Indikasi Kesalahan Prosedur Penanganan Virus Hanta Terjadi di Belanda dan Tahiti

Indikasi kesalahan prosedur dalam menangani virus hanta atau hantavirus terjadi di Belanda dan Tahiti. Hal ini semakin menyulitkan pencegahan penularan virus yang telah menyebar ke sejumlah negara tersebut.

Sebanyak 12 staf rumah sakit di Belanda dikarantina setelah terjadi kesalahan prosedur dalam penanganan pasien positif virus hanta. Sementara di Tahiti, Polinesia Perancis, seorang kasus kontak virus hanta melakukan perjalanan tanpa pemberitahuan kepada otoritas setempat.

”Kesalahan prosedur terjadi dalam pengambilan darah dan pembuangan urine pasien,” tulis pernyataan Rumah Sakit Universitas Radboud, Belanda, Senin (11/5/2026).

Kesalahan pertama terjadi ketika pengambilan darah dari pasien saat tiba di rumah sakit, Kamis (7/5/2026). Rumah sakit tersebut tidak menyebutkan detail kesalahan yang dilakukan. Namun, seharusnya hal itu dilakukan dengan prosedur lebih ketat.

Kesalahan kedua terjadi dalam proses pembuangan urine pasien, Sabtu (9/5/2026). Prosedur yang lebih ketat juga tidak diterapkan dalam proses ini.

”Karena keadaan ini, 12 karyawan menjalani karantina selama enam minggu sebagai tindakan pencegahan meskipun risiko infeksi rendah,” jelas pernyataan rumah sakit tersebut.

Pasien yang identitasnya dirahasiakan itu dievakuasi dari kapal pesiar MV Hondius, Kamis. Sejauh ini, tiga penumpang kapal dinyatakan tewas setelah ditemukannya virus hanta di kapal tersebut. Mereka adalah pasangan lansia asal Belanda dan seorang warga negara Jerman. Kapal pesiar itu berlayar dari Argentina pada Maret 2026 dan menuju Tanjung Verde yang terletak di pesisir barat Afrika.

Ketua Dewan Rumah Sakit Universitas Radboud Bertine Lahuis mengatakan, infeksi terhadap staf rumah sakit itu sebenarnya sangat kecil. Namun, langkah-langkah pencegahan tetap harus dilakukan untuk melindungi semua pihak yang terlibat dalam penanganan pasien.

”Kami menyesalkan kejadian ini di pusat medis universitas kami. Kami akan menyelidiki dengan teliti rangkaian peristiwa untuk belajar dari ini dan mencegahnya terjadi di masa mendatang,” ujarnya.

Perjalanan

Kesalahan prosedur penanganan kontak virus hanta juga terjadi di Tahiti. Seorang perempuan warga negara Amerika Serikat yang melakukan kontak terkait virus tersebut melakukan perjalanan melalui Tahiti dan Mangareva di Polinesia Perancis. Ia tidak melaporkan statusnya kepada otoritas setempat.

Polinesia Perancis terletak di Samudra Pasifik bagian selatan. Kepulauan ini mempunyai sejumlah destinasi wisata. Terdapat lebih dari 100 pulau di kepulauan tersebut. Tahiti merupakan pulau terbesar yang dihuni lebih dari 150.000 penduduk.

Kantor berita Polinesia Perancis, Tahiti Infos, melaporkan, warga negara AS itu saat ini sedang dikarantina di Pulau Pitcairn. Meskipun tanpa gejala, perkembangan kondisi kesehatan perempuan itu tetap dipantau dalam beberapa hari ke depan.

”Meskipun saat ini ia sepenuhnya tanpa gejala dan karenanya tidak menular, ia tidak akan meninggalkan Pulau Pitcairn untuk melakukan perjalanan melalui Polinesia Perancis selama ia menimbulkan risiko bagi orang lain,” tulis laporan tersebut.

Virus hanta merupakan virus yang dibawa oleh hewan pengerat seperti tikus. Manusia bisa terinfeksi melalui urine, kotoran, atau air liur hewan tersebut. Infeksi virus ini dapat menyebabkan penyakit parah pada manusia, bahkan hingga kematian.

Secara umum, virus hanta jarang menular antarmanusia. Namun, penularan dari manusia ke manusia pernah terjadi pada virus andes, varian virus hanta, yang ditemukan di Argentina dan Chile. Terpapar virus ini dapat menyebabkan penyakit pernapasan yang parah.

Tujuh kasus positif

Ratusan penumpang kapal MV Hondius telah dievakuasi ke sejumlah negara asal. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, di luar tiga kasus kematian, tujuh kasus telah dikonfirmasi positif virus hanta.

Kasus terkonfirmasi positif itu terdiri dari seorang dokter kapal asal Belanda, dua warga negara Inggris, dan seorang penumpang asal Swiss yang turun di Pulau Saint Helena. Selain itu, ada juga penumpang asal Perancis, AS, dan Spanyol.

Penumpang kapal MV Hondius yang tersisa telah dievakuasi ke 20 negara untuk menjalani karantina. Setelah kapal tiba di Kepulauan Canary, Spanyol, para penumpang kembali ke negaranya dengan menaiki pesawat militer dan pemerintah.

”Jika mereka tinggal lebih lama di kapal, situasinya bisa menjadi sulit,” ujar Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Ghebreyesus menambahkan, meski tetap harus menerapkan karantina, negara tempat para penumpang kembali tidak perlu takut dengan evakuasi tersebut karena risiko penularannya rendah. Ia mengatakan, virus hanta bukanlah Covid-19 yang risiko penularannya tinggi dan menjadi pandemi beberapa tahun lalu.

Seorang penumpang asal AS yang terkonfirmasi positif telah dibawa ke unit biocontainment kampus Omaha, Universitas Nebraska, AS. ”Penumpang tersebut dalam keadaan baik dan tidak menunjukkan gejala saat ini,” kata Angela Hewlett, direktur medis unit tersebut.

Di Spanyol, seorang pasien yang terkonfirmasi virus hanta ditempatkan di ruang isolasi di Rumah Sakit Militer Gomez Ulla, Madrid. Sementara belasan penumpang lainnya dinyatakan negatif, tetapi tetap masih menjalani karantina dalam beberapa hari.

Sumber: kompas.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *