Mantan Ketua Dewan Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed Alan Greenspan wafat pada usia 100 tahun. Ia dijuluki sebagai ”maestro” ekonomi berkat kepiawaiannya mengorkestrasi perekonomian AS selama hampir dua dekade.
Greenspan tutup usia pada Senin (22/6/2026). Ia genap berumur 100 tahun pada 6 Maret lalu. Penyuka musik jazz itu meninggal karena komplikasi penyakit parkinson.
”Dia akan dikenang karena kecerdasan dan kebaikannya. Menjadi pasangan hidupnya adalah kebahagiaan dalam hidup saya,” ujar istri Greenspan, Andrea Mitchell.
Greenspan lahir di New York, AS, pada 6 Maret 1926. Ia anak tunggal dari pasangan Rose dan Herbert Greenspan. Orangtuanya bercerai ketika ia masih kecil. Ia dibesarkan oleh ibu dan kakek-neneknya di sebuah apartemen kecil di kota kelahirannya.
Ia meraih gelar sarjana, magister, dan doktor di bidang ekonomi. Semuanya diperoleh dari Universitas New York. Sebelum menerima gelar doktornya, ia belajar ekonomi di Universitas Columbia pada awal 1950-an di bawah bimbingan Arthur Burns, yang kemudian menjadi Ketua The Fed pada 1970-an.
Organisasi nirlaba National Industrial Conference Board menjadi karier pertama Greenspan di dunia kerja pada 1948. Di sana ia menganalisis permintaan baja, aluminium, dan tembaga. Kemudian, pada 1954-1974 dan 1977-1987, ia menjabat Presiden Townsend-Greenspan & Co, sebuah perusahaan konsultan ekonomi di New York. Pada 1974-1977, ia dipercaya sebagai Ketua Dewan Penasihat Ekonomi Presiden AS Gerald Ford pada 1981-1983.
Kariernya berlanjut menjadi Ketua Komisi Nasional Reformasi Jaminan Sosial AS pada 1981-1983. Selain itu, ia menjabat anggota Dewan Penasihat Kebijakan Ekonomi Presiden AS Ronald Reagan dan menjadi konsultan untuk Kantor Anggaran Kongres.
Pada 1987, Reagan menunjuk Greenspan sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed). Ia memimpin lembaga itu selama lebih dari 18 tahun atau lima periode.
”Di bawah kepemimpinannya, The Fed mencapai era stabilitas harga yang berkelanjutan yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan membantu memperkuat kepercayaan publik terhadap lembaga tersebut,” tulis pernyataan The Fed, Senin.
Greenspan berperan penting dalam memfasilitasi ekspansi ekonomi AS lewat satu dekade pertumbuhan ekonomi tanpa henti dari Maret 1991 hingga Maret 2001. Keputusannya untuk membiarkan ekonomi berjalan, meskipun ada tekanan untuk menaikkan suku bunga terhadap ancaman inflasi, membantu mendorong kemakmuran AS selama bertahun-tahun. Hal ini membuat sejumlah kalangan menjulukinya ”maestro” ekonomi.
Ia punya pengamatan ekonomi yang jeli. Ia menilai, lonjakan produktivitas pada pertengahan 1990-an akan menjaga inflasi tetap terkendali. Analisisnya pada saat itu menjadi tolok ukur bagi para pengambil kebijakan.
Greenspan bahkan sering disebut sebagai orang kedua paling berpengaruh di negara itu setelah presiden. Hal ini karena kemampuan bank sentral untuk memengaruhi perekonomian melalui perubahan suku bunga jangka pendek.
Ia sering menyampaikan pandangannya lewat pidato bertele-tele. Para pakar menganalisis ucapannya tanpa henti. Ia pernah mengaku menghabiskan banyak waktu hanya untuk mengkhawatirkan kejelasan dari ucapannya.
”Apa yang telah saya pelajari di The Fed adalah bahasa baru yang disebut ’bahasa The Fed’. Kita belajar untuk bergumam dengan sangat tidak koheren. Jika saya tampak terlalu jelas bagi Anda, Anda pasti salah paham dengan apa yang saya katakan,” tuturnya.
Reputasi merosot
Greenspan berpegang teguh pada keyakinan bahwa pasar keuangan sebagian besar dapat mengatur dirinya sendiri. Ia dikenal sebagai tokoh yang sangat anti-inflasi, lebih fokus pada pengendalian harga daripada mendorong lapangan kerja penuh.
Akan tetapi, reputasinya mulai merosot setelah ia meninggalkan The Fed pada 2006. Kebijakan moneternya dituding memicu krisis keuangan AS dan global pada 2008. Upayanya mempertahankan suku bunga yang rendah memicu spekulasi besar-besaran di sektor properti.
Suku bunga rendah yang diorkestrasi Greenspan membantu meningkatkan harga perumahan menjadi gelembung yang berbahaya. Deregulasi keuangan yang didukungnya memungkinkan bank dan perusahaan keuangan lainnya untuk menumpuk risiko besar.
Greenspan kemudian mengakui dirinya terkejut karena salah dalam asumsinya. ”Kami yang selama ini mengutamakan kepentingan lembaga pemberi pinjaman untuk melindungi ekuitas pemegang saham, termasuk saya sendiri, terkejut dan tidak percaya,” katanya kepada Komite Pengawasan dan Reformasi Pemerintah DPR AS pada 2008.
Komisi Penyelidikan Krisis Keuangan AS ditugasi untuk menyelidiki kekacauan itu. Komisi menyimpulkan, kebijakan Greenspan turut berkontribusi terhadap krisis keuangan yang terjadi.
”Lebih dari 30 tahun deregulasi dan ketergantungan pada pengaturan diri oleh lembaga keuangan, yang didukung oleh mantan Ketua Federal Reserve Alan Greenspan dan lainnya, telah menghilangkan pengamanan utama yang dapat membantu menghindari bencana,” tulis pernyataan komisi tersebut.
Dalam bukunya, The Map and the Territory, yang dirilis pada 2013, Greenspan membela diri terhadap para kritikus yang menuduhnya bertanggung jawab atas krisis keuangan 2008. Ia berpendapat, prediksi ekonomi tradisional tidak mampu mengatasi pengambilan risiko irasional yang dapat memicu gelembung harga yang dahsyat.
Profesor ekonomi di Universitas Princeton, AS, Alan Blinder, mengatakan, Greenspan memiliki klaim yang sah untuk menjadi bankir sentral terhebat yang pernah ada. Namun, dengan krisis keuangan yang terjadi, Greenspan benar-benar gagal dalam hal kebijakan regulasi.
”Ketergantungannya yang berlebihan pada aspek pengaturan diri pasar tampak sangat naif, dan akhirnya berbalik menyerang dirinya dan semua orang,” ujarnya.
Sumber: Kompas.id

