Rupiah Melemah, Pelaku Usaha di Sulsel Keluhkan Harga Material Bangunan Melonjak

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menyentuh level Rp18.000 per dolar mulai memberikan tekanan serius terhadap sektor konstruksi dan properti di Sulawesi Selatan (Sulsel).

Pelaku usaha mengeluhkan lonjakan harga material bangunan yang berdampak langsung pada biaya pembangunan proyek.

Direktur Teknik PT Passokorang, Hamsijar Ilham, mengatakan pelemahan rupiah hampir dipastikan memengaruhi seluruh komponen biaya konstruksi, mulai dari material hingga upah tenaga kerja.

“Pasti memengaruhi. Semua biaya konstruksi dan sebagainya pasti terpengaruh. Pada dasarnya semua komponen terdampak, apalagi bahan-bahan yang masih bergantung pada impor,” kata Hamsijar, saat dihubungi Tribun-Timur.com, Jumat (5/6/2026).

Menurutnya, kenaikan harga tidak hanya terjadi pada aspal, tetapi juga material lain.


Seperti besi beton, besi profil, hingga semen yang masih memiliki komponen bahan baku impor.

Hamsijar mengungkapkan harga aspal saat ini telah mengalami kenaikan hingga lebih dari 50 persen.

Kondisi tersebut membuat pelaku usaha konstruksi semakin berhati-hati dalam mengikuti tender maupun menyusun penawaran proyek.

“Kita di dunia konstruksi serba salah. Proyek infrastruktur sudah berkurang, sementara kami juga khawatir menawar karena takut saat pekerjaan berjalan harga material kembali naik,” katanya.

Sebagai perusahaan penyedia jasa konstruksi di Sulsel, pihaknya berharap pemerintah dapat melakukan penyesuaian harga atau eskalasi kontrak untuk proyek yang sedang berjalan agar kontraktor tidak menanggung seluruh risiko kenaikan harga material.

“Kalau perlu dilakukan eskalasi untuk proyek-proyek yang sudah berjalan. Sementara proyek yang akan direncanakan harus menyesuaikan harga pasar dan memperhitungkan fluktuasi harga ke depan,” jelasnya.

Keluhan serupa juga disampaikan Direktur PT Jaya Amerta Megah Properti, Alfriedyus Pongbatu.

Menurutnya, sejumlah material bangunan telah mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

“Sebagian besar material sudah naik. Yang paling signifikan itu pipa, keramik, baja ringan, spandek, dan kanal C,” kata Alfriedyus, saat dihubungi Tribun-Timur.com, Jumat (5/6/2026).

Ia menjelaskan kenaikan paling tajam terjadi pada produk berbahan plastik, terutama pipa yang mencapai 50 persen.

Kenaikan itu terjadi akibat meningkatnya harga bahan baku biji plastik yang banyak dipengaruhi pasar global.

Alfriedyus menegaskan pengembang memilih mempertahankan kualitas bangunan meski harus mengorbankan keuntungan demi menjaga kepercayaan konsumen dan reputasi perusahaan dalam jangka panjang.

Ia pun berharap pemerintah mampu mengembalikan kepercayaan investor agar arus modal kembali masuk ke Indonesia dan memperkuat nilai tukar rupiah.

“Kalau investor kembali membeli rupiah, obligasi, dan saham, berarti kepercayaan terhadap ekonomi dan pemerintahan membaik. Itu bisa membantu memperkuat rupiah,” katanya.

Selain itu, ia juga mendorong pemerintah untuk meninjau kembali harga rumah subsidi yang menurutnya sudah lebih dari dua tahun tidak mengalami penyesuaian.

Sumber: Tribunnews.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *