Korban gempa di Mindanao, Filipina, terus bertambah. Hingga Selasa (9/6/2026), 37 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 200 orang luka. Jumlah korban dikhawatirkan terus meningkat di tengah evakuasi yang masih terus berlangsung.
Gempa bermagnitudo 7,8 mengguncang kawasan Filipina selatan, Senin (8/6/2026) pagi. Banyak bangunan runtuh dan rusak parah. Gempa juga memicu tsunami setinggi 1 meter di pantai terdekat.
Media Filipina, ABS-CBN, melaporkan, jumlah korban tewas akibat gempa dangkal tersebut telah meningkat menjadi 37 orang. ”Pihak berwenang mengatakan jumlah tersebut mungkin masih akan meningkat karena operasi pencarian dan penyelamatan terus berlanjut,” tulis laporan itu.
Guncangan gempa membuat warga panik. Apalagi, gempa terjadi pada hari pertama masuk sekolah di Mindanao. Para siswa berteriak histeris dalam pelukan guru mereka. Kegembiraan anak-anak pada hari pertama sekolah pun berubah menjadi trauma.
Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr telah menangguhkan aktivitas sekolah di seluruh Pulau Mindanao. Ia juga menyerukan kepada penduduk di daerah pesisir untuk segera mengungsi.
”Pindah ke tempat yang lebih tinggi sekarang. Jangan menunggu. Hidupmu lebih penting daripada apa pun yang tertinggal,” ujarnya.
General Santos menjadi wilayah paling parah terdampak. Kota yang terletak di Provinsi Cotabato Selatan ini berjarak sekitar 60 kilometer dari episentrum gempa. Tim penyelamat masih berupaya menemukan orang-orang yang mungkin terjebak di supermarket, gudang, sekolah, dan bangunan kecil lainnya yang runtuh atau rusak parah.
Bandara Internasional General Santos ditutup karena rusak terdampak gempa. Sedikitnya 17 penerbangan domestik di bandara itu dibatalkan. Setidaknya empat orang dilaporkan masih hilang di kota pelabuhan yang dihuni lebih dari 700.000 penduduk itu.
Sejumlah warga merasakan guncangan gempa yang sangat kuat. ”Truk pikap kami tiba-tiba tersentak dan saya pikir ban kami kempes. Guncangannya sangat kuat dan orang-orang bergegas keluar rumah dan ke jalan,” kata Rod Sosmena, Direktur Regional Kantor Pertahanan Sipil General Santos.
Pada Senin malam, tim penyelamat berjibaku mengevakuasi dua pekerja toko kelontong di General Santos yang terkubur di bawah reruntuhan bangunan. Belum diketahui apakah kondisi korban sudah meninggal atau masih hidup.
”Saya tidak ingin meninggalkan tempat ini sampai saya melihat jenazah saudara perempuan saya. Namun, saya berharap dengan sepenuh hati bahwa dia masih hidup,” ujar Morphy Angcad (35), saudara salah satu korban.
Banyaknya bangunan yang rusak juga memicu kekhawatiran jatuhnya lebih banyak korban. Sebab, bangunan rusak rentan ambruk, apalagi jika terjadi gempa susulan. Saat ini otoritas setempat masih mendata jumlah bangunan rusak yang terdampak gempa.
Direktur Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina Teresito Bacolcol memperingatkan warga untuk memastikan kondisi bangunan sebelum kembali ke rumah. ”Gempa besar ini merupakan yang terkuat yang melanda Filipina tahun ini,” katanya.
Gempa juga memicu tanah longsor di Glan, Provinsi Sarangani. Kepala Penanggulangan Bencana Provinsi Sarangani Rene Punzalan mengatakan, sedikitnya 14 orang tewas saat longsor mengubur rumah warga yang terletak di kaki gunung.
”Tanah longsor terjadi sesaat setelah gempa bumi. Begitu banyak nyawa yang hilang. Beberapa wilayah belum melaporkan kondisi terkini. Tantangan terbesar adalah komunikasi. Listrik padam, jadi sulit untuk mendapatkan informasi terbaru,” ujar Punzalan.
Langganan bencana
Selain di Filipina, gempa juga dirasakan di Sabah, Malaysia, dan Sulawesi Utara. Ombak 83 sentimeter terpantau di lepas pantai Sulawesi.
Sementara gelombang hingga setinggi 20 cm terdeteksi di pulau terpencil Chichijima di Jepang. Pusat Peringatan Tsunami Pasifik menyatakan ancaman tsunami sebagian besar telah berlalu sekitar lima jam setelah gempa.
Sebagai salah satu negara yang terletak di ”Cincin Api” Pasifik, Filipina sering dilanda gempa dan letusan gunung berapi. Jalur ini merupakan tempat lempeng-lempeng Bumi bertumbukan secara aktif.
Gempa hampir terjadi setiap hari di Filipina. Namun, tidak semua gempa dapat dirasakan oleh manusia. Faktor yang memengaruhinya beragam, seperti kekuatan atau magnitudo, kedalaman, dan jarak dari episentrum. Kondisi geologi lokal, seperti jenis tanah dan batuan, juga menentukan seberapa kuat getaran yang terasa.
Pada Oktober 2025, Mindanao Timur juga diguncang gempa bermagnitudo 7,4 dan 6,7 yang menewaskan sedikitnya delapan orang. Gempa ini hanya berjarak 11 hari dari gempa di Visayas yang menyebabkan lebih dari 70 korban jiwa.
Tak hanya gempa, Filipina juga diterjang sekitar 20 topan dan badai tropis setiap tahun. Hal ini menjadikan negara kepulauan tersebut sebagai salah satu negara yang paling rawan bencana di dunia.
Ironisnya, dana penanggulangan bencana jadi salah satu obyek korupsi. Sejumlah politisi dan pejabat Filipina kini sedang diperiksa karena korupsi dana banjir.
Gempa guncang Kuba
Gempa juga mengguncang Kuba, Senin. Belum ada laporan korban luka dan bangunan yang rusak akibat gempa bermagnitudo 6,1 itu. Namun, getaran gempa dirasakan warga di sejumlah lokasi, salah satunya di kota Pinar del Rio.
Flavia Pupo, manajer salah satu hotel di Pinar del Rio, mengatakan, bangunan hotel itu berguncang sehingga sempat menimbulkan ketakutan. ”Namun, semua orang di sini baik-baik saja. Orang-orang di jalan sedikit takut,” ujarnya.
Gempa bumi dirasakan hingga Florida, Amerika Serikat. Layanan Cuaca Nasional di Miami, AS, mengaku menerima beberapa laporan guncangan di bagian barat daya negara bagian tersebut. Media sosial dibanjiri unggahan orang-orang yang merasakan gempa tersebut.
Ahli geofisika dari Survei Geologi AS, William Barnhart, mengatakan, gempa yang berpusat di sekitar Teluk Meksiko itu sangat langka. ”Ini adalah salah satu dari hanya lima atau enam gempa dengan magnitudo 5 atau lebih besar yang kami ketahui di seluruh Teluk,” ucapnya.
Gempa tersebut tidak memicu tsunami. Menurut Barnhart, wilayah Kuba bagian barat mungkin dapat mengalami beberapa gempa susulan yang kuat. Namun, kemungkinan besar hal itu tidak dirasakan di Florida.
Sumber: Kompas.id

