Luis Diaz (29) menorehkan debut sempurna di Piala Dunia 2026. Satu gol dan satu asis lahir dari kakinya saat Kolombia menaklukkan Uzbekistan, 3-1. Di ujung laga, Diaz dinobatkan sebagai Pemain Terbaik.
Kemenangan tim sudah diraih. Trofi pemain terbaik, seperti yang didapat Harry Kane dan Michael Olise, sudah ditangan. Namun, ada hal lain yang dia cari seusai pertandingan.
Dia berlari ke pinggir lapang dan naik ke tribune penonton. Dipisahkan pagar, dia memeluk ayahnya, Luis Manuel ”Mane” Diaz. Pertemuan mereka itu seperti hendak mewujudkan mimpi lama yang telah lama dinanti.
”Banyak hal dari masa lalu yang datang menghampiri saya,” kata Díaz. ”Saya bekerja keras untuk ini. Saya berjuang untuk berada di sini saat ini.”
Perjuangan Diaz untuk sampai di putaran final Piala Dunia setidaknya dilakukan seusai kekecewaannya ketika Kolombia gagal ke Piala 2022. Setelah itu, kesedihannya berlipat ganda saat Mane diculik.
Luka
Pada akhir 2023, Mane dan istrinya, Cilenis Marulanda, ditangkap gerilyawan bersenjata di perbatasan Kolombia-Venezuela. Marulanda segera diselamatkan, tetapi Mane Díaz tidak.
Díaz, yang saat itu bermain untuk Liverpool, absen dalam dua pertandingan untuk pulang ke Barrancas dan memperjuangkan kebebasan ayahnya.
Sekembalinya ke klub, ia mencetak gol dan memperlihatkan kaus dalam bertuliskan ”Kebebasan untuk Papa” dalam bahasa Spanyol.
Gestur tersebut mendapat dukungan internasional dan meningkatkan tekanan pada Pemerintah Kolombia untuk bertindak. Mane dibebaskan setelah ditahan selama 12 hari, dan ayah serta anak itu berpelukan penuh emosi saat bertemu kembali, serupa ketika keduanya bertemu di akhir laga melawan Uzbekistan.
Momen ini seperti melengkapi eratnya kisah bapak anak itu di luar lapangan sebelum laga dimulai. Mane mengunggah video viral dirinya berdoa di atas jersei anaknya menjelang pertandingan Piala Dunia pertamanya.
”Saya pikir selalu ada sesuatu yang membuat kami tidak tenang,” kata Díaz. ”Saya pikir hari ini, saya berada dalam kondisi terbaik saya.”
Peran ayah
Mane adalah pendorong terbesar dalam karier sepak bola Diaz. Dalam 26 tahun terakhir, dia pelatih dan pakar sepak bola yang dihormati di Kolombia.
”Saya telah menjalankan akademi sepak bola di Barrancas selama 26 tahun, dan dari sanalah Luis berasal,” kata Mane.
Meski Luis menjadi yang terbaik di Barrancas, Mane mengatakan, pencari bakat dulu masih enggan datang ke sana. Oleh karena itu, Mane mengumpulkan uangnya untuk membawa Diaz pada level yang lebih tinggi.
Sebagai pelatih tim provinsi La Guajira, ia membawanya ke turnamen di ibu kota Kolombia, Bogota, di mana mereka finis di posisi kedua. Kemudian, ia membaca di situs web tim profesional Junior de Barranquilla tentang uji coba terbuka.
”Kami benar-benar harus pergi ke sana.” Kata Mane yang mengatakan, Luis pernah menderita kurang gizi sehingga membuat fisiknya dulu tidak berkembang ideal.
Setelah itu kisahnya mengalir. Luis diterima di Barranquilla FC lalu menjajal Atletico Junior di Kolombia, ditarik FC Porto, menggila di Liverpool, dan tengah menikmati masa emasnya di Bayern Munchen.
Mimpi setara
Meski menjadi pemain besar, Diaz tidak melupakan akarnya di Barrancas. Dedikasinya dibuktikan dengan mendirikan Fundación Luis Díaz pada 2019.
Yayasan ini membina ratusan anak-anak kurang mampu dari komunitas lokal dan suku asli Wayuu dengan menyediakan pendidikan dan lapangan berstandar FIFA. Kepada Gaffer, Diaz mengatakan, Yayasan ini juga menjadi sarana untuk memperkuat dukungan keluarga dan komunitas lokal dalam membantu mereka yang kurang beruntung.
Pengelola yayasan sekaligus sepupu Diaz, Josher Brito Díaz, mengatakan kini membina 150 anak dari enam kelompok usia. Tidak hanya bermain bola di lapangan berstandar FIFA, anak-anak tidak mampu juga mendapat akses bantuan pendidikan. Yayasan ini juga menjadi sarana untuk memperkuat dukungan keluarga dan komunitas lokal dalam membantu mereka yang kurang beruntung.
”Semua anak-anak kami belajar di sini tentang apa yang dapat mereka sumbangkan kepada masyarakat. Melalui sepak bola, kita dapat meningkatkan kehidupan masyarakat,” kata Josher.
Pada akhirnya, semua perjalanan Diaz hingga panggung Piala Dunia adalah tentang waktu, dedikasi, dan cinta. Untuk karier yang hebat, Anda tidak hanya membutuhkan bakat, tetapi juga keluarga yang kuat.
Sumber: Kompas.id

