Banjir yang berulang di wilayah rawan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, memaksa 1.157 jiwa warga mengungsi. Para warga bertahan di masjid atau sekolah yang dijadikan sebagai lokasi pengungsian. Selain tindakan jangka pendek, solusi jangka panjang dibutuhkan.
Hingga Jumat (27/2/2026), ribuan warga Makassar terdampak banjir yang telah berlangsung lebih dari tiga hari. Banjir terjadi di lokasi yang rendah dan menjadi langganan saat musim hujan tiba.
Di RW 008 Kecamatan Manggala, misalnya, ratusan warga terdampak banjir dan harus mengungsi. Mereka bertahan di pengungsian karena ketinggian air masih mencapai 1 meter dan merendam permukiman.
”Seperti banjir sebelumnya, kami terpaksa mengungsi ke Masjid Al Muttaqin. Belum bisa pulang karena air masih masuk dalam rumah,” kata Mira (53), warga RT 004 RW 008.
Bersama dua anaknya, ia tidur dan beristirahat di pengungsian. Banjir yang terjadi di bulan Ramadhan membuat mereka berpuasa, sahur, dan berbuka di dalam masjid. Mereka sesekali kembali ke rumah untuk memastikan barang aman dan terjaga.
Tasrifuddin, Ketua RT 004 RW 008, menuturkan, di wilayahnya ada 86 orang yang mengungsi. Mereka terdiri dari orang dewasa, warga lanjut usia, anak-anak, dan anak balita. Para pengungsi ini bertahan seiring banjir yang masih merendam rumah mereka.
Ketinggian air, kata Tasrifuddin, mulai surut dibandingkan pada hari sebelumnya. Banjir sempat mencapai ketinggian sekitar 2 meter sebelum perlahan turun. Alhasil, warga tidak bisa bertahan di dalam rumah seiring air yang terus menggenangi pemukiman.
”Di pengungsian, sejauh ini logistik aman. Ada bantuan makanan, obat-obatan dari pemerintah. Meski puasa, semua (keperluan) terpenuhi,” katanya.
Kejadian banjir seperti ini, tambah Tasrifuddin, merupakan peristiwa yang berulang setiap tahun. Warga telah tahu apa yang harus dilakukan dan persiapan menghadapi banjir. Sejak air mulai naik, pakaian telah dikemas, dan barang-barang penting disimpan baik-baik.
Peralatan elektronik dan perabotan telah disimpan ke tempat yang lebih tinggi. Mereka bahkan telah berulang kali menghadapi banjir yang jauh lebih besar dengan intensitas air yang lebih tinggi.
Oleh karena itu, selain bantuan di pengungsian, warga berharap agar ada solusi menyeluruh terhadap persoalan yang dihadapi. ”Kami hadapi banjir setiap tahun, sudah belasan, bahkan puluhan tahun, tetapi sampai sekarang belum ada solusi nyata dari pemerintah,” ujarnya.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Makassar, jumlah pengungsi banjir mencapai 1.157 jiwa. Pengungsi terbanyak berada di Kecamatan Manggala, yakni 621 jiwa, disusul Kecamatan Biringkanaya 371 jiwa dan Kecamatan Paccerakkang sebanyak 167 jiwa.
Jumlah korban banjir ini terus bertambah selama tiga hari terakhir. Dari 545 jiwa, meningkat menjadi 878 jiwa, kemudian 1.157 jiwa.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin dalam kunjungannya ke lokasi titik banjir di Kecamatan Paccerakkang, Kamis (26/2/2026) malam, menginstruksikan kepada seluruh jajaran untuk membantu kebutuhan pengungsi. Kebutuhan itu mulai dari layanan pengobatan, air bersih, logistik, hingga tempat tinggal.
”Bapak dan ibu, serta anak-anak, jika ada keperluan, aspirasi mohon disampaikan kepada saya, kepada kami semua yang hadir. Agar bisa kami penuhi selagi itu bisa kami bantu dan kami kerjakan, baik makanan, obat-obatan maupun bantuan lainya,” kata Munafri saat berdialog dengan warga di lokasi titik pengungsian.
Dia mengingatkan seluruh jajaran pemerintah, relawan, hingga ketua RT/RW agar benar-benar memperhatikan kebutuhan dasar para pengungsi. Utamanya, para kelompok rentan, mulai dari ibu hamil, anak-anak, hingga warga lanjut usia.
Sumber; kompas.id
