbakar.
Selama puluhan tahun, penanaman besar-besaran pohon pinus dan eucalyptus untuk industri, ditambah dengan perpindahan penduduk desa ke kota, membuat banyak lahan tidak lagi dikelola. Akibatnya, lahan-lahan jadi penuh vegetasi yang mudah terbakar.
Kondisi itu juga membuat populasi sapi Cachena atau ras sapi terkecil di Semenanjung Iberia yang dijuluki ”sapi-kambing” itu terus menyusut. Padahal, sapi jenis itu mampu memakan hampir semua jenis tumbuhan dan menjelajahi medan pegunungan. Kebakaran besar yang melanda Vincios pada 2017 mendorong masyarakat setempat menghidupkan kembali metode pencegahan yang sudah digunakan selama berabad-abad.
Melalui penggembalaan sapi Cachena, kambing, dan domba, semak berduri dan tanaman sapi yang mengandung minyak mudah terbakar dapat dikendalikan sehingga api lebih sulit menjalar dari permukaan tanah ke pohon. ”Ternak asli kita bisa menjaga semak tetap pada ketinggian yang tidak membahayakan,” kata Koordinator Pengelola Lahan Vincios, Jose Taboada.
Menurut Taboada, hewan-hewan ternak itu bahkan dipasangi kalung GPS sehingga mereka bisa berkeliaran bebas tanpa pagar dan tetap terpantau. ”Mereka bisa beradaptasi dengan medan,” ujarnya.
Program kembali ke cara tradisional itu, bersama upaya berbagai komunitas lain di Galicia, berhasil meningkatkan populasi ternak asli dari sekitar 1.800 ekor pada akhir 1990-an menjadi sekitar 30.000 ekor pada awal 2026. Jumlah sapi Cachena juga bertambah dari sekitar 400 ekor menjadi sekitar 8.000 ekor. Ini berkat insentif dari pemerintah daerah yang mendorong peternak mempertahankan sapi betina muda untuk berkembang biak dan penyediaan pejantan dengan harga murah.
Model serupa kini mulai diterapkan di Andalusia, Catalonia, dan Castile-La Mancha. Meski demikian, pakar kehutanan Jose Vicente Oliver mengingatkan bahwa penggembalaan ternak tidak bisa menjadi satu-satunya solusi. Cara itu perlu dipadukan dengan penjarangan vegetasi, pemangkasan biomassa, dan pembakaran terkendali oleh personel khusus.
Bagi Taboada, manfaat terbesar dari program itu bukan semata menghasilkan daging atau susu, melainkan menjaga hutan tetap terbuka dan terawat. ”Daerah ini selalu terbakar. Ternak memungkinkan kami menjaga hutan tetap terbuka, bisa dikelola, dan terkendali,” ujarnya.
Para ilmuwan sejak lama memperingatkan bahwa perubahan iklim akibat pembakaran bahan bakar fosil meningkatkan frekuensi, durasi, dan intensitas gelombang panas serta kebakaran hutan. Perancis sudah mengalami tiga gelombang panas sejak Mei lalu. Akibatnya, korban berjatuhan, sungai jadi kering, dan memicu kebakaran di berbagai wilayah.
Sementara itu, suhu rata-rata Spanyol pada Juli 2026 tercatat 5,6 derajat celsius lebih tinggi ketimbang rata-rata periode 1961-1990. Kombinasi panas ekstrem, kekeringan, dan angin kencang membuat Eropa Selatan kembali menghadapi salah satu musim kebakaran paling berat dalam beberapa tahun terakhir.
Sumber: Kompas.id

