Minyak Goreng Jadi Solusi Darurat Energi Filipina

Negara-negara Asia terus memutar otak guna mengatasi krisis energi akibat perang Amerika Serikat-Israel terhadap Iran, termasuk dengan membeli minyak Rusia. Penghematan juga terjadi di Iran.

Minyak Rusia menjadi opsi alternatif bagi negara-negara pengimpor. Pembelian minyak dari negara tersebut meningkat setelah AS melonggarkan sanksi Rusia untuk sementara secara terbatas hingga 16 Mei 2026.

India meningkatkan pembelian minyak Rusia serta menghidupkan kembali pasokan alternatif dari Afrika, Iran, dan Venezuela. Menurut perusahaan intelijen perdagangan Kpler, kilang-kilang minyak India mengimpor rata-rata hampir 1,98 juta barel per hari (bpd) dari Rusia pada Maret 2026, melonjak tajam ketimbang angka dua bulan sebelumnya.

”Impor meningkat dari sekitar 1 juta bpd pada bulan Januari dan Februari. Peningkatan hampir dua kali lipat ini menunjukkan bahwa volume tambahan ini kemungkinan dikontrak setelah pengecualian sanksi,” ujar Nikhil Dubey, seorang analis di Kpler, kepada Agence France-Presse (AFP) edisi Minggu (26/4/2026).

Ketergantungan impor India sangat tinggi sebagai pembeli minyak terbesar ketiga di dunia. Biasanya, New Delhi mendapatkan setengah pasokan melalui Selat Hormuz. India tidak memiliki cadangan minyak sebesar China.

Menurut dua analis perdagangan, India kemungkinan membeli tambahan minyak Rusia sebesar 60 juta barel. Minyak-minyak tersebut akan dikirim selama April ini.

Minyak goreng

Di Filipina, pemerintah menegaskan pentingnya agar akses minyak Rusia tetap tersedia. Filipina menjadi negara pertama yang mengumumkan darurat krisis energi.

Pemerintah dan gereja telah mengimbau agar rakyat bekerja dari rumah, berhemat atas penggunaan energi. Ada juga imbauan serta mengumpulkan minyak goreng untuk bahan biodiesel, menurut Inquirer.net. Tak disebutkan, minyaknya bekas alias minyak jelantah atau minyak baru.

Pada 14 April 2026, Filipina menyatakan sedang meminta izin AS untuk membeli lebih banyak minyak mentah Rusia. CNA mencatat, Manila mengamankan hampir 2,5 juta barel minyak Rusia pada Maret 2026.

”Karena jika membeli minyak (Rusia) kami mungkin terkena sanksi, kami meminta izin dari Departemen Luar Negeri dan Departemen Keuangan AS untuk memberi pengecualian kepada Filipina. Dan hal itu telah disetujui,” ujar Menteri Luar Negeri Filipina Theresa P Lazaro saat berkunjung ke Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Malaysia, Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Myanmar juga sudah menunjukkan ketertarikan pada minyak dan gas Rusia. Pekan lalu, Jakarta mengumumkan kesepakatan impor 150 juta barel minyak Moskwa secara bertahap.

Risiko ketergantungan

Namun, ketergantungan berkelanjutan pada energi dari Rusia berisiko meningkatkan pengaruh Moskwa terhadap hubungan bilateral dengan negara-negara lain, khususnya Asia Tenggara. Ada pula potensi ketegangan dengan AS dan Eropa yang mendukung Ukraina.

”Seiring waktu, ketergantungan pada pemasok yang sensitif secara geopolitik seperti Rusia dapat menciptakan kerentanan dan gesekan. Selain itu, ketergantungan pada minyak Rusia meningkatkan risiko gangguan karena infrastruktur energi Rusia secara teratur mengalami kerusakan,” ujar Abdelaziz Albogdady, manajer riset pasar dan strategi di perusahaan jasa keuangan FXEM.

Rusia mendapat keuntungan akibat perang di Timur Tengah. Meski Moskwa dapat menjual minyak dengan harga lebih tinggi, banyak negara tetap bersedia membeli. Pelonggaran sanksi AS menuai penolakan dari Kyiv karena dinilai membantu pendanaan invasi Rusia.

Menurut Muyu Xu, analis minyak mentah senior di Kpler, negara-negara ASEAN sebenarnya saat ini tidak memiliki alternatif yang layak selain Rusia. Sulit bagi Asia Tenggara membeli minyak dari Afrika Barat, Amerika Latin, atau AS karena jarak yang sangat jauh dan volume yang kurang.

”Minyak Rusia lebih seperti solusi sementara untuk mengisi kesenjangan pasokan. Tidak ada negara yang siap untuk secara dramatis mengubah struktur energi mereka. Mereka membeli minyak Rusia hanya karena pengirimannya mudah, dekat, melimpah, dan murah. Setelah perang ini berakhir, keadaan mungkin akan kembali seperti semula,” kata Xu.

Di luar kekhawatiran geopolitik, pertanyaan lain yang timbul adalah apakah Rusia mampu memenuhi kebutuhan global. Rusia adalah produsen minyak terbesar ketiga dan pengekspor minyak mentah terbesar kedua di dunia.

Ukraina telah melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia di Laut Hitam dan Laut Baltik. Dampaknya, kemampuan ekspor energi Rusia sedikit terpengaruh. Utusan Khusus Presiden Rusia Vladimir Putin, Kirill Dmitriev, mengatakan, pelonggaran sanksi oleh AS membuat total volume minyak yang mendapat pengecualian mencapai 200 juta barel.

Wakil Presiden Asosiasi di The Asia Group Asrul Sani mengingatkan, negara-negara Asia Tenggara tetap tidak akan mudah memperoleh minyak Rusia. Akses minyak Rusia bergantung pada harga, ongkos pengiriman, dan asuransi. Ada juga persaingan dengan pembeli yang lebih besar, seperti China dan India.

Iran berhemat

Presiden Iran Masoud Pezeshkian berseru agar rakyat menghemat listrik, Sabtu (25/4/2026). Walau belum ada kekurangan, Teheran mewaspadai upaya AS dan Israel untuk memupuk rasa ”ketidakpuasan” di antara rakyat Iran, termasuk lewat ancaman serangan dan blokade.

”Kami telah meminta rakyat, yang sekarang bersiaga dan berada di lapangan, sebuah permintaan sederhana. Dan itu adalah untuk mengurangi konsumsi listrik dan energi mereka,” ujar Pezeshkian melalui televisi pemerintah.

Pezeshkian menjelaskan, rakyat Iran sebetulnya tidak perlu berkorban untuk saat ini dalam hal energi. Namun, konsumsi tetap perlu dikendalikan. ”Apa salahnya, daripada 10 lampu, dua lampu yang harus dinyalakan di rumah?” ucap Pezeshkian.

Menurut Badan Energi Internasional (IEA), Iran menghasilkan hampir empat perlima listrik dari pembakaran gas alam yang didukung oleh bahan bakar minyak berat berkualitas rendah (mazout). Terlepas dari itu, tidak ada laporan pemadaman listrik di Teheran selama beberapa hari terakhir.

Krisis energi di dunia terjadi setelah agresi militer AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Iran menutup Selat Hormuz, jalur perdagangan dari seperlima pasokan minyak global. Presiden AS Donald Trump sempat mengancam akan menghancurkan infrastruktur listrik jika Iran tak kunjung membuka selat itu.

AS-Iran akhirnya menyepakati gencatan senjata pada 8 April 2026. Selat kembali dibuka. Tak lama, Teheran kembali menutup selat itu gara-gara AS kemudian memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran.

Sebelum perang, Iran sering mengalami pemadaman listrik akibat permintaan tinggi di musim dingin dan musim panas. Teheran kesulitan memenuhi permintaan akibat infrastruktur yang menua, kurangnya investasi, dan dampak sanksi internasional yang keras sehingga memutus akses ke teknologi dan investasi. 

Sumber: kompas.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *