Sekutu AS Ramai-ramai Tolak Permintaan Trump

Australia memastikan tak akan mengirim kapal perang untuk mengamankan Selat Hormuz. Sejumlah sekutu lain Amerika Serikat bersikap senada soal tuntutan Presiden AS Donald Trump itu.

Sikap Australia disampaikan Menteri Transportasi Australia Catherine King dalam wawancara dengan ABC, Senin (16/3/2026). ”Kami tidak akan mengirim kapal ke Selat Hormuz. Kami tahu betapa pentingnya hal itu, tetapi itu bukan sesuatu yang diminta dari kami atau yang kami bantu,” ujarnya.

King menanggapi tuntutan Presiden Trump yang disampaikan pada Sabtu dan Minggu. Ia meminta Australia, Jepang, China, Korea Selatan, Inggris, dan Perancis mengirimkan kapal perang untuk membuka blokade Selat Hormuz. ”Saya menuntut agar negara-negara ini datang dan melindungi wilayah mereka sendiri karena itu adalah wilayah mereka sendiri,” kata Trump.

Pada Sabtu, Trump menggunakan diksi ”meminta”. Pada Minggu, ia memakai kata ”menuntut” pada tujuh negara yang disebutnya lebih membutuhkan Selat Hormuz dibandingkan AS itu. ”Akan lebih baik jika negara lain ikut serta dalam penegakan hukum di sana bersama kita, dan kita akan membantu. Kita akan bekerja sama dengan mereka,” lanjutnya.

Trump-Starmer

Trump sudah bicara dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer tentang pentingnya membuka kembali Selat Hormuz. Starmer juga sudah berbicara dengan PM Kanada Mark Carney.

Menteri Energi Inggris Ed Millband kepada BBC News, Minggu, menjelaskan, Inggris sedang mempertimbangkan segala opsi, termasuk bekerja sama dengan AS dan sekutu lainnya.

Sepakat dengan AS, Inggris juga memandang pembukaan kembali selat itu prioritas dan ada banyak cara yang bisa Inggris bantu, termasuk dengan penggunaan pesawat nirawak pemburu ranjau. ”Mengakhiri konflik adalah cara terbaik dan paling pasti untuk membuka kembali selat tersebut,” ucap Millband.

Belum jelas siapa yang akan ikut bersama AS membuka Selat Hormuz, harian The Wall Street Journal, Minggu, menyebutkan, pemerintahan Trump akan segera mengumumkan siapa saja yang akan bergabung dalam ”koalisi” pengawal kapal-kapal melalui Selat Hormuz.

Menteri Energi Bayangan (Shadow Minister) Claire Coutinho menilai, Inggris harus mempertimbangkan untuk mengirim kapal atau pesawat nirawak ke Timur Tengah jika itu demi kepentingan nasional. Partai Konservatif akan mengizinkan AS untuk menggunakan pangkalan militer Inggris.

Sementara pemimpin Partai Liberal Demokrat, Sir Ed Davey, berpendapat bahwa Inggris tidak boleh mengirim kapal untuk membantu mengamankan Selat Hormuz dan sebaliknya fokus pada ”deeskalasi” perang. Ia menegaskan, seharusnya Inggris tidak berada di bawah perintah Presiden AS yang ”tampaknya tidak tahu apa yang dia lakukan”.

Inggris awalnya menolak mengizinkan AS menggunakan pangkalan Inggris untuk serangan ke Iran. Starmer memberikan izin untuk tindakan ”pertahanan” AS terhadap situs rudal Iran dari RAF Fairford di Gloucestershire dan Diego Garcia di Samudra Hindia.

Di sisi lain, ia menegaskan bahwa Inggris tidak percaya pada ”perubahan rezim dari langit”. Trump lalu mengatakan AS tidak butuh bantuan Inggris. Namun, sekarang berubah lagi.

Trump memperingatkan, Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) akan menghadapi masa depan yang sangat buruk jika tak membantu AS di Selat Hormuz. Namun, ia kemudian mengaku tak yakin juga NATO akan mau membantu.

Ketika ditanya bantuan apa yang dibutuhkan, Trump hanya bilang: apa pun yang diperlukan. Namun, ia berharap sekutu mengirimkan kapal penyapu ranjau, yang jumlahnya jauh lebih banyak dimiliki Eropa daripada AS.

Sementara Presiden Perancis Emmanuel Macron juga mengaku sudah menelepon Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Macron mendesak pemulihan kebebasan navigasi di Selat Hormuz dan penghentian segera serangan terhadap negara-negara di kawasan itu, baik secara langsung maupun melalui proksi di Lebanon dan Irak.

Ia mengingatkan Iran bahwa Perancis akan melindungi kepentingannya, mitra regionalnya, dan kebebasan navigasi serta tidak dapat menerima jika Perancis jadi sasaran serangan Iran.

Harian The Guardian menyebutkan, Perancis tidak akan mengirim kapal perang ke Selat Hormuz selama konflik masih berlanjut. Menteri Pertahanan Perancis Catherine Vautrin mengatakan, Perancis mempertahankan ”posisi yang murni defensif”. Untuk sekarang, tak ada rencana memindahkan kapal induk Charles de Gaulle keluar dari Mediterania timur.

Menurut harian Financial Times, para menteri luar negeri Uni Eropa sedang mempertimbangkan untuk memperluas cakupan misi Angkatan Laut Aspides UE, yang memberikan perlindungan pada kapal-kapal di Yaman dari serangan pemberontak Houthi, untuk diperluas ke Selat Hormuz. Saat ini, misi AL Aspides terdiri atas tiga kapal, dari Perancis, Italia, dan Yunani.

Asia hati-hati

Sementara itu, Asia lebih berhati-hati menyikapi tuntutan Trump itu. Mantan PM Jepang Shigeru Ishiba mengatakan, Jepang harus terlebih dahulu memastikan serangan AS ke Iran sah menurut hukum internasional. Setelah memastikan perkara legalitas, barulah Tokyo dapat mempertimbangkan terlibat dengan AS.

Wujud kerja sama Jepang, menurut politisi senior Partai Liberal Demokratik (LDP) Jepang itu, antara lain ikut menyapu ranjau. Tindakan tersebut dapat dipandang sebagai wujud pertahanan diri, bukan ofensif. Tokyo juga dapat, pada situasi yang amat jelas batasannya, terlibat pengisian bahan bakar dan perbekalan kapal perang.

Petinggi LDP lain, Takayuki Kobayashi, menyebut Tokyo tidak mengesampingan pengirim kapal. Akan tetapi, persyaratan keterlibatan Jepang akan sangat tinggi.

Konstitusi Jepang saat ini menegaskan, pasukan bela diri Jepang (JSDF) tak boleh terlibat segala bentuk operasi militer ofensif. JSDF bisa ikut operasi militer jika sasarannya dianggap membawa ancaman langsung bagi Jepang. ”Mengingat situasi saat ini di mana konflik ini masih berlangsung, saya percaya ini adalah sesuatu yang harus dipertimbangkan dengan sangat hati-hati,” kata Kobayashi, seperti dikutip Kyodonews.

Adapun PM Sanae Takaichi telah menyatakan belum ada keputusan apa pun soal pengiriman kapal mendekati Iran. Sejauh ini, fokus Jepang adalah evakuasi warga dari daerah konflik.

Takaichi dijadwalkan bertemu Trump di Washington DC pekan ini. Isi pertemuan diduga termasuk pembahasan keterlibatan Jepang.

Bagi Jepang, serangan AS-Israel ke Iran telah menimbulkan banyak masalah. Selain gangguan pasokan energi, serangan itu membuat AS menarik pasukan dan persenjataan dari Jepang dan Korea Selatan. Pemindahan terbaru adalah 2.500 marinir AS diperintahkan bergeser dari Jepang mendekati Iran.

Sementara dilaporkan Korea Joongang dan Yonhap, Korea Selatan masih mempertimbangkan permintaan Trump itu. ”Pemerintah sedang mempertimbangkan berbagai langkah untuk melindungi warga Korea dan memastikan keamanan jalur pasokan energi sambil memantau situasi di Timur Tengah,” demikian pernyataan salah satu pejabat Kantor Kepresidenan Korsel yang menolak identitasnya diungkap.

Seoul meninjau berbagai skenario secara internal. Trump secara khusus menyebut China, Jepang, dan Korsel sebagai negara yang bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah. Dengan demikian, tiga negara itu harus memenuhi tuntutan Trump soal Selat Hormuz.

Pejabat Korsel menyebutkan, Seoul dapat saja memperluas jangkauan operasi Unit Cheonghae. Seoul juga dapat mengirim kapal AL ke wilayah yang membutuhkan.

November lalu, Majelis Nasional Korsel menyetujui perpanjangan penempatan Unit Cheonghae. Unit itu kini mengoperasikan kapal perusak Dae Jo-yeong (DDH-977) di Oman.

Jangan ikut

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengingatkan agar negara-negara lain tidak ikut-ikutan berperang dengan Iran. Sebab, konsekuensinya akan jauh lebih parah.

Ia juga menyatakan, Selat Hormuz terbuka bagi kapal negara yang tidak memusuhi atau ikut memusuhi Iran. Teheran juga terbuka kepada siapa saja yang mau membahas Selat Hormuz.

Sejauh ini, Menlu India Subrahmanyam Jaishankar mengaku pembicaraan dengan Iran membawa hasil positif. ”Dari perspektif India, lebih baik kita berdiskusi dan berkoordinasi lalu dapat solusi daripada tidak,” kata Jaishankar ketika diwawancara harian Financial Times, Minggu.

Dua kapal pengangkut gas minyak cair berbendera India, Shivalik dan Nanda Devi, telah melintasi Selat Hormuz dan sedang menuju India. Kapal itu memuat total 92.712 metrik ton LPG.

Menurut Jaishankar, tidak ada ”kesepakatan umum” untuk kapal berbendera India. Iran juga tidak menerima imbalan apa pun.

Ia juga mengatakan, banyak negara sudah bicara dengan Iran. ”Setiap negara punya cara masing-masing dan tidak bisa sama pendekatannya. Tetapi, yang jelas, upaya diplomasi harus terus dilakukan,” ujarnya.

China sedang berunding juga dengan Iran, tetapi belum ada kesepakatan. China akan memperkuat komunikasi dengan pihak-pihak terkait di Timur Tengah dan membantu menurunkan tensi konflik sekaligus mengupayakan perdamaian.

Iran mengadopsi serangan terhadap target energi sebagai elemen kunci melawan serangan AS-Israel. Mereka sudah memperingatkan, setiap kapal tanker yang menuju salah satu negara tersebut atau mitranya adalah target yang sah. Setidaknya 16 kapal, termasuk sejumlah kapal tanker, dilaporkan telah diserang di dekat selat itu.

Harga minyak telah melonjak sejak perang dimulai pada 28 Februari, naik dari sekitar 71 dolar AS per barel sebelum konflik menjadi hampir 120 dolar AS pada hari Senin. Harga sejak itu turun kembali walau tetap tinggi.

”Konflik ini pasti akan berakhir dalam beberapa minggu ke depan. Mungkin bisa jadi lebih cepat dari itu. Kita akan melihat peningkatan pasokan dan penurunan harga setelah itu,” tutur Menteri Energi AS Chris Wright.

AS, terutama Trump, juga seyakin itu. Bahkan, Trump mengatakan, Iran sudah mau berunding dengan AS.

Namun, itu dibantah Araghchi. Ia menegaskan, ini bukan perang untuk bertahan hidup karena Iran dalam posisi stabil dan kuat. ”Kami tidak melihat alasan mengapa kami harus berbicara dengan Amerika. Dulu kami sedang berbicara dengan mereka ketika mereka memutuskan untuk menyerang kami, dan itu untuk kedua kalinya,” ujarnya.

Iran, bukan AS, memegang kunci untuk membuka kembali pasar energi global. Iran juga yang akan menentukan kapan perang ini akan berakhir. Ini terbukti dari surat perusahaan minyak Arab Saudi, Aramco, kepada konsumennya.

Aramco menyatakan tak tahu akan memakai pelabuhan mana untuk ekspor pada April. Ada kemungkinan dikirim dari Laut Merah atau Teluk.

Para eksekutif di perusahan di Barat dan Timur Tengah memperingatkan, kalau perang tak segera berhenti, butuh lebih dari sekadar jaminan keamanan AS untuk memulai lagi produksi dan pengiriman komoditas.

Di sisi lain, kapasitas Iran memproduksi dan mengerahkan pesawat nirawak membuat Teheran bisa lama mengendalikan lalu lintas Selat Hormuz. Bahkan, blokade bisa jadi lebih lama dari perkiraan Trump dan para pejabat AS.

Peneliti Chatham House, Neil Quilliam, menyebut bahwa Iran akan terus menunjukkan belum kalah dari AS-Israel. Caranya bisa jadi menerbangkan lebih banyak pesawat nirawak dan menebar ranjau laut.

Mantan analis CIA yang kini bekerja di RBC Capital, Helima Croft, menyebut, Iran mengirimkan pesan bahwa tak ada tempat aman dari serangan Teheran. Iran juga hendak menyatakan bahwa AS tak menentukan arah perang.

Kondisi akan semakin rumit kalau kelompok sokongan Iran di Timur Tengah ikut beraksi. Jika Houthi di Yaman menyerang pelabuhan pengiriman minyak di Timur Tengah, ekonomi global semakin sulit.

Minyak dari Timur Tengah hanya bisa keluar lewat Selat Hormuz atau Selat Bab-al-Mandab. Kalau keduanya ditutup Iran dan sekutunya, tak ada pasokan.

Sumber: kompas.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *