Tim woodball putra Indonesia hanya berhasil meraih perak pada nomor fairway setelah kalah 1-2 dari Thailand di Royal Thai Fleet Golf Course, Chonburi, Thailand, Jumat (12/12/2025). Thailand berhak merebut medal emas dan Malaysia harus puas dengan perunggu.
Tim putri fairway Indonesia juga harus puas dengan medali perak meskipun mengalahkan Malaysia 2-1 pada laga terakhir. Medali emas diraih oleh tim putri Thailand karena Indonesia kalah saat bertemu Thailand. Adapun Malaysia berada di posisi ketiga dengan medali perunggu.
Persaingan di babak final putra begitu ketat. Tim Indonesia dan Thailand saling berusaha mengejar dengan segala cara. Meskipun pemain ganda putra Indonesia Rifqi Najmuddin Najib sempat melakukan gate in one alias sekali pukul langsung masuk, hasil itu tidak cukup untuk mengejar Thailand. Tim putra fairway beranggotakan 6 orang termasuk cadangan. Mereka adalah Surya Aditya Pratama, Rifqi Najmuddin Najib, Gede Prabawa Darma Nugraha Mapet, Muhamad Khadiq, Alberthus Nathan Yusanto, dan Gusti Putu Eddy Supriyadinata.
Pada nomor single Gede Prabawa Darma Nugraha Mapet kalah 3-7 dan Surya Aditya Pratama kalah 1-7 (12 gate). Pada nomor ganda, Alberthus Nathan Yusanto/Rifqi Najmuddin Najib menang 4-3 ( 12 gate ).
Sementara itu, laga tim putri Indonesia berlangsung sengit melawan Malaysia. Tim putri Indonesia beranggotakan 5 orang, termasuk cadangan. Mereka adalah Ni Luh Made Tahlia Saraswati, Dwi Tiga Putri, Ni Luh Manik Purwati, Nur Hafifa Syarah, dan Nur’izza Nova Mindayati.
Pada nomor single, Nur Hafifa Syarah kalah 3-5 dan Dwi Tiga Putri menang 6-3 (12 gate). Pada nomor ganda, Ni Luh Manik Purwati/Nur’izza Nova Mindayati menang 4-3 (12 gate).
Meskipun meleset dari target emas, kedua tim puas dengan hasil tersebut. ”Rasanya bersyukur banget karena ini pertama kali berlaga di SEA Games. Harapannya emas, dikasih perak. Ke depannya akan memperbaiki teknik dan segala sesuatunya untuk mendapatkan medali emas kompetisi berikutnya,” ujar Muhammad Khadiq (30).
Begitupula dengan Dwi Tiga Putri (36) yang bersyukur mendapat medali perak pada SEA Games pertama woodball, ”Bersyukur meskipun belum maksimal meraih medali emas, dari sini kita dapat pelajaran luas biasa juga untuk SEA Games ke depan harus lebih baik lagi dan merebut medali emas di kompetisi SEA Games maupun kompetisi lainnya,” kata Putri.
Perjuangan untuk meraih medali emas woodball di SEA Games Thailand 2025 belum berakhir karena masih ada kategori single stroke putra dan purti, serta tim stroke putra dan putri.
Aang Sunadji, selaku Ketua Umum PB Indonesia Woodball Association (IWbA), mengatakan, SEA Games ini merupakan multievent internasional pertama yang mengadakan kompetisi woodball sehingga membawa beban yang berbeda meskipun secara individu ada dua atlet yang menjadi peringkat pertama dunia tahun 2025, yakni Siti Masithah dan Ahris Sumariyanto yang berkompetisi di nomor stroke putra dan putri.
”Meskipun belum dapat emas, banyak pelajaran luar biasa yang kami dapatkan. SEA Games berikutnya kami harus rebut emas. Semua tim kuat dan punya peluang. Kami harus meningkatkan kualitas diri. Secara keseluruhan, lapangan sudah standar internasional sesuai regulasi federasi, dan kami bisa memaksimalkan daya tahan di event ini,” kata Aang.
Sebelumnya, tim woodball Indonesia pernah menunjukkan performa gemilang dalam Hong Kong International Open Championship 2025 dan menjadi juara umum dengan meraih 8 medali emas, 3 perak, dan 1 perunggu dari sembilan nomor.
Kala itu Indonesia mengerahkan 23 atlet, 3 pelatih, dan 1 manajer pada 18-19 Oktober 2025. Karena itu untuk menghadapi tekanan psikologis di ajang multievent ini, Aang langsung menerbangkan psikolog atau mental trainer langsung ke Thailand untuk mendampingi para atlet baik saat kompetisi berlangsung maupun diluar kompetisi.
Tertunda 2,5 jam karena Ratu Thailand
Di sisi lain penyisihan cabang layar SEA Games 2025 digelar di hari dan lokasi yang bersamaan. Final woodball yang seharusnya berlangsung pukul 13.00 waktu setempat harus tertunda 2,5 jam lamanya karena menunggu Ratu Thailand meninggalkan arena layar di Samudara Klia Yatching Center, Sattahip.
Ratu Thailand Suthida Bajrasudhabimalalakshana merupakan atlet cabang layar yang bertanding sebagai navigator tim Thailand, melanjutkan tradisi olahraga kerajaan. Penjagaan di sekitar arena diperketat dengan lebih banyak tentara Kerajaan Thailand yang berjaga di sekitar arena. Helikopter kerajaan juga disiapkan untuk transportasi ratu beserta tiga helikopter pengawalnya.
Arena layar berada sekitar 500 meter dari Royal Thai Fleet Golf Course yang menjadi arena woodball. Kawasan kedua venue merupakan kawasan militer Kerajaan Thailand dengan penjagaan yang ketat saat memasuki kawasan ini. Pertandingan final woodball baru dimulai sekitar pukul 15.30 atau mundur 2,5 jam karena menunggu ratu beserta rombongan helikopternya meninggalkan lokasi.
Sumber: kompas.id

