KOI Buka Opsi Pengiriman Atlet Mandiri ke Asian Games

Komite Olimpiade Indonesia membuka opsi pengiriman atlet melalui jalur mandiri atau non-APBN untuk Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Langkah ini diambil guna menyiasati keterbatasan anggaran negara untuk mengirim perwakilan ke ajang yang menjadi salah satu sasaran utama prestasi olahraga Indonesia itu.

Skema keberangkatan mandiri menjadi salah satu pembahasan dalam Rapat Anggota Luar Biasa (RALB) Komite Olimpiade Indonesia (KOI) di Jakarta, Senin (20/7/2026). RALB menjadi momentum pertama Ketua Umum KOI Raja Sapta Oktohari memperkenalkan Ketua Kontingen (CdM) Indonesia untuk Asian Games Aichi-Nagoya 2026 Todotua Pasaribu kepada semua anggota.

Dalam RALB, KOI dan CdM menyampaikan perkembangan persiapan kontingen menghadapi ajang yang akan digelar 19 September-4 Oktober 2026 ini. Pembahasan meliputi skema keberangkatan, persiapan logistik dan akomodasi, hingga kebutuhan tiap-tiap cabang olahraga.

”Skema cabang olahraga mandiri masih kami godok. Namun, prinsipnya sangat jelas. Kalau memilih berangkat secara mandiri, pembiayaannya juga dilakukan secara mandiri dan harus disertai tanggung jawab prestasi,” tutur Okto.

Hingga kini, kata Okto, mekanisme tersebut masih dalam tahap pembahasan bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga, tim CdM, dan KOI. Pembahasan juga berkaitan dengan penentuan jumlah cabang olahraga yang akan menggunakan skema tersebut.

Pada awal Mei, Okto sempat menyampaikan kepada awak media tentang opsi skema pembiayaan mandiri itu selepas Rapat Anggota KOI 2026. Ia menyampaikannya setelah berbicara kepada Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir di hadapan sejumlah perwakilan cabang olahraga terkait kendala biaya persiapan Asian Games.

Dalam rapat bersama Komisi X DPR, Juni lalu, Erick Thohir mengatakan, anggaran pelatnas untuk Asian Games 2026 menurun 79 persen dibandingkan Asian Games 2022. Untuk Aichi-Nagoya 2026, anggaran pelatnas Rp 81 miliar untuk 33 cabang olahraga dan 361 atlet.

Penurunan itu tak lepas dari pemangkasan dari Kementerian Keuangan dan pagu Kemenpora yang rendah. Dari total anggaran Kemenpora sebesar Rp 1,15 triliun, terdapat pemangkasan hingga mencapai Rp 270 miliar.

Pada prinsipnya, kata Okto, KOI berusaha mencari cara agar atlet tetap bisa berlaga di Asian Games. Apalagi ajang seperti Asian Games merupakan salah satu sasaran utama prestasi Indonesia selain Olimpiade.

Untuk itu, KOI juga sempat meminta audiensi dengan Kementerian Keuangan. Tujuannya untuk menjembatani aspirasi federasi olahraga kepada pemerintah, khususnya terkait tantangan pendanaan tersebut.

Tanggung jawab

Meski ada opsi skema mandiri, Okto menegaskan, konsep itu tidak dimaknai sebagai kebebasan untuk berangkat sendiri tanpa standar yang jelas. Sebaliknya, skema tersebut akan dibangun di atas prinsip akuntabilitas dan tanggung jawab prestasi.

Okto menambahkan, setiap usulan keberangkatan tetap akan melalui kajian strategis dan teknis, termasuk peluang meraih medali, kesiapan logistik, serta kepastian akomodasi di Jepang.

”Kami tidak mungkin memberangkatkan siapa pun tanpa perencanaan yang matang. Kami harus memastikan atlet memiliki tempat tinggal yang jelas, dukungan logistik memadai, dan peluang prestasi yang terukur. Jangan sampai keputusan yang diambil justru menimbulkan persoalan baru yang berdampak pada nama baik Indonesia,” ujar Okto.

Di sisi lain, CdM Todotua Pasaribu bersama tim telah memetakan berbagai kebutuhan kontingen Indonesia, mulai dari akomodasi, transportasi, hingga dukungan operasional selama Asian Games berlangsung. Hasil peninjauan menjadi dasar dalam menyusun berbagai strategi untuk mendukung atlet di Asian Games.

Fokus latihan

Todotua juga memastikan semua atlet dapat sepenuhnya fokus menjalani latihan tanpa dibebani persoalan nonteknis menjelang keberangkatan ke Jepang. Komitmen itu disampaikan saat tim CdM melakukan kunjungan ke pemusatan latihan nasional panahan di Lapangan Panahan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Selasa (21/7/2026).

”Kami ingin menyampaikan kepada atlet dan ofisial bahwa kalian tidak perlu khawatir apabila ada tantangan di luar latihan. Itu menjadi urusan kami,” ucap Todotua.

”Tanggung jawab tim CdM adalah mengorganisasi seluruh kebutuhan kontingen, mulai dari keberangkatan, akomodasi, transportasi, sampai kepulangan nanti. Yang paling penting, atlet bisa fokus berlatih dan tampil maksimal saat bertanding,” ucapnya lagi.

Sebelumnya, Todotua mengatakan, Indonesia akan mengirim sekitar 420 atlet. Mereka akan bertanding di 32 cabang olahraga.

Sumber: Kompas.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *