Tiga orang dilaporkan meninggal dunia dan sedikitnya tiga lainnya jatuh sakit setelah diduga terjadi wabah hantavirus di atas kapal pesiar yang berlayar di Samudra Atlantik. Informasi ini disampaikan World Health Organization pada Ahad.
Ketiga korban meninggal merupakan penumpang kapal, menurut Oceanwide Expeditions, perusahaan operator kapal MV Hondius yang saat ini berlabuh di Praia, ibu kota Cape Verde. Dilansir dari CNN, Senin (4/5/2026), hingga Ahad pukul 23.00 waktu setempat, otoritas Cape Verde belum mengizinkan penumpang turun dari kapal untuk mendapatkan perawatan medis. Meski demikian, otoritas kesehatan setempat telah naik ke kapal dan mengevaluasi dua awak yang menunjukkan gejala dan membutuhkan penanganan medis segera.
Hantavirus dapat menyebabkan penyakit pernapasan serius yang sering kali berakibat fatal, yakni hantavirus pulmonary syndrome. Virus ini umumnya menular ke manusia melalui kontak dengan hewan pengerat seperti tikus, terutama melalui urine, kotoran, atau air liurnya, menurut Centers for Disease Control and Prevention.
Hanya satu jenis hantavirus, yaitu Andes virus, yang diketahui dapat menular antarmanusia, meskipun kasusnya sangat jarang. Virus ini terutama ditemukan di Chile dan Argentina, wilayah asal keberangkatan kapal tersebut.
Kapal MV Hondius berangkat dari Ushuaia, Argentina, sekitar tujuh pekan lalu. Kapal berbendera Belanda itu sempat singgah di Antarktika dan wilayah seberang laut Inggris Saint Helena sebelum akhirnya berlabuh di Praia.
Kapal tersebut mengangkut 170 penumpang dan 71 awak, termasuk satu dokter. Pihak operator menyatakan fokus utama saat ini adalah keselamatan dan kesehatan seluruh penumpang serta awak kapal.
Belum diketahui secara pasti bagaimana infeksi terjadi. Otoritas kesehatan di provinsi Tierra del Fuego, lokasi Ushuaia berada, menyatakan belum pernah ada laporan kasus hantavirus di wilayah tersebut.
Dari enam orang yang menunjukkan gejala, baru satu kasus yang dikonfirmasi melalui uji laboratorium sebagai hantavirus, sementara lima lainnya masih berstatus suspek, menurut WHO.
WHO menyatakan investigasi mendetail masih berlangsung, termasuk pengujian laboratorium lanjutan dan penyelidikan epidemiologi. Perawatan medis juga terus diberikan kepada penumpang dan awak kapal.
Korban pertama adalah pria berusia 70 tahun yang meninggal di atas kapal. Jenazahnya kemudian dibawa ke Saint Helena. Istrinya dilaporkan meninggal setelah pingsan di bandara di Afrika Selatan saat hendak pulang ke Belanda.
Dua dari korban meninggal diketahui merupakan warga negara Belanda. Sementara seorang warga Inggris yang jatuh sakit setelah kapal meninggalkan Saint Helena kini dirawat di Johannesburg, Afrika Selatan.
Pemerintah Belanda telah menyetujui pemulangan awak kapal yang menunjukkan gejala serta jenazah salah satu korban ke negaranya. WHO saat ini memfasilitasi koordinasi antarnegara untuk evakuasi medis dua penumpang yang bergejala serta melakukan penilaian risiko kesehatan masyarakat bagi penumpang lain di kapal.
Hantavirus pulmonary syndrome tergolong penyakit langka namun sangat mematikan. Gejala awal meliputi kelelahan, demam, nyeri otot, sakit kepala, pusing, hingga gangguan pencernaan. Pada tahap lanjut, pasien dapat mengalami batuk, sesak napas, dan rasa tertekan di dada.
Tidak ada obat khusus untuk infeksi hantavirus, selain perawatan untuk meredakan gejala. Dalam kasus berat, pasien mungkin memerlukan bantuan pernapasan intensif.
Menurut CDC, sekitar 38 persen pasien dengan gejala pernapasan akibat hantavirus dapat meninggal dunia. Risiko kematian dapat lebih tinggi pada lansia atau individu dengan sistem kekebalan tubuh lemah.
Seorang ahli menyebut kejadian wabah hantavirus di kapal pesiar yang tidak berlayar di wilayah endemik merupakan hal yang tidak biasa. Ia menduga sumber virus kemungkinan berada di dalam kapal.
“Semua indikasi mengarah bahwa sumber virus ada di kapal tersebut. Kapal itu akan diperiksa secara menyeluruh,” ujarnya.
Sumber: republika.co.id

