WHO: Wabah Virus Hanta di Kapal Pesiar MV Hondius Resmi Berakhir

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO secara resmi menyatakan bahwa wabah virus hanta yang sempat terjadi di kapal pesiar MV Hondius telah berakhir. Status ini dikeluarkan setelah sekitar tiga bulan upaya penanganan wabah tersebut dilakukan di sejumlah negara, termasuk Indonesia.

Dikutip dari BBC, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan, kontak terakhir dari orang yang terpapar virus hanta dari kapal pesiar MV Hondius telah selesai melewati masa karantina. Kasus tersebut pun dinyatakan negatif dan telah kembali ke rumahnya.

”Tidak ada kasus baru yang dilaporkan sejak tanggal 25 Mei. Oleh karena itu, WHO menganggap wabah hantavirus telah berakhir,” katanya melalui akun resmi Instagram @DrTedros yang diunggah pada 3 Juli 2026.

Setidaknya sebanyak 12 kasus telah terkonfirmasi virus hanta dan satu kasus probable yang dilaporkan dari wabah yang terjadi di kapal pesiar tersebut. Itu termasuk tiga kasus kematian yang terjadi selama perjalanan kapal berlayar ataupun setelah pasien turun dari kapal.

Perjalanan kapal pesiar MV Hondius awalnya direncanakan berlayar dari Argentina melintasi wilayah Samudra Atlantik Selatan. Perjalanan tersebut akan singgah di daratan Antartika, Kepulauan Falkland, dan Tanjung Verde.

Dalam laman The New York Times disebutkan, sejumlah penumpang yang naik ke kapal tersebut merupakan pengamat burung. Dilaporkan, dua kasus pertama merupakan bagian dari kelompok pengamat burung tersebut yang sebelumnya melakukan kunjungan ke lokasi yang ditemukan tikus pembawa virus hanta.

Kasus pertama merupakan warga negara Belanda berusia 69 tahun. Gejala muncul serupa dengan influenza pada 6 April setelah lima hari pelayaran dimulai. Pria tersebut kemudian meninggal di atas kapal pada 11 April.

Istrinya yang juga berusia 69 tahun, yang turut dalam pelayaran, mulai mengalami gejala setelah turun dari kapal bersama jenazah suaminya pada 24 April 2026 di Pulau Saint Helena di sebelah selatan Samudra Atlantik. Ia kemudian dilaporkan meninggal dunia pada 26 April 2026 saat dalam perjalanan pulang ke Belanda.

Dua hari setelah kematian dua kasus pertama tersebut, perempuan asal Jerman yang merupakan salah satu penumpang mengalami gejala seperti demam. Perempuan tersebut dilaporkan meninggal pada 2 Mei di atas kapal. Kasus ini merupakan kasus ketiga kematian akibat virus hanta di MV Hondius.

Tedros menyebutkan, lebih dari 650 orang tercatat sebagai kontak erat dari kasus virus hanta. Wabah ini diperkirakan bermula dari daratan, bukan berasal dari infeksi tikus di dalam kapal.

Petugas medis WHO, Diana Rojar Alveres di BBC, mengatakan, virus yang beredar pada penumpang di kapal MV Hondius merupakan virus hanta dengan strain Andes. Strain ini diketahui dapat menular antarmanusia melalui kontak erat.

”Virus Andes dan virus hanta lain masih menjadi risiko kesehatan masyarakat, terutama di kawasan Amerika Selatan dan sejumlah wilayah endemik lainnya. Kita tetap perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi risiko berikutnya,” ucapnya.

Virus hanta umumnya menyebar dari hewan pengerat seperti tikus. Penularan pada manusia dapat terjadi akibat menghirup udara yang terkontaminasi partikel virus dari urine, kotoran, ataupun air liur tikus.

Gejala dari penyakit ini meliputi, demam, kelelahan ekstrem, nyeri otot, sakit perut, muntah, diare, hingga sesak napas. Saat ini, belum ada pengobatan khusus ataupun vaksin yang secara khusus digunakan untuk menangani penularan virus hanta.

Kasus di Indonesia

Di Indonesia, virus Hanta pernah teridentifikasi. Kementerian Kesehatan melaporkan sepanjang 2024-2026 terdapat 256 kasus suspek dan 23 kasus virus hanta pada manusia. Namun, jenis penyakit virus hanta yang ditemukan di Indonesia berbeda dengan jenis yang ada di kapal MV Hondius ataupun virus yang ditemukan di Amerika.

Seluruh kasus di Indonesia merupakan penyakit hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS). Sementara itu, penyakit yang ditemukan di kapal MV Hondius merupakan penyakit hantavirus pulmonary syndrome atau hantavirus cardiopulmonary syndrome (HPS/HCPS). Untuk jenis virus yang ditemukan di Indonesia umumnya tidak menular dari manusia ke manusia.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin, dalam siaran pers yang terbit pada pertengahan Mei 2026, menyatakan, varian virus hanta yang beredar di Indonesia berasal dari varian Asia yang memiliki tingkat kematian 5-15 persen. Angka tersebut dinilai jauh lebih rendah dibandingkan dengan varian virus Andes yang beredar di Amerika Selatan, yang memiliki tingkat kematian 50-60 persen.

”Penularan hantavirus juga terjadi melalui tikus, bukan antarmanusia. Masyarakat jangan panik dan tetap menjaga kebersihan lingkungan, terutama untuk mencegah perkembangbiakan tikus di rumah, rumah makan, ataupun tempat kerja,” katanya.

Sumber: Kompas.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *