Jejak Guardiola Antar Swiss Tumbangkan Kanada

Murat Yakin mengenakan kaus bernuansa Pep Guardiola saat memimpin Swiss melawan Kanada di Stadion BC Place Vancouver, Kanada, Kamis (25/6/2026) dini hari WIB. Seperti kausnya, cara bermain Swiss mirip skema Guardiola. Swiss menang 2-1 dalam laga itu.

Kaus itu rilisan terbatas merek Puma bertajuk ”Decade”, yang sengaja dibuat untuk memperingati 10 tahun kiprah Guardiola sebagai manajer Manchester City. Kaus hitam itu terlihat mencolok dengan huruf P besar di dada kiri yang merujuk pada kata Pep.

Pilihan Murat mengenakan kaus Guardiola memang sepenuhnya disadari dan bukan kebetulan. Pada awal laga, ia mengenakan kaus dengan desain serupa, tetapi warna putih.

Beberapa saat kemudian, wasit keempat menghampiri dan meminta Murat mengganti kausnya. Bukannya memilih kaus lain, Murat hanya berganti mengenakan kaus sama, tetapi berwarna hitam.

”Itu karena tim Kanada juga mengenakan kaus putih. Bukannya saya ingin menciptakan keuntungan bagi tim Kanada, tetapi saya membawa banyak jenis kaus serupa,” kata Murat seusai laga.

Belakangan, ”kedekatan” Murat dengan Guardiola lebih dari sekadar kaus. Cara bermain Swiss di bawah asuhan Murat menyerupai City dilatih Guardiola.

Pernah dikenal dengan gaya bermain tiki-taka atau dominasi dalam penguasaan bola, Guardiola merevolusi taktiknya. City meninggalkan kebiasaan penguasaan bola dan beralih ke cara bermain yang lebih vertikal. Itulah yang terlihat dari cara Swiss mencetak dua gol kemenangan.

Skema itu memecah kebuntuan Swiss ketika babak kedua baru berjalan satu menit. Sepakan Ruben Vargas dari jarak dekat berbuah gol.

Umpan panjang yang diterima Johan Manzambi segera dikirimkan ke kotak penalti lawan. Pertahanan Kanada yang belum terbentuk sempurna menyebabkan Vargas berdiri tanpa pengawalan dan dengan mudah menceploskan bola.

Tidak perlu waktu lama, Swiss menggandakan keunggulan 10 menit kemudian. Setelah memberikan asis kepada Vargas, kali ini giliran Manzambi yang jadi eksekutor.

Gol bermula dari umpan panjang bek Swiss yang berhasil dijangkau Breel Embolo. Hanya dengan beberapa sentuhan, Embolo mengecoh bek Kanada sebelum mengoper kepada Manzambi yang berlari mencari ruang tembak.

”Membangun serangan dari belakang tidak ada gunanya. Selain itu, kami bisa memanfaatkan ruang di belakang pertahanan mereka dengan lebih baik,” kata kiper Swiss, Gregor Kobel, dikutip dari Blick.

Kanada membalas dengan gol Promise David pada menit ke-76. Namun, semuanya sudah terlambat bagi Kanada untuk berbuat banyak.

Meski terus menggempur pertahanan Swiss, Kanada kurang memiliki daya serang dan ketepatan untuk memberikan ancaman.

Tim arahan Pelatih Jesse Marsch itu terlalu mudah kehilangan bola dan kerap melepaskan tembakan lemah. Hingga laga usai, Kanada terpaksa harus mengakui kekalahan di kandang sendiri.

Akibat kekalahan ini, Kanada finis di peringkat kedua Grup B dengan koleksi empat poin. Adapun Swiss menjadi juara grup dengan tujuh poin. Seusai laga, kekecewaan menyelimuti Kanada yang berhasrat mengunci posisi juara Grup B.

Menjuarai Grup B sangat krusial bagi Kanada. Dengan begitu, mereka akan berkesempatan kembali memainkan pertandingan di Vancouver.

Bermain di kandang sendiri tentu memberikan suntikan semangat positif bagi para pemain Kanada dengan adanya suporter. Selain itu, para pemain juga diuntungkan dengan kemudahan menghadirkan teman dan keluarga di sela-sela waktu pertandingan.

Dengan hasil ini, Kanada tetap lolos ke 32 besar, tetapi akan menjalani laga di Los Angeles (LA), Amerika Serikat. Korea Selatan kemungkinan besar akan jadi lawan Kanada di fase gugur.

”Tentu saja kami ingin tetap berada di Vancouver. Tetapi, lihatlah, kami hanya membutuhkan sebanyak mungkin penggemar untuk ikut bepergian ke LA bersama kami dan mudah-mudahan membawa suasana yang sama untuk kami,” kata bek Kanada, Alistair Johnston.

Sementara untuk Swiss, menjadi juara grup memberi mereka waktu istirahat lebih lama sebelum pertandingan babak 32 besar yang akan berlangsung di Vancouver. Swiss kemungkinan besar akan menghadapi Aljazair, Iran, atau Mesir.

Qatar tersingkir

Pada laga Grup B lainnya, Qatar akhirnya tersingkir dari turnamen seusai kalah 1-3 dari Bosnia-Herzegovina. Gol kemenangan Bosnia dilesakkan Kerim Alajbegovic, Ermin Mahmic, dan gol bunuh diri Mahmud Abunada. Gol hiburan Qatar dicetak Hassan al-Haidos.

Qatar menempati posisi juru kunci grup setelah hanya meraih satu hasil imbang dan dua kali kalah. Pelatih Qatar Julen Lopetegui gagal membawa timnya meraih kemenangan perdana di Piala Dunia.

Pada edisi Piala Dunia sebelumnya, Qatar yang bertindak jadi tuan rumah juga gagal memetik kemenangan dalam fase penyisihan grup.

”Elemen kuncinya adalah gol pertama mereka yang luar biasa. Setelah itu, kami melakukan dua kesalahan dan mereka memanfaatkannya. Inilah sepak bola di level tinggi. Setelah itu, saya pikir kami melakukan banyak hal dengan baik, tetapi sepak bola tidak menjawab usaha kami hari ini,” kata Lopetegui.

Meski menang, Bosnia belum dipastikan lolos ke 32 besar karena hanya menempati peringkat ketiga grup. Satu-satunya harapan Bosnia adalah lolos melalui jalur delapan tim peringkat ketiga terbaik.

Dengan koleksi empat poin, harapan Bosnia lolos ke fase gugur Piala Dunia untuk pertama kali dalam sejarah cukup besar.

Sumber: Kompas.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *