Untuk menahan penyebaran cepat wabah ebola, Pemerintah Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo, melarang penyelenggaraan pemakaman dan pertemuan lebih dari 50 orang. Aturan sementara ini keluar setelah Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyatakan wabah ebola itu sekarang menimbulkan risiko ”sangat tinggi” bagi Kongo.
Status ini naik dari yang sebelumnya ”tinggi”. Namun, risiko penyebaran ebola secara global tetap rendah. Sampai saat ini tidak ada vaksin atau pengobatan yang disetujui untuk virus Bundibugyo, galur virus ebola yang diidentifikasi sebagai penyebab wabah saat ini.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, ada 82 kasus dan tujuh kasus kematian yang sudah dikonfirmasi di Kongo. Tercatat ada 177 kematian yang diduga karena ebola dan sekitar 750 kasus yang diduga ebola. ”Kami merevisi penilaian risiko kami menjadi sangat tinggi di tingkat nasional, tinggi di tingkat regional, dan rendah di tingkat global,” ujarnya, Jumat (22/5/2026).
Virus ini menyebar tanpa terdeteksi selama berminggu-minggu di Ituri, Republik Demokratik Kongo. Sebelum ini, hanya ada dua wabah dari galur Bundibugyo sebelumnya. Kejadian itu tercatat di Uganda pada 2007 dan Kongo pada 2012. Kini, di Bunia, hampir setiap jam para pembuat peti mati membuat peti mati baru.
Oleh karena itu, Kongo membuat sejumlah kebijakan untuk meredam penyebaran ebola. Namun, larangan untuk menyelenggarakan upacara pemakaman ditolak masyarakat.
Bahkan, Kamis lalu sempat ada pusat perawatan ebola di Rwampara yang dibakar massa. Mereka marah karena dihalangi mengambil jenazah yang mungkin meninggal karena ebola. Proses pemakaman kini ditangani pihak berwenang.
Kemarahan massa itu juga, menurut Presiden Solidaritas Perempuan untuk Perdamaian dan Pembangunan Inklusif Julienne Lusenge, karena informasi yang salah. Beberapa gereja memberi tahu jemaat mereka bahwa wabah itu palsu dan perawatan medis tidak diperlukan. Hal yang diperlukan hanya perlindungan ilahi. ”Kami telah hidup melalui tahun-tahun konflik dan kesulitan sehingga rumor menyebar dengan mudah,” ujarnya.
Fasilitas kesehatan minim
Di Bunia, pusat perawatan darurat kosong. Tenaga medis memakai masker medis yang sudah kedaluwarsa saat merawat pasien yang diduga terinfeksi ebola. ”Kami akan memenuhi kekurangan pengobatan. Ini perlombaan melawan waktu,” kata Menteri Luar Negeri Republik Demokratik Kongo Therese Kayikwamba Wagner.
Kongo kesulitan untuk melakukan pelacakan kontak. Sebab, sekitar 1 juta orang mengungsi akibat konflik bersenjata di daerah itu.
PBB mengeluarkan 60 juta dolar AS dari dana tanggap darurat pusat untuk mempercepat respons di Kongo dan sekitarnya.
Amerika Serikat menjanjikan pendanaan 23 juta dolar AS untuk memperkuat respons di Kongo dan Uganda. Selain itu, juga mendanai pendirian hingga 50 klinik pengobatan ebola di wilayah yang terkena dampak.
Direktur Operasi Kewaspadaan dan Respons Darurat Kesehatan WHO Abdirahman Mahamud menambahkan, potensi penyebaran virus ini sangat cepat dan itu mengubah seluruh dinamika. Ebola adalah penyakit virus mematikan yang menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh.
Penyakit ini dapat menyebabkan pendarahan hebat dan kegagalan organ. Direktur regional WHO untuk Afrika Mohamed Yakub Janabi mengatakan, ebola memiliki fase awal yang tenang. Gejalanya menyerupai malaria atau tifus yang berarti penularannya tidak dapat terdeteksi.
Selain di Republik Demokratik Kongo, ada dua kasus yang dikonfirmasi di Uganda dan itu datang dari orang yang baru kembali dari Kongo. Uganda segera melacak jejak kontaknya dan melarang pertemuan massal. Tedros menilai langkah itu efektif membendung penyebaran virus.
Ada juga laporan seorang misionaris dari AS dan bekerja di Kongo yang terinfeksi. Ia sedang dirawat di Jerman dan sudah diberi obat-obatan untuk mengurangi gejala penyakitnya.
Menurut pejabat di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), pengobatan itu tampaknya berhasil. Namun, CDC tidak bisa mengungkapkan pengobatan atau perawatan spesifik apa saja yang diberikan dengan alasan undang-undang privasi kesehatan.
Rwanda lebih ketat lagi. Dalam aturan barunya disebutkan, setiap warga negara asing yang melakukan perjalanan melalui Kongo akan ditolak masuk.
Warga Rwanda dan warga negara asing dengan izin tinggal Rwanda boleh masuk, tetapi harus mau dikarantina.
Rumah Sakit Universitas Radboud di Belanda mengaku menerima seorang pasien dengan ”kecurigaan rendah” terhadap ebola. Rumah sakit mengisolasi pasien itu sambil menunggu hasil tes diagnostik.
Untuk mengantisipasi ebola masuk AS, tim sepak bola untuk Piala Dunia dari Kongo harus diisolasi dulu selama 21 hari sebelum masuk ke AS. Saat ini, tim Kongo sedang berlatih di Belgia dan rencananya akan terbang ke Houston, AS, pada 11 Juni 2026.
Tim sepak bola Republik Demokratik Kongo dikecualikan dari larangan perjalanan yang untuk sementara melarang masuk ke AS bagi warga non-Amerika yang telah berada di Republik Demokratik Kongo, Uganda, atau Sudan Selatan dalam 21 hari sebelumnya. ”Kami sudah minta mereka isolasi dulu atau berisiko tidak bisa masuk ke AS,” kata Direktur Eksekutif Gugus Tugas Gedung Putih untuk Piala Dunia Andrew Giuliani kepada ESPN.
Pengobatan
Kepala ilmuwan WHO Sylvie Briand mengatakan, pengobatan antivirus yang disebut obeldesivir dapat digunakan di antara kontak ebola untuk mencegah mereka terkena ebola. Obeldesivir adalah obat antivirus Covid-19 oral eksperimental dari Gilead Sciences.
Untuk pengembangan vaksinnya kemungkinan akan butuh waktu 6-9 bulan. ”Ini obat yang menjanjikan, tetapi masih harus diimplementasikan di bawah protokol yang sangat ketat,” ujarnya.
Pakar ebola dari University of Texas Medical Branch di Galveston, Thomas Geisbert, yang membantu mengembangkan vaksin Ervebo Merck melawan spesies ebola Zaire, telah bekerja sama dengan Gilead dalam pengembangan obeldesivir.
Geisbert dan rekan-rekannya menguji pil Gilead tersebut terhadap ebola Zaire dan ebola Sudan—dua dari empat spesies ebola yang lebih umum menginfeksi manusia—serta virus yang terkait erat yang disebut Marburg pada monyet, tetapi tidak pada virus Bundibugyo.
Obat tersebut 100 persen efektif dalam mencegah ebola Sudan pada hewan dan 80-100 persen melindungi terhadap Marburg dan ebola Zaire. ”Tidak ada data tentang apakah obat tersebut akan efektif pada orang yang sudah memiliki gejala ebola. Obat itu juga belum diuji pada strain wabah saat ini,” kata Geisbert.
Meskipun demikian, obeldesivir telah diuji pada ratusan orang dengan Covid-19 dalam uji coba tahap akhir dan terbukti aman secara umum. Menurut Geisbert, perawatan semacam itu dapat digunakan sebagai jembatan untuk meredam wabah sampai vaksin dikembangkan.
Pilihan perawatan lain bisa berupa koktail antibodi eksperimental yang disebut MBP134, yang dikembangkan Geisbert bersama James Crowe dari Vanderbilt Vaccine Center dan dilisensikan kepada Mapp Biopharmaceutical di San Diego, AS
Mapp, yang mengembangkan pengobatan antibodi ZMAPP selama wabah ebola pada 2014-2016 di Afrika Barat, bekerja sama dengan Otoritas Penelitian dan Pengembangan Biomedis Tingkat Lanjut (BARDA) untuk memasok pengobatan tersebut untuk potensi penggunaan pada individu berisiko tinggi. Koktail yang terbuat dari dua antibodi yang diisolasi dari darah penyintas ebola dirancang untuk menargetkan beberapa spesies ebola, termasuk ebola Sudan, Zaire, dan Bundibugyo.
Geisbert dan rekan-rekannya menguji koktail itu pada monyet yang terinfeksi Bundibugyo dan menunggu tujuh hari hingga hewan-hewan tersebut menunjukkan gejala sebelum memberikan pengobatan antibodi kepada mereka. ”Ini meniru seseorang yang datang ke klinik. Kami mampu melindungi lima atau enam dari mereka dari penyakit mematikan, jadi itu cukup meyakinkan,” ujarnya.
Sumber: kompas.id

