Kontraktor Derek Maut Thailand Terlibat Sejumlah Kecelakaan Konstruksi

Thailand dikejutkan dengan derek ambruk di lokasi konstruksi dua hari berturut-turut. Kontraktor proyek itu terlacak terlibat dalam sejumlah kecelakaan konstruksi, termasuk gedung yang ambruk pada Maret 2025.

Media Thailand, Khaosod, pada Jumat (16/1/2026) melaporkan bahwa Italian-Thai Development (ITD) merupakan kontraktor dua kecelakaan pada Rabu dan Kamis. Kecelakaan Rabu menewaskan 32 orang. Kecelakaan Kamis menewaskan dua orang.

Dalam kecelakaan Rabu, derek di proyek jalan roboh, lalu menimpa kereta dari Bangkok ke Ubon Ratchathani. Korbannya antara lain pengantin yang baru beberapa hari menikah. Kecelakaan terjadi di Provinsi Nakhon Ratchasima.

Kepala Polda Nakhon Ratchasima Mayor Jenderal (Pol) Narongsak Promtha mengatakan, perwakilan kontraktor sedang diperiksa. Sejauh ini, belum ada dakwaan dikenai kepada siapa pun.

Sementara kecelakaan Kamis terjadi di Jalan Rama II, Samut Sakhon. Derek proyek jalan layang menimpa sejumlah mobil sehingga menewaskan dua orang dan melukai lima lainnya.

Rangkaian kecelakaan itu memicu pertanyaan atas manajemen keselamatan kerja di Thailand serta pada ITD. Apalagi, ITD diketahui terkait berbagai kecelakaan konstruksi lainnya.

Salah satu yang terburuk adalah menara yang roboh pada Maret 2025. Kecelakaan itu menewaskan 92 orang. Gedung roboh di tengah gempa Myanmar-Thailand. Meski demikian, gedung sekitar lokasi proyek baik-baik saja.

Sebanyak 23 individu dan perusahaan telah didakwa dalam kasus tersebut, termasuk presiden ITD dan direktur lokal perusahaan China Railway No 10, mitra usaha patungan proyek tersebut. Tuduhan yang ditujukan kepada mereka berupa kelalaian profesional yang menyebabkan kematian dan pemalsuan dokumen.

ITD diketahui mengerjakan berbagai proyek dengan nilai total 25 miliar baht. Proyek jalan di Nakhon Ratchasima dan Bangkok hanya sebagian dari kontrak yang dimenangi ITD.

Putus kontrak

Selepas kecelakaan Kamis, Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menyatakan akan mengakhiri kontrak dengan kontraktor proyek Jalan Rama II. Tol itu merupakan jalan arteri utama yang menghubungkan Bangkok dengan wilayah selatan Thailand.

”Telah terjadi tiga atau empat kali (kecelakaan konstruksi) oleh satu kontraktor. Pemerintah tidak nyaman membiarkan perusahaan seperti ini bekerja untuk pemerintah,” kata Anutin.

Pemerintah akan mencari kontraktor baru untuk menyelesaikan proyek-proyek yang belum selesai. Pembiayaan proyek belum selesai antara lain dengan hasil sitaan dari kontraktor yang diputus kontraknya. ”Pemerintah juga tetap berhak untuk menuntut mereka atas biaya tambahan,” lanjutnya.

Anutin juga mengatakan, pemerintah sedang menyelesaikan sistem ”kartu skor” untuk melacak catatan kinerja kontraktor. Peraturan itu diharapkan akan diberlakukan pada awal Februari.

Thailand saat ini tengah menyelesaikan sejumlah proyek infrastruktur besar. Pekerjaan konstruksi telah berlangsung selama bertahun-tahun untuk memperluas kapasitas jalan dan mengurangi kemacetan.

Namun, proyek mengalami penundaan dan kecelakaan fatal sehingga dijuluki ”Jalan Kematian”. Insiden mematikan pada Kamis pagi menjadi insiden terbaru pada proyek jalan tol itu. ”Derek roboh ke jalan di bawahnya,” kata Kolonel Sitthiporn Kasi, pengawas di kantor kepolisian setempat, kepada kantor berita Reuters.

Media lokal melaporkan, insiden Kamis itu terjadi di depan Paris Inn Garden Hotel. Rekaman menunjukkan awan debu dan puing-puing berserakan di lokasi setelah derek roboh. Sementara beberapa kendaraan menepi atau mundur untuk menghindari puing-puing yang berjatuhan.

Pengemudi ojek motor Booncherd La-orium mengatakan tidak lagi merasa aman mengemudi di daerah tersebut. ”Saya merinding hanya dengan memikirkan betapa berisikonya berada di sini. Itu bisa saja terjadi pada saya,” kata pria berusia 69 tahun itu kepada AFP.

Warga asing

Kementerian Luar Negeri Korea Selatan melaporkan, seorang pria Korea Selatan berusia akhir 30-an termasuk di antara korban tewas. Kemenlu Thailand mengumumkan pada Kamis bahwa seorang warga negara Jerman juga meninggal dalam kecelakaan tersebut. Menteri Perhubungan Thailand Ratchakitprakarn Phiphat telah memerintahkan penyelidikan penuh terkait insiden kereta itu.

Laporan Al Jazeera menyebutkan, kereta yang tertimpa derek tengah melayani penumpang di wilayah padat penduduk di timur laut Thailand. Sesuai rencana pembangunan, jalur rel kereta cepat akan berada di atas jalur rel eksisting. Operator kereta api nasional mengatakan telah memerintahkan Italian-Thai untuk menghentikan konstruksi hingga investigasi selesai.

Selain dua insiden mematikan tersebut, insiden konstruksi mematikan lain yang melibatkan Italthai adalah runtuhnya sebuah terowongan kereta api di jalur yang direncanakan pada Agustus 2024. Proyek terowongan itu berada di Nakhon Ratchasima dan menewaskan tiga pekerja. Anan Phonimdaeng, Penjabat Gubernur Perusahaan Kereta Api Negara Thailand, mengatakan, ITD merupakan kontraktor proyek tersebut.

Dalam catatan kepada bursa saham Thailand, ITD menyampaikan belasungkawa kepada para korban kecelakaan derek pada Kamis. Ithalthai juga mengatakan akan memberikan kompensasi. ”Perusahaan juga berjanji untuk meninjau dan meningkatkan langkah-langkah keselamatan agar lebih menyeluruh dan ketat ke depan,” demikian bunyi catatan itu.

Italian-Thai sebelumnya telah menjanjikan kompensasi kepada para korban runtuhnya derek dan tergelincirnya kereta pada Rabu.

Duta Besar China untuk Thailand Zhang Jianwei turut menyampaikan belasungkawa atas runtuhnya derek proyek kereta api kepada PM Anutin. Ia juga berjanji untuk memberikan kerja sama penuh dan transparansi dalam penyelidikan. Ia menekankan pentingnya proyek itu bagi kerja sama strategis bilateral. 

Sumber: kompas.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *