Indonesia menempati peringkat kedua di dunia dalam jumlah kasus campak. Menurut data yang dirilis Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Indonesia terdapat 10.744 kasus campak, berada di bawah Yaman yang menempati posisi pertama dengan 11.288 kasus.
Ketua IDAl, dr Piprim Basarah Yanuarso, mengatakan meningkatnya kasus campak ini berkaitan erat dengan menurunnya cakupan imunisasi campak di masyarakat. Menurutnya, sebagian orang tua saat ini mash merasa ragu atau takut untuk memberikan vaksin kepada ananya.
“Saya ingat di tahun 2012, saya sering sekali debat dengan kelompok orang tua yang menolak vaksinasi. Ternyata sekarang 2026, itu ternyata mash ada yang takut memberikan vaksin ke anaknya. Tentu saja ini satu kemunduran, karena Indonesia kini jadi juara kedua kasus campak di dunia,” kata dr Piprim saat diwawancara di Rumah Vaksin, Jakarta Timur, Kamis (12/3/2026).
Piprim mengatakan vaksin campak sangat penting karena penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi serius terutama pada anak dengan gizi kurang atau imun lemah. Komplikasi umum meliputi radang paru, diare berat yang memicu dehidrasi, infeksi telinga yang berisiko gangguan pendengaran, hingga radang otak.
“Campak ini vaksinnya sangat penting, karena campak bisa mengalami komplikasi yang serius. Campak berat bisa menyebabkan radang paru atau pneumonia, kemudian radang otak atau ensefalitis, serta diare yang terus-menerus,” kata dia.
Dia menjelaskan penyakit campak sangat mudah menular. Angka reproduksi dasar (RO) campak diperkirakan berada pada kisaran 12 hingga 18, yang berarti satu orang dapat menularkan virus kepada belasan orang lainnya. Tingkat penularan ini bahkan lebih tinggi dibandingkan Covid-19.
Karena sifat penularannya yang sangat cepat, cakupan imunisasi campak harus berada pada level sangat tinggi yaitu di atas 95 persen, agar kekebalan kelompok atau herd immunity dapat terbentuk. Menurut dr Piprim Indonesia sebenarnya pernah mencapai angka tersebut, namun saat ini cakupan imunisasi mulai menurun.
“Dulu kita pernah mencapai cakupan lebih dari 90 persen. Tapi sekarang karena sebagian masyarakat mash ragu, cakupan itu menurun. Misanya dari sekitar 95 persen turun menjadi 80 persen saja, itu sudah cukup memic terjadinya kejadian luar biasa campak,” kata dr Piprim.
la pun menekankan pentingnya vaksinasi campak pada anak, terutama menjelang libur Lebaran 2026 ketika mobilitas masyarakat meningkat. Karena itu, ia mengajak orang tua dan semua pihak terkait untuk bersama-sama meningkatkna kembali cakupan imuniasi campak.
“Ini sudah menjadi masalah serius di negeri kita. Kita harus bahu-membahu meningkatkan imunisasi agar anak-anak Indonesia terlindungi dari penyakit yang sebenarnya bisa dicegah,” kata dia.
Bisa menulari belasan orang
Direktur Rumah Vaksinasi Pusat, dokter Elsa Hufaidah, mengatakan campak merupakan penyakit yang sangat mudah menular. Dalam satu kasus, seorang pasien campak dapat menularkan penyakit tersebut kepada sekitar sebelas orang lainnya. Karenanya, penting bagi anak untuk melengkapi vaksin campak sebagai upaya perlindungan.
“Orang tua harus memastikan anak-anak mereka terutama yang balita untuk mendapatkan vaksin campak secara lengkap sebelum melakukan perjalanan mudik. Karena mobilitas masyarakat yang tinggi saat Lebaran, potensi penularan pun semakin besar,” kata dr Elsa.
Menurut dr Elsa, masih banyak orang tua yang menganggap vaksin campak tidak terlalu penting. Padahal vaksin ini sangat krusial untuk melindungi anak dari komplikasi serius seperti radang paru, diare berat yang memicu dehidrasi, infeksi telinga yang berisiko gangguan pendengaran, hingga radang otak.
“Campak ini vaksinnya sangat penting, karena campak bisa mengalami komplikasi yang serius. Campak berat bisa menyebabkan radang paru atau pneumonia, kemudian radang otak atau ensefalitis, serta diare yang terus-menerus,” kata dia.
la mengatakan vaksinasi campak juga penting untuk menciptakan kekebalan komunitas (herd immunity). Seperti diketahui, tingkat cakupan vaksinasi di suatu daerah memengaruhi risiko penularan. Jika cakupan vaksinasi tinggi, anak yang memiliki kondisi khusus dan tidak bisa divaksin, masih bisa terlindungi oleh kekebalan kelompok. Namun jika cakupan vaksinasi menurun, risiko penularan akan meningkat.
Dokter Elsa menjelaskan mengapa imunisasi lebih dianjurkan dibandingkan penularan alami. Menurutnya, jika seseorang terinfeksi secara alami, tidak ada yang dapat memastikan apakah penyakit yang dialami akan ringan atau justru berat.
“Kalau menunggu penularan alami, kita harus menunggu anak sakit dulu. Kita tidak tahu apakah gejalanya ringan atau berat,” kata dr Elsa.
la mengakui vaksin juga dapat menimbulkan kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI), namun umumnya bersifat ringan. Salah satu yang paling sering terjadi adalah demam yang biasanya muncul pada hari kelima hingga keenam setelah vaksinasi.
“Demam itu juga jarang terjadi dan bisa diantisipasi. Jika suhu tubuh tinggi, bisa diberikan obat penurun panas,” ujarnya.
Vaksin campak wajib diberikan sebanyak tiga kali kepada anak untuk perlindungan optimal, sesuai rekomendasi IDAI. Jadwalnya adalah usia 9 bulan, 18 bulan, dan 5 hingga 7 tahun.
Sementara itu, untuk mencegah potensi KLB campak, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bersama Rumah Vaskinasi Pusat menyelenggarakan vaksinasi massal gratis pada Kamis (12/3/2026). Kegiatan ini dikuti oleh sekitar 30 anak usia 9 hingga 15 tahun.
“Hari ini kami Rumah Vaksinasi mengadakan imunisasi campak karena memang kejadian campak meningkat kembali. Maka kami berinisiatif mengadakan vaksinasi campak untuk anak-anak, terutama balita yang belum vaksinasi campak atau terlambat sehingga bisa mengejar kembali vaksinasi,” kata dr Elsa.
Sumber: republika.co.id

