Warga sipil dan lembaga swasta jadi sasaran sensor ketat informasi terkait dampak pembalasan Iran. Larangan penyiaran lokasi terdampak pembalasan itu diikuti sanksi keras.
Kantor berita Reuters dan AFP pada Minggu (5/4/2026) melaporkan, Planet Labs mengumumkan embargo citra satelit di Timur Tengah. Embargo berlaku sampai batas waktu yang belum ditentukan itu atas permintaan Pemerintah Amerika Serikat.
Planet Labs, perusahaan di California, menyebut Pemerintah AS meminta seluruh perusahaan penyedia citra satelit untuk menerapkan embargo itu. Pengumuman itu meneruskan pernyataan sebelumnya.
Awalnya, selepas AS-Israel menyerang Iran, Planet Labs mengumumkan citra satelit untuk Timur Tengah diembargo sampai 48 jam sejak direkam. Lalu, embargo diperpanjang menjadi 14 hari.
Sekarang, menjadi tak terbatas. ”Ini adalah keadaan luar biasa dan kami melakukan semua yang kami bisa untuk menyeimbangkan kebutuhan semua pemangku kepentingan kami,” demikian pernyataan perusahaan.
Alasan embargo: mencegah Iran memanfaatkan citra satelit untuk membidik sasaran. Faktanya, selepas embargo, berbagai lokasi di Timur Tengah tetap jadi sasaran pembalasan Iran.
Penggunaan teknologi satelit untuk keperluan militer meliputi identifikasi target, panduan senjata, pelacakan rudal, dan komunikasi. Citra satelit juga membantu jurnalis dan akademisi yang mempelajari tempat-tempat yang sulit dijangkau.
Beberapa spesialis ruang angkasa mengatakan, Iran dapat mengakses citra komersial dari negara lain. Selain AS, lembaga penyedia citra satelit ada dari Eropa dan Asia.
Selain Planet Labs, layanan sejenis disediakan antara lain oleh Vantor/Maxar. Manajemen Vantor menyatakan, tak ada permintaan embargo dari Pemerintah AS. Di sisi lain, manajemen Vantor mengklaim sejak lama menerapkan pembatasan akses citra satelit atas wilayah konflik.
Penangkapan
Di Uni Emirat Arab (UEA), sejumlah orang ditangkap. Mereka dituding melanggar aturan soal informasi. Wujud pelanggarannya: merekam dan menyiarkan lokasi yang terdampak serangan Iran.
Warga Inggris yang menjadi awak maskapai FlyDubai salah satu yang ditangkap. Ia memotret Bandara Dubai lalu membagikan foto itu ke sejumlah rekannya.
Pria itu bukan satu-satunya warga Inggris yang ditangkap UEA karena tudingan serupa. Sebelumnya seorang pria berusia 60 tahun ditangkap karena merekam rudal Iran yang mengarah ke UEA.
Menurut BBC, pria itu sedang berlibur di UEA kala pembalasan Iran menyasar negara-negara Timur Tengah. Iran menegaskan, pembalasan itu karena negara-negara Timur Tengah jadi lokasi asal serangan AS ke Iran. Sejumlah media AS dan Eropa telah memverifikasi sebagian serangan AS dari negara-negara Timur Tengah.
Pimpinan LSM Detained in Dubai, Radha Stirling, mengatakan, sudah 21 orang ditahan di bawah undang-undang siber UEA terkait serangan balasan Iran sejak agresi AS-Israel berlangsung. Kejaksaan Agung UEA menegaskan, pihaknya menindak siapa pun yang mengunggah konten media sosial dalam situasi perang saat ini.
Adapun Forbes dalam laporan tanggal 12 Maret 2026 menyatakan, belasan orang ditangkap atas tuduhan pelanggaran UU Siber dan sensor perang di Kuwait, Qatar, dan Bahrain. Mereka yang ditangkap termasuk orang-orang yang mengkritisi pemerintah dalam menyikapi konflik yang terjadi.
Sensor ketat atas dampak pembalasan Iran telah berbulan-bulan diterapkan di Israel. Pewarta dari berbagai media massa secara terbuka menyatakan, foto atau video mereka bisa disiarkan setelah disensor militer Israel.
Kala AS-Israel menyerang Iran pada Juni 2025, Israel juga memberlakukan pembatasan informasi itu. Menteri Keamanan Israel Itamar Ben-Gvir memerintahkan polisi menangkap siapa pun yang mengedarkan rekaman dampak pembalasan Iran ke Israel. Pelaku dapat dipenjara hingga 5 tahun.
Larangan penyiaran terutama berlaku untuk fasilitas militer atau pendukungnya. Bandara Ben Gurion, sejumlah pangkalan udara Israel, sampai kantor Kementerian Pertahanan Israel di Tel Aviv terkena pembalasan Iran.
Namun, Israel melarang penyiaran foto dan video dari lokasi itu. Israel hanya mengizinkan penyiaran foto dan video dari lokasi sipil.
Hal itu antara lain dilakukan kala markas Unit 8200 dan Unit 9900 Israel jadi sasaran pembalasan Iran. Israel hanya mengizinkan penyiaran foto dan video kerusakan rumah sakit dan kedai di seberang kantor kedua unit intelijen militer itu.
Sumber: kompas.id

