Perairan Sulsel ”Berkecamuk”, Satu Nelayan Tewas dan Dua Hilang

Hujan deras, angin kencang, dan gelombang tinggi yang melanda sejumlah perairan Sulawesi Selatan berujung fatal. Satu nelayan tewas tenggelam di Makassar, sementara di kabupaten lain dua orang nelayan masih hilang. Cuaca buruk diprediksi terus terjadi hingga beberapa hari ke depan.

Hingga Senin (2/2/2026), angin kencang dan hujan deras terjadi di wilayah Makassar dan sekitarnya. Ombak tinggi pun terjadi di perairan utamanya di bagian barat dan selatan Sulawesi. Hal itu berimbas pada nelayan kecil yang mencari ikan di pesisir.

Di Makassar, seorang nelayan tewas tenggelam saat memasang jaring. ”Korban bernama Yanto (35), tenggelam saat memasang jaring untuk menangkap ikan. Korban dilaporkan hilang oleh rekannya,” kata Kepala BPBD Makassar Fadli Tahar, Senin siang.

Setelah beberapa waktu mencari, korban ditemukan dalam kondisi meninggal. Tim SAR gabungan yang melakukan operasi pencarian sempat terkendala cuaca buruk. Mereka dihadang ombak besar dan hujan deras. Cuaca buruk juga terjadi sehari sebelumnya yang membuat sejumlah pohon tumbang dan menimpa rumah warga.

Selama beberapa hari ini, ia mengatakan, cuaca buruk terjadi di wilayah Makassar, baik di daratan maupun perairan. Pihaknya terus mengimbau warga agar tetap waspada dengan situasi yang terjadi. Selain itu, petugas dan alat keselamatan telah disiagakan untuk segera bertindak jika dampak cuaca membahayakan warga. ”Pak Wali Kota juga telah mengeluarkan siaga bencana untuk mengantisipasi potensi bencana di wilayah Makassar. Tim telah kami siagakan 24 jam,” ujarnya.

Tidak hanya di Makassar, di Kabupaten Jeneponto, seorang nelayan hilang saat melaut. Heril (25) tidak kembali setelah melaut sejak Minggu (1/1/2026). Ia mencari ikan di sekitar perairan Pao, Jeneponto.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (KKP) Makassar Arif Anwar menuturkan, pihaknya telah menurunkan tim untuk mencari korban hilang tersebut. Penyisiran dilakukan di sekitar lokasi kejadian dengan mempertimbangkan kondisi cuaca.

”Meskipun kondisi cuaca terpantau berawan dan cenderung hujan, kami berharap korban bisa segera ditemukan. Seluruh kegiatan juga tetap mengutamakan keselamatan dari tim SAR gabungan yang berada di lapangan,” tuturnya.

Sementara itu, di Kabupaten Sinjai, seorang awak kapal juga hilang sejak Sabtu (31/1/2026). Upaya pencarian selama beberapa hari terakhir belum menunjukkan hasil.

Dihubungi terpisah, prakirawan Stasiun Meteorologi Maritim (BMKG) Paotere Makassar, Fachruddin Lubis, mengatakan, cuaca buruk sedang melanda wilayah daratan dan perairan di Sulsel, khususnya di wilayah barat dan selatan. Hujan lebat dan angin kencang dengan kecepatan hingga 30 knot terjadi.

”Situasi tersebut mengakibatkan kondisi gelombang yang mengalami perubahan signifikan. Di beberapa tempat bisa mencapai tiga meter,” ucapnya.

Kondisi ini diprediksi akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan. Situasi cuaca buruk yang terjadi beberapa waktu terakhir utamanya disebabkan adanya bibit siklon tropis di wilayah perairan selatan dekat Australia.

Bibit sikon tersebut membuat penumpukan massa air yang mengakibatkan curah hujan tinggi. Situasi ini telah disebarkan melalui peringatan dini ke semua unsur terkait agar bisa mengambil langkah dini. Hal itu agar ada kesiapsiagaan dan kepaswapadaan terkait cuaca yang terjadi.

Sumber: kompas.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *